Saat Gunung Es Raksasa Greenland Tiba-tiba Terbalik dan Memicu Gelombang Dahsyat

Sebuah peristiwa alam yang langka sekaligus menakutkan terjadi di perairan sekitar Ilulissat, Greenland, pada Sabtu, 25 Juli. Satu gunung es dengan ukuran kolosal tiba-tiba jungkir balik di lepas pant...

Jul 28, 2026 - 05:28
0 0
Saat Gunung Es Raksasa Greenland Tiba-tiba Terbalik dan Memicu Gelombang Dahsyat

Sebuah peristiwa alam yang langka sekaligus menakutkan terjadi di perairan sekitar Ilulissat, Greenland, pada Sabtu, 25 Juli. Satu gunung es dengan ukuran kolosal tiba-tiba jungkir balik di lepas pantai, menciptakan pemandangan dramatis serta menimbulkan rangkaian gelombang mengejutkan yang mengancam kapal-kapal kecil di sekitarnya. Fenomena ini seketika menjadi perbincangan hangat setelah sejumlah wisatawan berhasil mengabadikannya dalam video yang kemudian viral di media sosial.

Kronologi Kejadian yang Menegangkan

Menurut laporan yang dihimpun dari saksi mata, gunung es tersebut tadinya tampak tenang dan stabil di atas permukaan air Teluk Disko. Sejumlah perahu pariwisata berjarak cukup aman dari bongkahan es setinggi sekitar 30 meter di atas permukaan laut itu. Namun, suasana damai berubah dalam hitungan menit. Tanpa peringatan apa pun, gunung es itu mulai bergoyang perlahan. Retakan kecil terdengar, diikuti suara gemuruh menggelegar saat struktur es yang diperkirakan mencapai ratusan meter di bawah air itu berputar. Proses terbaliknya berlangsung cepat namun cukup lambat bagi mata manusia untuk menyadari tengah terjadi perubahan masif. Air di sekitarnya bergolak hebat, menimbulkan percikan raksasa dan gelombang konsentris yang merambat dengan cepat ke segala arah.

“Kami semua terpaku. Tidak pernah menyangka bongkahan sebesar itu bisa bergerak begitu liar. Suaranya seperti petir yang menyambar dari dalam laut,” ujar Lars Mikkelsen, seorang nelayan lokal yang berada tak jauh dari lokasi. Ia dan beberapa rekannya segera memutar haluan untuk menjauh, khawatir hempasan air akan menenggelamkan kapal kayu mereka.

Mengapa Gunung Es Bisa Terbalik?

Fenomena terbaliknya gunung es, atau yang dalam istilah ilmiah disebut iceberg capsize, bukanlah hal yang asing bagi para ahli glasiologi. Meski begitu, menyaksikannya dari jarak dekat tetaplah momen langka. Gunung es terbentuk dari pecahan gletser yang mengalir ke laut, dan sebagian besar volumenya—sekitar 90 persen—berada di bawah permukaan air. Bentuknya yang tidak simetris, dipadu dengan proses pelelehan di bagian bawah yang tidak merata, menyebabkan pusat gravitasinya berubah secara perlahan. Ketika keseimbangan mencapai titik kritis, gunung es akan berguling atau terbalik secara tiba-tiba.

Dr. Astrid Fjellstad, peneliti dari Pusat Studi Iklim Greenland, menjelaskan bahwa peristiwa ini juga berkaitan erat dengan perubahan iklim. “Pemanasan global mempercepat pencairan gletser, menghasilkan lebih banyak gunung es besar yang tidak stabil. Terbaliknya gunung es pekan lalu adalah pengingat betapa dinamisnya lapisan es Greenland dan betapa cepatnya perubahan itu terjadi,” tuturnya ketika diwawancarai. Ia menambahkan, energi yang dilepaskan saat gunung es seukuran tersebut terbalik bisa setara dengan gempa bumi berkekuatan kecil dan berpotensi memicu tsunami mini seperti yang terjadi di Ilulissat.

