Sang Nyoman Sedana Arta: Profil dan Kinerja Bupati Bangli
Profil dan kinerja Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Bangli, Arta dikenal sebagai pemimpin daerah yang berfokus pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Sang Nyoman Sedana Arta: Profil dan Kinerja Bupati Bangli
Sang Nyoman Sedana Arta resmi dilantik sebagai Bupati Bangli pada 26 Februari 2021, berpasangan dengan I Wayan Dalem sebagai Wakil Bupati. Ia merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati periode 2018–2021. Fakta menonjol, Sedana Arta menjadi bupati pertama di Bali yang menerapkan sistem Smart Village berbasis digital untuk pelayanan desa. Lahir di Bangli pada 10 Juli 1975, ia dikenal sebagai figur yang dekat dengan petani dan pelaku UMKM.
Profil Singkat
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Bangli. Ia meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Udayana tahun 2002, kemudian melanjutkan Magister Hukum di Universitas Warmadewa Denpasar dan lulus tahun 2018. Sebelum terjun ke politik, Sedana Arta aktif sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di Kabupaten Bangli. Ia juga pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Bangli sejak 2010 dan anggota organisasi asosiasi notaris.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Sedana Arta dimulai saat terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Bangli periode 2009–2014 dan kembali terpilih pada periode 2014–2019. Selama di DPRD, ia duduk di Komisi I yang membidangi pemerintahan dan hukum. Pada Pemilihan Kepala Daerah 2018, ia terpilih sebagai Wakil Bupati Bangli mendampingi Bupati I Made Gianyar. Setelah Made Gianyar meninggal dunia pada November 2020, tugas bupati diemban Sedana Arta sebagai Pelaksana Tugas hingga akhirnya dilantik sebagai Bupati definitif hasil Pilkada serentak 2020.
Kinerja dan Program Unggulan
Selama menjabat, beberapa program unggulan telah dijalankan. Pertama, Bangli Smart Village yang diterapkan di 72 desa/kelurahan, mengintegrasikan layanan administrasi kependudukan, perizinan, dan pelaporan secara digital. Hingga tahun 2023, tercatat lebih dari 85% desa sudah terhubung dengan sistem ini. Kedua, program Jaminan Kesehatan Bangli (JKB) yang memberikan akses layanan kesehatan gratis bagi warga tidak mampu, dengan alokasi APBD mencapai Rp32 miliar per tahun. Ketiga, pembangunan infrastruktur jalan desa sepanjang 120 km dari tahun 2021 hingga 2024 yang menghubungkan sentra-sentra pertanian dan pariwisata di Kintamani dan Susut. Di bidang pendidikan, dicanangkan program beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana yang telah menjangkau 500 mahasiswa asal Bangli.
Tantangan dan Harapan
Tantangan utama Bangli adalah angka kemiskinan yang masih di atas rata-rata Provinsi Bali, yakni 5,8% pada tahun 2023, serta keterbatasan akses air bersih di wilayah dataran tinggi. Birokrasi juga perlu diperkuat dengan digitalisasi agar pelayanan publik lebih cepat. Sedana Arta berharap kolaborasi antara pemerintah desa, pelaku usaha, dan akademisi dapat mendorong sektor pariwisata berbasis budaya di Kintamani dan Danau Batur. Ke depan, ia menargetkan penurunan angka kemiskinan hingga di bawah 4% serta pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% per tahun melalui pengembangan pertanian organik terpadu dan pariwisata berkelanjutan.
Comments (0)