SEMARANG — Kemenag Izinkan Dana Infak Dipakai Tangani Karhutla
Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saban tahun mengintai berbagai wilayah Indonesia kini mendapat perhatian serius dari sektor keuan
Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saban tahun mengintai berbagai wilayah Indonesia kini mendapat perhatian serius dari sektor keuangan sosial Islam. Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia secara resmi mengonfirmasi bahwa potensi dana infak dan sedekah yang dihimpun oleh lembaga-lembaga zakat nasional dapat dialokasikan secara fleksibel untuk mendukung operasional penanganan karhutla. Langkah strategis ini dinilai sebagai terobosan penting dalam mengoptimalkan dana filantropi Umat Islam guna merespons krisis lingkungan dan bencana kemanusiaan secara cepat.
Fleksibilitas Dana Infak untuk Penanganan Krisis Lingkungan
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menegaskan peran vital instrumen keuangan syariah di luar zakat dalam menanggulangi karhutla yang terus merusak ekosistem dan mengancam kesehatan publik. Menurutnya, berbeda dengan zakat yang terikat aturan ketat alokasi delapan golongan penerima (asnaf), dana infak dan sedekah memiliki ruang kewenangan yang jauh lebih luas untuk membiayai fasilitas serta kepentingan publik secara darurat.
"Kalau infak dan sedekah sangat mungkin digunakan untuk berbagai macam kebutuhan publik ya, termasuk juga penanganan karhutla itu," tegas Abu Rokhmad di sela acara Forum Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Nasional di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang.
Penggunaan alokasi dana sosial ini diharapkan mampu menyokong berbagai kebutuhan mendesak di lapangan, di antaranya:
- Dukungan logistik dan perlengkapan perlindungan bagi personel pemadam kebakaran.
- Bantuan medis dan evakuasi bagi warga yang terdampak paparan kabut asap beracun.
- Pengadaan sarana pemadaman darurat serta pendistribusian air bersih di titik-titik bencana.
Sinergi Pendekatan Lahiriah dan Batiniah dalam Mitigasi Bencana
Dalam meminimalisasi dampak ekologis karhutla, Kemenag mendorong pendekatan komprehensif yang memadukan aksi fisik di lapangan dengan ikhtiar spiritual. Langkah lahiriah berupa bantuan pendanaan operasional diimbangi secara aktif oleh Kemenag melalui mobilisasi jaringan keagamaan hingga ke tingkat tapak.
Kemenag menginstruksikan para penyuluh agama di daerah rawan bencana untuk aktif memimpin ritual keagamaan bersama masyarakat setempat. Pelaksanaan Salat Istisqa (salat memohon hujan) serta pembacaan selawat nariyah digalakkan sebagai bentuk permohonan batiniah agar penanganan karhutla mendapatkan kemudahan.
| Kategori Ikhtiar | Bentuk Intervensi Konkret | Sumber Daya & Pelaksana |
|---|---|---|
| Lahiriah (Fisik) | Dukungan pemadaman, bantuan logistik, pemulihan medis, dan konservasi lahan. | Dana Infak, Sedekah, LAZ, dan BAZNAS |
| Batiniah (Spiritual) | Salat Istisqa serentak, pembacaan selawat nariyah, dan edukasi keagamaan. | Penyuluh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Jamiah |
Program Wakaf Ekoteologi sebagai Solusi Jangka Panjang
Tidak hanya berfokus pada aksi tanggap darurat saat bencana terjadi, Kemenag juga menginisiasi langkah antisipatif jangka panjang melalui program Wakaf Ekoteologi. Program ini dirancang untuk mengatasi masalah degradasi lingkungan dan pemanasan global yang menjadi pemicu utama maraknya kasus kebakaran hutan.
Melalui konsep ini, aset tanah yang diwakafkan oleh masyarakat tidak sekadar diperuntukkan bagi bangunan fisik seperti masjid atau madrasah, tetapi difungsikan khusus sebagai kawasan hijau pelestarian lingkungan. Tanah-tanah wakaf tersebut akan ditanami berbagai jenis pohon produktif dan vegetasi pelindung guna mengembalikan fungsi penyerapan air tanah serta mencegah kekeringan ekstrem.
"Melalui pendekatan ekoteologi, kita ingin memastikan bahwa filantropi Islam bergerak aktif menjaga keberlanjutan bumi dan mencegah bencana alam di masa depan," tambah pihak Kemenag. Integrasi antara ajaran agama dan pelestarian lingkungan ini diharapkan mampu menjadi model baru dalam pengelolaan dana keagamaan yang adaptif terhadap perubahan iklim global.
Selain aksi fisik di lapangan, Kemenag juga menggelar ikhtiar batin melalui Salat Istisqa serta meluncurkan program Wakaf Ekoteologi untuk penghijauan lahan jangka panjang. Baca artikel selengkapnya di Patokan.com!



Comments (0)