Protes Massa Tripoli Lumpuhkan Kantor Pemerintah Akibat Mati Listrik 10 Jam
Tripoli, Libya – Ibu kota Libya bergolak setelah ribuan warga turun ke jalan mengepung sejumlah kantor pemerintahan dan memblokade jalan utama. Kemarahan publik meletus menyusul pemadaman listrik ya...
Tripoli, Libya – Ibu kota Libya bergolak setelah ribuan warga turun ke jalan mengepung sejumlah kantor pemerintahan dan memblokade jalan utama. Kemarahan publik meletus menyusul pemadaman listrik yang kian parah, di mana aliran daya hanya hadir separuh hari dan memaksa penduduk kota bertahan dalam kegelapan hingga 10 jam setiap hari.
Eska… Layanan Publik Terganggu Total
Aksi unjuk rasa dimulai sejak subuh ketika massa berkumpul di Alun-Alun Syuhada sebelum bergerak menuju gedung-gedung kementerian. Mereka membawa poster bertuliskan “Kami bukan lilin, kami manusia” dan “Listrik adalah hak, bukan hadiah”, mengekspresikan kelelahan yang telah menumpuk selama berbulan-bulan. Di distrik Bab Ben Gashir, pengunjuk rasa merangsek masuk ke kantor Perusahaan Umum Listrik Libya (GECOL) dan menghentikan seluruh aktivitas administrasi. Sementara di kawasan Tajoura, ratusan demonstran membakar ban di simpang utama, memblokir akses kendaraan menuju pusat kota. Kepolisian setempat berusaha membubarkan konsentrasi massa dengan gas air mata, namun para pemrotes terus bergerak menduduki trotoar dan menutup jalan-jalan strategis hingga sore.
Seorang pedagang kaki lima, Nasser al-Mahdi (42), mengaku putus asa karena pendingin ruangan dan kulkas di kiosnya mati total sejak pagi. “Barang dagangan saya rusak setiap hari. Es batu mencair sebelum tengah hari, daging dan susu terpaksa dibuang. Kalau begini terus, saya harus berhenti berjualan dan bergabung dengan demonstrasi setiap hari,” ujarnya dengan nada frustrasi. Di permukiman padat Hai Al-Andalus, ibu-ibu rumah tangga terpaksa menumbuk adonan secara manual karena tidak ada daya untuk mixer dan oven listrik. Sementara itu, anak-anak sekolah kesulitan belajar di malam hari karena lampu penerangan hanya mengandalkan lilin seadanya. Mahasiswa Universitas Tripoli, Fatima al-Zahra, mengatakan bahwa ia dan teman-temannya sering menghabiskan malam di tangga fakultas hanya untuk mengisi daya telepon genggam, padahal area kampus sendiri tak jarang juga gelap gulita.
Pemadaman Renggut Penghidupan dan Keamanan
Krisis listrik tidak sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi juga melumpuhkan sektor ekonomi dan mengancam keselamatan warga. Bengkel las dan pertukangan di Al-Swani berhenti beroperasi karena mesin-mesin berat tak bisa menyala; pada siang hari, toko-toko di sepanjang Jalan Omar Mukhtar perlahan kehilangan pelanggan yang enggan berbelanja dalam bangunan pengap tanpa kipas angin apalagi pendingin udara. Rumah sakit swasta di kawasan Zawiyat al-Dahmani terpaksa menunda operasi elektif karena generator cadangan hanya sanggup menopang unit gawat darurat. “Kami kehabisan bahan bakar untuk genset setiap dua hari, dan pasokan solar dari depot negara sering terlambat,” ujar seorang perawat yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa alat-alat pendingin vaksin beberapa kali nyaris rusak akibat fluktuasi listrik yang tak terduga.
Ketiadaan daya listrik juga membuka celah keamanan. Warga di lingkungan Qasr bin Gashir melaporkan peningkatan pencurian malam hari karena lampu jalan padam dan alarm rumah berbasis listrik tak berfungsi. Grup-grup WhatsApp lingkungan dipenuhi pesan peringatan ketika jam-jam gelap tiba. Seorang tokoh masyarakat setempat, Mukhtar Boushnaf, mengatakan bahwa warga mulai membentuk ronda malam sukarela. “Ini seperti kami mundur ke masa sebelum ada listrik. Anak-anak takut, perempuan enggan ke luar rumah setelah magrib. Kami tidak bisa terus bergantung pada lilin dan senter,” katanya.
