Sebelum Tewas, Pencuri Ayam di Buleleng Serahkan Uang Sekolah Anak
Buleleng, Bali – Sebuah ironi menyelimuti Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Seorang pria paruh baya yang belakangan diketahui sebagai terduga pencuri ayam, ditemukan dalam k...
Buleleng, Bali – Sebuah ironi menyelimuti Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Seorang pria paruh baya yang belakangan diketahui sebagai terduga pencuri ayam, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah tiga hari menghilang. Hal yang paling menusuk nurani, sebelum maut menjemput, pria berinisial KD itu sempat menyerahkan sejumlah uang untuk keperluan gedung sekolah anaknya.
Uang senilai Rp2,7 juta itu ia berikan langsung kepada pihak sekolah dasar tempat putranya menimba ilmu. Tindakan yang sekilas tampak sebagai wujud tanggung jawab seorang ayah ini kini menjadi cerita pilu yang mengundang tanya lebih dalam: apakah di balik pencurian ayam yang ia lakukan, tersimpan perjuangan putus asa seorang kepala keluarga?
Kenekatan di Balik Desakan Ekonomi
Desa Sidatapa, yang terletak di dataran tinggi Buleleng, selama beberapa pekan terakhir diresahkan oleh serangkaian pencurian ayam. Warga yang mayoritas menggantungkan hidup dari pertanian dan peternakan kecil-kecilan mengaku kehilangan puluhan ekor ayam dalam semalam. Pelaku selalu bergerak sunyi dan meninggalkan jejak minimal. Hingga akhirnya, kecurigaan jatuh pada KD, seorang warga asli desa yang dikenal pendiam dan jarang bergaul.
Menurut keterangan tetangga, KD bukanlah residivis. Ia hanyalah buruh tani serabutan dengan penghasilan pas-pasan. “Dia tidak banyak bicara, tapi kalau ditanya soal anaknya, matanya berbinar. Anaknya itu pintar, selalu ranking di kelas,” ujar salah seorang tetangga yang enggan disebut namanya.
Desakan ekonomi dan keinginan melihat anaknya tetap bersekolah dengan layak diduga menjadi pemicu kenekatannya mengambil jalan pintas. Sekolah dasar tempat anaknya belajar baru-baru ini memang sedang menggalang dana partisipasi orang tua untuk renovasi gedung yang sudah lapuk. KD, yang tak mampu menyumbang dari hasil keringat halal, rupanya memilih jalan lain.
Uang Gedung Sekolah yang Menjadi Petaka
Kepala sekolah SD setempat, Ni Ketut Sari, membenarkan bahwa KD memang datang seorang diri pada pagi hari tiga hari sebelum jasadnya ditemukan. “Beliau datang membawa amplop cokelat, berisi uang tunai Rp2,7 juta. Katanya, ini untuk iuran perbaikan gedung. Saya sempat terkejut karena biasanya beliau selalu menunda-nunda pembayaran,” tutur Sari saat ditemui di ruang kerjanya. Pihak sekolah menerima sumbangan itu tanpa curiga. Bagi mereka, itu hanyalah bukti bahwa orang tua mana pun ingin memberikan yang terbaik bagi pendidikan anaknya.
Setelah menyerahkan uang, KD sempat menemui anaknya yang sedang istirahat. Beberapa murid melihat ia memeluk sang anak cukup lama, lalu pergi dengan langkah tergesa. Sejak saat itu, ia tak pernah kembali ke rumahnya yang sederhana di ujung desa. Istrinya, M (34), mulai cemas ketika malam pertama KD tak kunjung pulang. “Biasanya dia hanya pergi pagi, sore sudah di rumah. Tapi kali ini berbeda,” katanya sambil menahan isak tangis. Puncak kecemasan memuncak ketika hari ketiga tanpa kabar.
Tiga Hari Tanpa Jejak
Kabar hilangnya KD dengan cepat menyebar. Warga yang sebelumnya geram oleh aksi pencurian ayam mulai dihinggapi rasa iba. Beberapa pemuda desa bersama perangkat desa akhirnya menggelar pencarian di sekitar perbukitan dan jurang yang mengelilingi Sidatapa. Medan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu menyulitkan upaya pencarian. Hingga akhirnya, di sebuah lereng curam sekitar dua kilometer dari permukiman, mereka menemukan sosok yang sudah tidak bernyawa.