Dampak Gelombang dan Keselamatan Pelayaran

Gelombang yang dihasilkan oleh jungkir balik gunung es itu dilaporkan mencapai ketinggian beberapa meter di area terdekat. Otoritas kelautan setempat segera mengeluarkan peringatan navigasi dan meminta seluruh perahu—baik milik wisatawan maupun nelayan—untuk menjauh sejauh minimal 500 meter dari bongkahan es baru yang kini tampak berbeda bentuknya. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun kerusakan berarti yang dilaporkan. Insiden ini kembali menegaskan pentingnya menjaga jarak aman dari gunung es, karena selain terbalik, bongkahan yang retak juga bisa memuntahkan pecahan-pecahan es kecil yang membahayakan.

Ilulissat sendiri merupakan kawasan pariwisata utama berkat keberadaan Ilulissat Icefjord, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang menjadi muara gletser Sermeq Kujalleq, salah satu gletser paling produktif di belahan Bumi utara. Setiap tahunnya ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan keindahan dan kemegahan gunung-gunung es yang terus bergerak. Namun, pengelola wisata setempat selalu mengedepankan protokol keselamatan ketat. “Kami tidak pernah membiarkan perahu mendekat terlalu dekat. Alam di sini sangat liar dan tak bisa diprediksi,” kata Niels Berg, pemandu wisata berpengalaman yang membawa rombongan pada hari kejadian. “Saat gunung es itu mulai bergerak, saya langsung tahu itu bukan pemandangan biasa. Kami segera menjauh, dan itu keputusan yang tepat.”

Potret Viralnya Kejadian

Beberapa wisatawan yang berada di kapal pesiar kecil berhasil merekam momen terbaliknya gunung es tersebut menggunakan ponsel pintar. Video berdurasi sekitar 90 detik itu menunjukkan secara jelas bagaimana dinding es yang tadinya putih kusam perlahan miring, lalu menampakkan bagian bawahnya yang berwarna biru elektrik—hasil dari tekanan luar biasa selama ribuan tahun yang menghilangkan gelembung udara. Dalam sekejap, gunung es yang semula tampak seperti gunung kecil itu berubah menjadi gundukan es dengan puncak tajam dan rongga-rongga aneh. Rekaman itu telah ditonton jutaan kali di berbagai platform, memicu decak kagum sekaligus diskusi tentang semakin seringnya fenomena dramatis di kutub.

“Waktu melihat video itu, bulu kuduk saya merinding. Ini bukan CGI, ini nyata dan terjadi di depan mata manusia,” komentar salah satu pengguna media sosial. Beberapa warganet lainnya mengaitkan peristiwa tersebut dengan isu perubahan iklim yang kian mendesak. Meskipun terbaliknya gunung es bisa terjadi secara alami, frekuensi dan skala yang lebih besar dari biasanya memang sejalan dengan data terbaru tentang pencairan lapisan es Greenland.

Pemantauan Ilmiah Berkelanjutan

Pasca-kejadian, sejumlah ilmuwan dari berbagai negara mengaku akan mempelajari lebih lanjut pola ketidakstabilan es di wilayah itu. Satelit dan stasiun pemantauan di sepanjang pesisir Greenland terus merekam aktivitas gletser secara real-time. Kejadian pada Sabtu lalu diharapkan bisa menjadi data tambahan untuk memahami dinamika gunung es, terutama dalam kaitannya dengan prediksi kenaikan permukaan air laut di masa depan. “Setiap kali gunung es besar kalving dan terbalik, kita mendapatkan petunjuk tentang bagaimana es di Greenland merespons suhu yang terus meningkat. Ini adalah laboratorium alam raksasa yang mengajarkan kita banyak hal,” pungkas Dr. Fjellstad.

Sementara itu, warga Ilulissat kembali beraktivitas seperti biasa, namun dengan kewaspadaan lebih. Kejadian mengerikan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cerita tentang gunung es yang jungkir balik akan terus dikenang sebagai pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam yang perkasa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User