Purbaya Ungkap Target PNBP SDA Migas Anjlok pada 2027

Angka penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam (SDA) untuk 2027 disiapkan lebih ramping dibandingkan perkiraan capaian sepanjang tahun ini. Penurunan paling terasa pada kompon...

Aug 20, 2026 - 23:24
0 0
Purbaya Ungkap Target PNBP SDA Migas Anjlok pada 2027

Angka penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam (SDA) untuk 2027 disiapkan lebih ramping dibandingkan perkiraan capaian sepanjang tahun ini. Penurunan paling terasa pada komponen minyak dan gas bumi (migas) yang selama ini menjadi tumpuan utama PNBP SDA. Arah kebijakan ini menjadi isyarat bahwa tahun depan bukanlah tahun yang mudah bagi salah satu penopang pendapatan negara di luar pajak tersebut.

Gambaran itu diungkapkan Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. Ia membeberkan sejumlah faktor yang menjadi biang kerok merosotnya target PNBP SDA pada 2027. Menurutnya, kombinasi tekanan dari pasar global dan persoalan struktural di dalam negeri membuat pendapatan dari sumber daya alam tidak bisa lagi diharapkan tumbuh secepat periode sebelumnya.

Biang Kerok: Harga Minyak dan Produksi yang Menurun

Faktor pertama yang disorot adalah pergerakan harga minyak mentah dunia. Proyeksi harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada 2027 menunjukkan kecenderungan lebih rendah dibandingkan asumsi tahun berjalan. Padahal, PNBP migas sangat sensitif terhadap perubahan harga, karena sebagian besar penerimaannya ditentukan oleh selisih antara harga jual dan biaya produksi. Ketika harga melemah, penerimaan negara ikut tergerus secara langsung.

Faktor kedua datang dari sisi produksi. Lifting minyak dan gas dalam negeri terus menurun seiring menuaanya sumur-sumur yang beroperasi dan minimnya temuan cadangan baru yang telah memasuki tahap komersial. Alhasil, volume produksi yang bisa dijual negara menyusut dari tahun ke tahun. Ketika harga di pasar internasional melemah dan volume produksi turun secara bersamaan, PNBP migas tertekan dari dua arah sekaligus.

Purbaya menilai penurunan target itu merupakan langkah realistis pemerintah agar postur anggaran tidak dibangun di atas asumsi yang terlalu optimistis. Menurutnya, target yang dipatok terlalu tinggi justru berisiko menimbulkan celah fiskal di akhir tahun dan menggerus kredibilitas pengelolaan keuangan negara.

Perbandingan dengan proyeksi realisasi 2026 juga menjadi dasar penyusunan angka tersebut. Sepanjang tahun ini, kinerja PNBP SDA diperkirakan masih tertopang oleh sisa momentum harga komoditas, meskipun tidak setinggi periode puncaknya. Penetapan target 2027 yang lebih rendah menunjukkan pemerintah memilih bersikap hati-hati ketimbang mempertahankan optimisme yang berisiko tidak terwujud.

Tekanan pada Postur APBN 2027

Merosotnya target PNBP SDA menambah pekerjaan rumah dalam penyusunan APBN 2027. Di tengah kebutuhan belanja yang tetap besar, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga perlindungan sosial, menyusutnya penerimaan dari sektor migas berarti pemerintah harus mencari sumber pendapatan lain atau menahan laju belanja. Ruang fiskal pun menjadi lebih sempit dibandingkan periode sebelumnya.

PNBP selama ini kerap menjadi penyeimbang ketika penerimaan perpajakan menghadapi perlambatan. Dengan target SDA yang merosot, kontribusi sektor lain seperti mineral dan batu bara, kehutanan, serta perikanan akan semakin diandalkan. Namun, kinerja sektor-sektor tersebut juga tidak lepas dari fluktuasi harga komoditas global yang sulit diprediksi secara akurat.

Para pengamat fiskal menilai pemerintah perlu menyiapkan bantalan yang memadai. Salah satu caranya adalah menjaga konservatisme asumsi makro dalam APBN 2027, termasuk asumsi harga minyak dan nilai tukar rupiah. Dengan asumsi yang hati-hati, realisasi penerimaan diharapkan tidak meleset terlalu jauh dari angka yang ditetapkan.

Upaya Menjaga Penerimaan Negara

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah masih memiliki sejumlah opsi untuk mengoptimalkan PNBP. Penguatan pengawasan lifting dan biaya operasi kontraktor migas, efisiensi dalam skema bagi hasil, serta percepatan monetisasi temuan cadangan menjadi langkah yang bisa ditempuh dalam jangka pendek. Pemerintah juga terus mendorong hilirisasi agar nilai tambah yang dinikmati negara dari kekayaan alam semakin besar.

Purbaya mengingatkan bahwa kebijakan fiskal 2027 sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka target, tetapi juga pada kualitas pengelolaan. Stabilitas iklim investasi di sektor hulu migas menjadi kunci jangka panjang. Jika kegiatan eksplorasi berjalan kondusif, produksi berpotensi kembali naik dan PNBP akan mengikuti beberapa tahun kemudian.

Kendati demikian, prospek jangka pendek tetap menantang. Dengan harga komoditas yang sulit ditebak dan produksi yang masih berada dalam tren menurun, pemerintah dituntut bekerja ekstra agar target PNBP 2027 yang lebih rendah itu tetap tercapai, bahkan idealnya terlampaui, tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Kehati-hatian dalam mengelola ekspektasi, menurut Purbaya, justru menjadi modal penting menjaga kepercayaan pasar terhadap pengelolaan anggaran negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User