Studi: El Nino Kuat Percepat Kenaikan Permukaan Laut Global
Nama El Nino selama ini lebih sering disebut-sebut saat musim kemarau datang lebih awal atau ketika kebakaran hutan meluas di sejumlah wilayah. Padahal, dampak fenomena iklim ini jauh lebih luas darip...
Nama El Nino selama ini lebih sering disebut-sebut saat musim kemarau datang lebih awal atau ketika kebakaran hutan meluas di sejumlah wilayah. Padahal, dampak fenomena iklim ini jauh lebih luas daripada sekadar kekeringan. Temuan terbaru dari para peneliti menunjukkan bahwa El Nino yang berkekuatan besar juga ikut mendorong naiknya permukaan laut dunia, sebuah efek yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak.
Mekanisme yang mendasari temuan tersebut berpangkal pada perilaku samudra saat menerima tambahan panas. Pada saat El Nino berlangsung, suhu permukaan air di kawasan Pasifik tropis meningkat jauh dari angka normalnya. Lapisan air yang menghangat ini kemudian memuai, dan pemuaian tersebut secara langsung mendongkrak tinggi muka laut. Artinya, semakin kuat El Nino yang terjadi, semakin besar pula dorongan terhadap permukaan air laut secara global.
Panas yang mengubah volume samudra
Dalam dunia sains kelautan, peristiwa pemuaian air laut akibat kenaikan suhu dikenal sebagai ekspansi termal. Proses ini menjadi salah satu penyumbang utama naiknya permukaan laut, setara dengan mencairnya lapisan es di kawasan kutub. Pada periode El Nino kuat, sumbangan ekspansi termal menjadi lebih menonjol lantaran suhu permukaan laut bisa melampaui rata-rata historisnya dalam waktu berbulan-bulan.
Selain pemanasan, El Nino juga mengubah peta distribusi massa air di samudra. Angin pasat yang biasanya kuat menahan air hangat di bagian barat Pasifik mulai melemah. Akibatnya, sejumlah besar air hangat bergeser ke arah timur dan menyebar ke wilayah lain. Perpindahan massa air berskala raksasa ini menyebabkan tinggi permukaan laut di suatu kawasan bisa berubah secara cepat, baik naik maupun turun, tergantung posisi geografisnya.
Tekanan tambahan bagi wilayah pesisir
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir, kabar ini tentu bukan hal yang menggembirakan. Kenaikan permukaan laut yang berjalan lambat selama ini saja sudah cukup merepotkan, terlihat dari semakin seringnya banjir rob dan abrasi pantai di berbagai negara. Ketika El Nino kuat datang, lonjakan tambahan di atas tren kenaikan jangka panjang bisa mempercepat kerusakan infrastruktur pesisir, mempersempit ruang hunian, serta mengancam lahan pertanian di dekat pantai.
Kawasan yang paling rentan adalah negara-negara kepulauan dan dataran rendah yang sebagian besar wilayahnya berada tidak jauh dari bibir laut. Bagi mereka, setiap sentimeter tambahan tinggi air laut memiliki arti yang sangat besar. Gelombang pasang yang semula masih bisa ditahan tanggul, dalam kondisi ekstrem bisa dengan mudah melintas dan membanjiri permukiman.
Yang menjadi kekhawatiran lain adalah efek gabungan antara El Nino kuat dan pemanasan global. Kenaikan permukaan laut yang terjadi secara alami dalam siklus El Nino kini ditumpangi oleh kecenderungan jangka panjang akibat aktivitas manusia. Kombinasi keduanya membuat lonjakan muka laut pada tahun-tahun El Nino menjadi semakin ekstrem dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan
Karena dampaknya yang meluas, para peneliti menilai pemantauan terhadap El Nino perlu terus diperkuat. Data dari satelit pemantau laut, pelampung pengukur suhu, serta jaringan observasi di berbagai negara kini menjadi andalan untuk memprediksi seberapa besar lonjakan permukaan laut pada musim-musim tertentu. Informasi tersebut, jika disampaikan lebih awal, bisa menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah antisipasi.
Upaya mitigasi di tingkat lokal juga dinilai sama pentingnya. Pembangunan tanggul laut, restorasi hutan bakau, hingga penataan ulang kawasan permukiman pesisir merupakan sejumlah langkah yang bisa dikebut untuk menekan risiko. Hutan bakau, misalnya, terbukti mampu meredam energi gelombang sekaligus menahan laju abrasi, sehingga keberadaannya menjadi semacam benteng alami bagi masyarakat pesisir.
Di sisi lain, temuan ini juga mengingatkan bahwa pengendalian emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah paling mendasar. Sebab, makin panas planet ini, makin besar pula energi yang tersimpan di dalam samudra, dan makin cepat pula permukaan laut merespons setiap gangguan iklim. Menekan laju pemanasan berarti menahan laju kenaikan permukaan air laut dalam jangka panjang.
Kesimpulannya, El Nino bukan lagi sekadar fenomena yang memicu kekeringan dan gagal panen. Ia adalah pengingat bahwa sistem iklim bumi saling terhubung, dan gangguan di satu kawasan bisa memicu getaran di kawasan lain. Memahami keterkaitan semacam ini menjadi bekal penting bagi umat manusia untuk hidup berdampingan dengan alam yang semakin tidak menentu.
Comments (0)