“Posisinya tergeletak di antara semak-semak, dengan luka di beberapa bagian tubuh. Kami langsung menghubungi pihak berwajib,” ujar Kepala Desa Sidatapa, I Gede Pasek. Tim identifikasi dari Polres Buleleng yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Jasad KD kemudian dibawa ke RSUD Buleleng untuk keperluan otopsi. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil resmi, namun dugaan sementara mengarah pada kekerasan fisik akibat aksi main hakim sendiri.
Antara Main Hakim Sendiri dan Misteri Kematian
Isu bahwa KD menjadi korban amuk massa yang kesal karena pencurian ayam merebak cepat. Beberapa warga yang diwawancarai secara terpisah mengakui bahwa pada hari kepergiannya, KD sempat terlihat diamankan oleh sejumlah orang di pinggir desa. “Ada yang bilang dia diinterogasi, lalu dibawa entah ke mana. Tapi tidak ada yang berani buka suara lebih jauh,” tutur seorang pemuda yang ikut dalam pencarian.
Kapolsek Banjar, AKP Made Dwi Putra, menyatakan bahwa pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. “Kami belum bisa memastikan apakah ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan. Namun, kami menemukan luka lebam di beberapa bagian tubuh korban. Kami akan mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya. Ia juga mengimbau warga untuk tidak bertindak sendiri. Sebab, bagaimanapun juga, proses hukum adalah jalur yang semestinya ditempuh.
Pelajaran bagi Masyarakat
Kisah KD seakan menjadi cermin buram realitas sosial di mana himpitan ekonomi mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal, namun di sisi lain ia tetap memiliki naluri kebapakan yang kuat. Uang Rp2,7 juta yang ia kumpulkan dengan cara salah itu akhirnya sampai juga di meja sekolah, namun ia sendiri tak sempat melihat senyum anaknya belajar di gedung yang diperbaiki.
Pakar sosiologi dari Universitas Udayana, Dr. I Wayan Sudirta, menilai kejadian ini sebagai buah dari ketimpangan dan minimnya jaring pengaman sosial. “Orang kecil yang terdesak seringkali mencari jalan pintas. Tapi yang perlu dicatat, dia tidak menikmati sendiri hasil curiannya. Dia memprioritaskan pendidikan anaknya. Ini paradoks yang menyedihkan,” ujarnya. Ia menambahkan, pemerintah desa dan daerah semestinya lebih peka terhadap kondisi warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak lagi ada yang mengambil risiko sia-sia hanya untuk membiayai anaknya sekolah.
Sementara itu, di rumah duka, Istrinya M bersama putra semata wayang mereka masih terpukul. Bocah berusia 10 tahun itu menggenggam erat rapor yang nilainya nyaris sempurna. “Ayah janji mau datang ke sekolah lihat aku terima penghargaan,” lirihnya. Amplop cokelat yang sempat berpindah tangan kini menjadi saksi bisu perjuangan kelam seorang ayah, yang mungkin tidak akan pernah dimengerti sepenuhnya oleh siapa pun.
Pihak sekolah berencana menggunakan sumbangan itu untuk membangun satu ruang kelas baru yang nantinya akan diabadikan dengan nama KD sebagai bentuk penghormatan—bukan atas pencurian ayam yang ia lakukan, melainkan atas cintanya yang begitu besar pada pendidikan sang buah hati. Rencana ini masih menunggu persetujuan komite sekolah, tetapi telah memicu diskusi hangat di antara warga tentang makna pengorbanan dan keadilan.
Penutup
Kejadian ini menjadi pengingat getir bahwa di balik berita kriminal, selalu terselip narasi kemanusiaan yang rumit. KD mungkin bersalah menurut hukum, tetapi sebagai seorang ayah, ia telah memberikan apa yang ia miliki—meski dengan cara yang salah—untuk masa depan anaknya. Sidatapa kini tak hanya berduka atas kematian yang tragis, tapi juga merenungi batas antara belas kasih dan keadilan.
Polisi berjanji akan menyelesaikan penyelidikan dalam waktu dekat. Warga pun diharapkan dapat menahan diri dan menyerahkan seluruh proses hukum pada aparat yang berwenang. Luka di tubuh KD telah menutup kisahnya, tetapi pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang paling dirugikan dalam pusaran kemiskinan ini mungkin akan terus menggantung di langit desa itu.
Comments (0)