Sekolah Gratis Banten Buka Jalan Baru bagi Anak Buruh

Serang — Senyum tak mampu disembunyikan Sarbini saat menatap seragam putih-biru yang dikenakan putranya, Nabil. Di tengah upah harian yang tak menentu sebagai buruh lepas, membayangkan menyekolahkan...

Jul 16, 2026 - 13:01
0 0
Sekolah Gratis Banten Buka Jalan Baru bagi Anak Buruh

Serang — Senyum tak mampu disembunyikan Sarbini saat menatap seragam putih-biru yang dikenakan putranya, Nabil. Di tengah upah harian yang tak menentu sebagai buruh lepas, membayangkan menyekolahkan anak hingga jenjang menengah sempat terasa seperti utopia. Kini, keresahan itu perlahan sirna berkat Program Sekolah Gratis yang digulirkan Pemerintah Provinsi Banten.

Jaring Pengaman bagi Keluarga Rentan

Program yang menyasar anak dari keluarga pekerja informal dan buruh berpenghasilan rendah ini hadir sebagai angin segar. Tidak sekadar meniadakan biaya SPP, beasiswa penuh yang diberikan mencakup uang seragam, buku, hingga perlengkapan penunjang belajar lainnya. Bagi Sarbini, yang selama ini nyaris separuh pendapatannya habis untuk kebutuhan sekolah Nabil, program ini membebaskan ruang napas ekonomi rumah tangga.

“Dulu setiap awal bulan saya waswas. Sekarang, setidaknya biaya sekolah tidak lagi jadi beban utama,” ujar pria 47 tahun itu sambil mengelus bahu putranya. Nabil, siswa kelas VIII SMP, mengaku lebih tenang menyambut hari depan tanpa dibayangi ancaman putus sekolah.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2026/2027, penerima manfaat program ini melonjak hingga lebih dari 30 ribu siswa. Angka tersebut mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA sederajat yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Gubernur Banten menegaskan, anggaran sebesar Rp 240 miliar telah dialokasikan untuk memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal karena alasan ekonomi.

Tak Sekadar Subsidi, tapi Investasi Masa Depan

Pengamat pendidikan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Rina Marlina, menilai langkah tersebut sebagai terobosan strategis. “Ini bukan sekadar bantuan sosial jangka pendek, melainkan investasi sumber daya manusia. Jika konsisten, dalam satu dasawarsa kita bisa melihat penurunan angka putus sekolah secara signifikan,” katanya. Ia menambahkan, keberhasilan program sangat bergantung pada ketepatan sasaran dan pengawasan distribusi bantuan.

Pemprov Banten sendiri menggandeng pemerintah desa dan kelurahan untuk memverifikasi data calon penerima. Basis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) menjadi acuan awal, lalu dilengkapi dengan survei lapangan oleh petugas. Mekanisme berlapis ini diharapkan mampu meminimalkan kebocoran dan memastikan bantuan tepat menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Dari Bilik Sederhana, Harapan Tumbuh

Sarbini hanyalah satu dari ribuan wajah yang kisahnya merepresentasikan pertarungan sehari-hari kelas pekerja informal. Sebagai buruh bangunan yang upahnya dihitung per hari, tak ada kepastian pendapatan. Saat proyek sepi, ia beralih menjadi tukang ojek atau kuli panggul di pasar. Ketidakpastian itulah yang selama ini membayangi pendidikan Nabil.

“Kalau tidak ada program ini, mungkin selepas SD Nabil sudah saya ajak kerja serabutan. Bukan saya tega, tapi keadaan yang memaksa,” kenangnya lirih. Namun kini, Nabil justru bercita-cita menjadi teknisi listrik. Buku-buku praktik yang didapat dari sekolah menggugah minatnya pada dunia kelistrikan. “Saya ingin bisa perbaiki rumah-rumah yang kabelnya rusak,” celoteh Nabil polos.

Dukungan Penuh Hingga Jenjang Atas

Tak berhenti di pendidikan dasar, Pemprov juga membuka akses bagi siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu untuk melanjutkan ke SMA dan SMK unggulan. Bahkan, terdapat jalur khusus yang memungkinkan lulusan program ini mendapatkan beasiswa lanjutan ke perguruan tinggi melalui kerja sama dengan kampus-kampus di Banten. Kepala Dinas Pendidikan menyebut, pihaknya tengah merintis skema matching fund dengan dunia industri agar lulusan SMK langsung terserap kerja atau magang bersertifikat.

“Kami ingin memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Caranya dengan memastikan anak-anak ini punya ijazah, keterampilan, dan akses ke pekerjaan layak,” tegasnya dalam sebuah kesempatan.

Di tingkat lapangan, respons masyarakat cukup positif meski masih ada catatan. Sejumlah orang tua mengeluhkan keterlambatan pencairan dana bantuan perlengkapan yang kerap terjadi di awal semester. Namun, Dinas Pendidikan berjanji akan memperbaiki sistem penyaluran dengan aplikasi terintegrasi yang kini dalam tahap uji coba.

Cahaya di Ujung Lorong Sempit

Bagi keluarga seperti Sarbini, angka-angka kebijakan itu menjelma dalam wujud yang lebih sederhana: anaknya tetap bisa bermimpi. Ketika senja turun di kontrakan sempit mereka di kawasan Serang Timur, Nabil masih semangat mengerjakan tugas sekolah di bawah lampu temaram. Suara gemeresik halaman buku dan sesekali decak kagum pada gambar-gambar teknik menjadi simfoni kecil yang sebelumnya nyaris padam.

Sarbini mengaku tak banyak yang bisa ia janjikan pada anaknya. Namun setidaknya, berkat program ini, ia bisa memberikan satu hal yang paling mahal bagi seorang buruh: kesempatan. “Rezeki bisa dicari, tapi pendidikan cuma datang sekali. Saya cuma ingin Nabil hidup lebih enak dari saya,” tutupnya.

Program Sekolah Gratis Banten membuktikan bahwa di balik angka kemiskinan dan keterbatasan, selalu ada ruang untuk intervensi kebijakan yang tepat. Bukan sekadar kertas dan seragam, melainkan jalan baru yang membentang bagi mereka yang selama ini berjalan di lorong sempit kehidupan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User