Skandal Etomidate: Kasat Narkoba Polres Tangsel dan Lima Anggota Ditangkap Bareskrim

JAKARTA — Aparat penegak hukum dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengguncang institusi kepolisian daerah setelah melakukan operasi penangkapan terhadap enam personel aktif yang bertuga...

Jul 28, 2026 - 03:53
0 0
Skandal Etomidate: Kasat Narkoba Polres Tangsel dan Lima Anggota Ditangkap Bareskrim

JAKARTA — Aparat penegak hukum dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengguncang institusi kepolisian daerah setelah melakukan operasi penangkapan terhadap enam personel aktif yang bertugas di lingkungan Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Tangerang Selatan. Penangkapan yang dipimpin langsung oleh penyidik Badan Reserse Kriminal ini menyeret sosok perwira menengah yang menjabat sebagai kepala satuan bersama lima orang anak buahnya ke dalam jeratan hukum akibat dugaan keterlibatan serius dalam penyalahgunaan zat psikoaktif bernama etomidate.

Pimpinan Satuan Jadi Tersangka

Keenam individu yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka bukanlah nama sembarangan di lingkup kerja pemberantasan narkotika wilayah Tangerang Selatan. Mereka merupakan aparatur yang kesehariannya justru bertugas menangkap pengedar dan pengguna narkoba, sebuah ironi yang menambah kadar keterkejutan publik terhadap pengungkapan ini. Jabatan Kasat Narkoba yang disandang oleh salah satu tersangka menempatkan kasus ini pada level yang amat memprihatinkan, mengingat posisi tersebut seharusnya menjadi teladan sekaligus benteng terdepan dalam memerangi peredaran gelap obat-obatan terlarang. Kelima anggota lain yang turut diamankan diketahui memiliki peran operasional mulai dari penyelidik hingga penindak lapangan, menunjukkan bahwa praktik menyimpang ini diduga telah berlangsung secara terstruktur dan melibatkan rantai komando di dalam satuan tersebut.

Mengenal Etomidate dan Bahayanya

Etomidate sesungguhnya merupakan senyawa anestesi intravena yang lazim digunakan dalam prosedur medis untuk menginduksi hilangnya kesadaran pasien sebelum tindakan operasi. Zat ini bekerja dengan cepat menekan aktivitas sistem saraf pusat dan memiliki indeks terapeutik yang relatif sempit, sehingga penggunaannya memerlukan pengawasan ketat dari tenaga dokter anestesi yang kompeten. Di luar konteks klinis, penyalahgunaan etomidate membawa risiko fatal berupa depresi pernapasan akut, gangguan irama jantung yang mengancam jiwa, hingga kerusakan permanen pada kelenjar adrenal. Fenomena penyimpangan penggunaan obat anestesi ini sebenarnya telah menjadi perhatian global, namun masuknya zat tersebut ke dalam lingkaran oknum penegak hukum menandakan adanya celah serius dalam sistem pengawasan internal maupun distribusi farmasi yang selama ini dianggap aman.

Jejak Penyelidikan dan Pengungkapan

Informasi awal mengenai keterlibatan para oknum ini bermula dari rangkaian pendalaman yang dilakukan oleh tim internal Bareskrim terhadap pola-pola penanganan perkara narkotika di wilayah Tangerang Selatan. Kecurigaan mulai mencuat ketika ditemukan sejumlah kejanggalan dalam administrasi barang bukti hasil sitaan yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasional. Tim penyidik kemudian mengembangkan temuan tersebut melalui pemantauan tertutup dan pengumpulan keterangan dari berbagai sumber, hingga akhirnya memperoleh bukti permulaan yang cukup untuk melakukan penindakan. Operasi penangkapan dilakukan secara serentak dan terukur untuk mencegah potensi penghilangan alat bukti maupun upaya melarikan diri dari para tersangka. Seluruh proses ini dikawal dengan pengamanan berlapis demi menjaga integritas penyidikan dan mencegah intervensi dari pihak-pihak yang masih memiliki hubungan struktural dengan para pelaku.

Pelanggaran Berat terhadap Kode Etik Profesi

Tindakan yang dilakukan oleh keenam anggota Polres Tangsel ini tidak sekadar melanggar ketentuan pidana umum, melainkan juga merupakan pengkhianatan terhadap sumpah jabatan dan kode etik profesi kepolisian yang mereka emban. Satuan Reserse Narkoba dibentuk dengan mandat khusus untuk memerangi kejahatan narkotika yang menjadi musuh bersama bangsa, namun justru segelintir personelnya memilih berkhianat dengan menjadi bagian dari rantai permasalahan yang seharusnya mereka putus. Pelanggaran etik berat semacam ini membawa konsekuensi berlapis, mulai dari proses pidana yang akan berjalan di peradilan umum hingga potensi pemecatan tidak hormat melalui mekanisme sidang Komisi Kode Etik Polri. Bareskrim menegaskan bahwa tidak akan ada toleransi terhadap siapa pun yang menciderai marwah institusi, apalagi mereka yang berasal dari satuan khusus penegakan hukum narkotika.

Dampak Sistemik dan Kepercayaan Publik

Terungkapnya fakta bahwa oknum-oknum ini berhasil beroperasi di bawah bayang-bayang kewenangan yang mereka miliki menimbulkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas mekanisme pengawasan berlapis di tubuh Polri. Publik kini mempertanyakan sejauh mana praktik serupa mungkin telah menyebar ke satuan-satuan narkoba lain di berbagai daerah tanpa terdeteksi oleh sistem pengendalian internal yang ada. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum, yang pembangunannya membutuhkan waktu bertahun-tahun dan kerja keras tanpa henti, berpotensi terkikis secara signifikan akibat ulah segelintir personel yang menyalahgunakan amanah. Diperlukan langkah-langkah pemulihan kredibilitas yang terukur, transparan, dan berkelanjutan agar institusi Polri tetap mampu menjalankan fungsi dasarnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat tanpa dibayangi stigma negatif dari peristiwa semacam ini.

Komitmen Pemberantasan dari Dalam

Bareskrim Polri menekankan bahwa penangkapan ini merupakan bukti nyata keseriusan institusi dalam menjalankan fungsi pembersihan internal secara tuntas. Tidak ada tempat bagi personel bermasalah untuk berlindung di balik seragam dan wewenang jabatannya. Proses penyidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan lebih luas atau keterlibatan pihak-pihak lain di luar enam tersangka yang telah diamankan. Institusi kepolisian berjanji akan menyampaikan perkembangan penanganan perkara ini kepada publik secara berkala sebagai wujud akuntabilitas dan transparansi. Langkah tegas ini diharapkan mampu memberikan efek jera sekaligus menjadi peringatan keras bagi seluruh jajaran bahwa pelanggaran serius, apa pun jabatan dan posisinya, akan ditindak tanpa kompromi demi menjaga kehormatan dan integritas Korps Bhayangkara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User