Respons Pemerintah dan Janji Kuno yang Terulang
Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang bermarkas di Tripoli bergegas menggelar rapat darurat menyusul merebaknya unjuk rasa. Perdana Menteri Abdulhamid Dbeibah menjanjikan perbaikan segera pada gardu-gardu transmisi yang rusak dan mempercepat pengadaan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Ia juga menginstruksikan Dewan Transisi Kepresidenan untuk membentuk komite krisis energi yang bertugas memangkas birokrasi pengadaan suku cadang dan menggandeng perusahaan asing guna membantu revitalisasi jaringan. Namun, janji serupa telah berulang kali dilontarkan sejak musim panas tahun lalu, ketika pemadaman harian masih di kisaran empat hingga enam jam. Kini, durasi gelap justru meningkat drastis, sehingga menimbulkan skeptisisme mendalam di kalangan warga dan pengamat.
Mohamed al-Menfi, Ketua Dewan Kepresidenan, menyebut demonstrasi sebagai “ekspresi sah rakyat” namun sekaligus memperingatkan agar aksi tidak disusupi pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan politik. Pernyataan ini malah menuai kecaman dari koalisi LSM lokal yang menuduh pemerintah mencoba mendeligitimasi protes murni dengan narasi konspirasi. Di parlemen yang berbasis di Tobruk, sejumlah anggota mengkritik GNU karena gagal mengelola pendapatan minyak untuk membangun infrastruktur kelistrikan, mengingat Libya adalah produsen minyak mentah besar dengan kapasitas produksi di atas satu juta barel per hari. Ironi minyak melimpah sementara rakyat hidup dalam kegelapan menjadi sentimen dominan yang menghiasi spanduk-spanduk demonstran di seluruh Tripoli.
Akar Masalah dan Harapan di Tengah Amuk
Pengamat energi dari Universitas Tripoli, Dr. Khaled al-Sharif, menjelaskan bahwa krisis listrik Libya adalah hasil dari kombinasi konflik berkepanjangan, korupsi, minimnya perawatan infrastruktur, dan rendahnya kapasitas pembangkit yang hanya mampu memasok sekitar 4.000 megawatt dari kebutuhan nasional yang mencapai 7.500 megawatt saat musim panas. “Setiap tahun konsumsi meroket karena suhu ekstrem, tetapi tidak ada penambahan kapasitas berarti sejak era Gaddafi. Jaringan transmisi tua dan gardu induk kerap disabotase oleh kelompok bersenjata yang meminta tebusan,” urainya. Sementara itu, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya yang dicanangkan bersama Uni Eropa masih terganjal perizinan lahan dan ketidakstabilan keamanan di wilayah selatan.
Di tengah kemarahan yang meluas, sejumlah komunitas justru berinisiatif mandiri. Di Hay Al-Abbar, pemuda setempat mengumpulkan iuran untuk membeli panel surya kecil yang dipasang di atap masjid guna menyediakan daya bagi pompa air dan penerangan sahur selama Ramadan. Inisiatif serupa mulai muncul di Fashloum dan Soug al-Jumaa, meskipun terbentur harga perangkat yang masih tinggi. “Kami tidak bisa selamanya menunggu pemerintah yang hanya pandai beretorika,” ujar Salim, seorang aktivis komunitas yang mempopulerkan gerakan ‘Terangi Kampungmu Sendiri’ lewat media sosial.
Hingga berita ini diturunkan, demonstrasi masih berlangsung di beberapa titik, sementara kantor-kantor pemerintah di pusat kota tetap ditutup tanpa kejelasan kapan pelayanan akan kembali normal. Sumber dari kepolisian menyebutkan bahwa setidaknya 15 orang telah diamankan karena diduga memprovokasi kekerasan, namun belum ada laporan korban luka serius. Ribuan warga Tripoli tampaknya akan terus turun ke jalan selama lilin dan senter masih menjadi sumber cahaya utama di rumah-rumah mereka.
Comments (0)