Presiden Suriah Ungkap Rencana Rahasia Jalin Perdamaian dengan Israel
Damaskus akhirnya membuka tabir manuver diplomatik yang selama ini berlangsung senyap. Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa secara mengejutkan mengungkapkan bahwa negaranya tengah mengupayakan sebuah kesep...
Damaskus akhirnya membuka tabir manuver diplomatik yang selama ini berlangsung senyap. Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa secara mengejutkan mengungkapkan bahwa negaranya tengah mengupayakan sebuah kesepakatan keamanan strategis dengan Israel demi mewujudkan perdamaian yang langgeng di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini sontak mengejutkan banyak pihak, mengingat status Suriah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai garda terdepan "poros perlawanan" terhadap negara Yahudi itu. Pengakuan tersebut menandai perubahan signifikan dalam peta geopolitik regional, sekaligus memicu spekulasi mengenai imbalan yang diinginkan Damaskus dari Tel Aviv.
Selama lebih dari tujuh dekade, hubungan Suriah-Israel diwarnai konflik berdarah, pendudukan Dataran Tinggi Golan, dan perang proksi yang tak kunjung usai. Namun gelombang normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel melalui Prakarsa Perdamaian Arab dan Perjanjian Abraham beberapa tahun terakhir tampaknya membuka jalan baru bagi Damaskus. Di bawah rezim Al Sharaa yang mulai melunak, Suriah kini bermanuver untuk tidak tertinggal dalam tatanan baru Timur Tengah. Diplomat-diplomat senior Suriah disebut-sebut telah melakukan serangkaian pembicaraan rahasia yang difasilitasi pihak ketiga, termasuk Rusia dan Uni Emirat Arab, guna merancang kerangka kerja sama keamanan bilateral.
Skema Keamanan dan Tuntutan Terselubung
Meskipun rincian perjanjian belum sepenuhnya terkuak, sejumlah sumber yang dekat dengan pemerintahan Al Sharaa mengungkapkan bahwa fokus utama pembicaraan adalah penarikan bertahap pasukan Israel dari Dataran Tinggi Golan yang dicaplok sejak 1967 dan diakui secara sepihak oleh Amerika Serikat pada 2019. Kedaulatan penuh atas Golan menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar. Sebagai imbalannya, Suriah bersedia menandatangani pakta non-agresi, mengizinkan pemantauan internasional di zona perbatasan, serta menjamin bahwa wilayahnya tidak akan digunakan oleh Iran atau Hizbullah untuk melancarkan serangan terhadap Israel. Ini adalah sebuah lompatan besar mengingat Teheran selama ini menjadi penyokong utama militer Suriah. Rancangan kesepakatan kabarnya juga mencakup kerja sama intelijen dan penanganan ancaman terorisme lintas batas. Bagi Israel, ini merupakan peluang emas untuk mengamankan perbatasan utaranya yang rawan, sekaligus melemahkan cengkeraman Iran di Suriah. Bagi Al Sharaa, pakta ini adalah tiket untuk membawa Suriah keluar dari isolasi internasional, mencabut serangkaian sanksi Barat yang mencekik, serta mendapatkan bantuan rekonstruksi pascaperang saudara yang menghancurkan. Namun, jalan menuju pencapaian kesepakatan masih panjang. Pemerintah Israel sendiri masih terpecah antara kelompok garis keras yang menolak penyerahan Golan dan pihak pragmatis yang melihat keuntungan strategis jangka panjang.
Di sisi lain, pengumuman ini menimbulkan riak di kalangan negara-negara Arab dan kawasan. Reaksi keras datang dari faksi-faksi Palestina yang menuduh Suriah mengkhianati perjuangan kemerdekaan mereka. Mereka khawatir, langkah Damaskus bakal semakin melemahkan posisi tawar Palestina dalam setiap perundingan dengan Israel. Mesir dan Yordania yang telah lebih dulu menormalisasi hubungan dengan Israel menyambut positif perkembangan ini, namun mengingatkan agar setiap kesepakatan tidak mengabaikan hak-hak rakyat Palestina sesuai dengan solusi dua negara. Sementara itu, Iran dan Hizbullah dilaporkan merasa dikhianati, meskipun belum mengeluarkan pernyataan resmi. Bagi mereka, kehilangan Suriah sebagai pangkalan depan adalah pukulan berat yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Levant.
Tantangan Domestik dan Jalan Panjang Menuju Damai
Di dalam negeri, Presiden Al Sharaa menghadapi tantangan berat dalam meyakinkan rakyat dan militer yang telah terindoktrinasi kebencian terhadap Israel selama puluhan tahun. Oposisi domestik mungkin akan memanfaatkan isu ini untuk menggoyang pemerintahannya. Namun, situasi ekonomi yang porak-poranda pascaperang dan kebutuhan mendesak akan investasi asing menjadi alasan kuat untuk melangkah ke arah pragmatisme. Al Sharaa tampaknya berhitung bahwa dukungan dari aktor global seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa dapat menetralisir tantangan domestik, asalkan ia mampu menunjukkan hasil konkret berupa bantuan ekonomi dan pengakuan kedaulatan. Pengamat hubungan internasional menilai, manuver rahasia ini adalah bagian dari dinamika besar yang sedang terjadi di Timur Tengah, di mana musuh lama perlahan menjadi mitra strategis. Normalisasi yang dipicu kesadaran akan ancaman bersama, terutama dari ekstremisme dan ambisi nuklir Iran, telah menggeser poros aliansi yang sebelumnya kaku. Jika kesepakatan ini terwujud, bukan tidak mungkin akan diikuti oleh negara-negara Arab lainnya yang masih ragu-ragu, seperti Lebanon atau bahkan Irak di masa depan. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa perdamaian di kawasan ini selalu rapuh; jatuh bangunnya negosiasi Damaskus-Tel Aviv sudah berulang kali terjadi sejak era Hafez al-Assad, ayah Ahmed Al Sharaa. Bedanya kali ini, Suriah berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dan membutuhkan terobosan.
Kini, mata dunia tertuju pada langkah selanjutnya. Apakah pengakuan Presiden Al Sharaa hanya sebuah uji pasar untuk mengukur reaksi publik, ataukah benar ada draf perjanjian yang siap ditandatangani? Kedua belah pihak belum mengonfirmasi jadwal pertemuan resmi, namun sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa pertemuan teknis tingkat tinggi direncanakan dalam beberapa pekan mendatang di sebuah ibu kota Eropa. Yang pasti, rahasia yang terkuak ini menandai awal dari babak baru yang penuh harapan sekaligus penuh intrik di panggung politik Timur Tengah.
Comments (0)