Pramono Targetkan Stunting Jakarta Turun Jadi 14 Persen
Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan langkah taktis dalam mempercepat penurunan angka tengkes (stunting) di kawasan ibu kota. Gubernur DKI
Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan langkah taktis dalam mempercepat penurunan angka tengkes (stunting) di kawasan ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan seluruh jajaran Dinas Kesehatan DKI Jakarta beserta para kader posyandu untuk memperketat intervensi gizi dan pemantauan kesehatan balita. Pemprov DKI mengincar target penurunan prevalensi stunting dari angka rata-rata saat ini sebesar 17 persen menjadi 14 persen dalam jangka waktu dua tahun ke depan.
Instruksi strategis tersebut disampaikan Gubernur Pramono saat memberikan pengarahan dalam pembukaan Jambore Kader Posyandu Bidang Kesehatan Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026 yang digelar di The Tavia Heritage, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Dalam forum yang dihadiri oleh ratusan perwakilan kader posyandu dari lima wilayah kota dan satu kabupaten administrasi tersebut, Pramono menegaskan pentingnya penyamaan target daerah dengan capaian rata-rata nasional.
“Saya berharap Bu Ani dan juga jajaran, hal yang berkaitan dengan stunting yang sekarang average-nya kurang lebih atau rata-ratanya 17%, dalam dua tahun ke depan kita bisa turunkan sama dengan stunting nasional, yaitu 14%,” ujar Pramono Anung di hadapan para pejabat Dinas Kesehatan dan kader posyandu yang hadir.
Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan di Akar Rumput
Gubernur menekankan bahwa kader posyandu memegang peran paling sentral dalam mengesekusi program penanganan gizi buruk dan stunting di lapangan. Mengingat posisi posyandu yang berhadapan langsung dengan komunitas masyarakat, pendataan dan pencegahan awal dapat dilakukan lebih cepat serta akurat. Intervensi kesehatan yang dilakukan secara konsisten di tingkat RT dan RW menjadi kunci utama untuk menekan potensi munculnya kasus stunting baru pada bayi di bawah usia dua tahun (baduta).
Pramono mengakui bahwa penanganan stunting di kawasan perkotaan padat seperti Jakarta memiliki kompleksitas tersendiri yang berbeda dengan wilayah perdesaan. Tantangan seperti keterbatasan lahan permukiman, kebiasaan konsumsi makanan siap saji yang kurang bernutrisi, hingga tingkat ketimpangan ekonomi warga menjadi faktor penyerta yang memengaruhi status gizi anak secara signifikan.
“Dan untuk itu menjadi tugas Bapak, Ibu, Saudara-Saudara sekalian, terutama yang di posyandu. Karena bagaimanapun stunting ini faktornya relatif sebenarnya kompleks,” tutur mantan Sekretaris Kabinet tersebut menambahkan.
Beberapa fokus kerja utama yang akan ditingkatkan oleh kader posyandu di seluruh wilayah DKI Jakarta meliputi:
- Penimbangan dan Pengukuran Rutin: Memastikan seluruh balita terdata dan terpantau kurva tumbuh kembangnya secara presisi setiap bulan melalui pemanfaatan sistem pemantauan digital.
- Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal: Memastikan pendistribusian asupan gizi bergizi tinggi berbahan baku lokal yang kaya akan protein hewani untuk anak terindikasi mengalami gangguan pertumbuhan.
- Edukasi dan Pendampingan Keluarga: Mengedukasi ibu hamil, ibu menyusui, serta calon pengantin mengenai pola asuh, pemenuhan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta pentingnya ASI eksklusif.
Komparasi Target Prevalensi Stunting DKI Jakarta
Guna memantau tingkat keberhasilan program intervensi gizi tersebut, Pemprov DKI Jakarta menyusun rincian target penurunan prevalensi stunting secara bertahap yang diselaraskan dengan sasaran pembangunan kesehatan nasional.
| Indikator Pembanding | Kondisi Saat Ini (2026) | Target 2 Tahun (2028) | Fokus Utama Intervensi |
|---|---|---|---|
| Prevalensi Stunting Jakarta | 17,0% | 14,0% | PMT protein hewani & digitalisasi data posyandu |
| Rata-Rata Nasional | 14,0% | < 14,0% | Penguatan peran posyandu & sanitasi lingkungan |
Tantangan Pencapaian Target dan Sinergi Lintas Sektor
Penurunan angka stunting sebesar 3 persen dalam kurun waktu dua tahun memerlukan kerja keras yang terstruktur. Oleh karena itu, sinergisitas antar-instansi menjadi syarat mutlak keberhasilan. Pemprov DKI Jakarta berencana mengintegrasikan program intervensi gizi medis dengan pembenahan lingkungan permukiman padat, seperti penyediaan sarana air bersih dan perbaikan sanitasi warga melalui kolaborasi lintas dinas.
Selain intervensi kesehatan spesifik dari Dinas Kesehatan, pendekatan sensitif seperti bantuan sosial pangan dan pendampingan ekonomi keluarga rentan akan terus diperkuat. Pramono berharap pergerakan kolektif dari seluruh elemen pemerintah daerah dan ribuan kader posyandu mampu membebaskan anak-anak Jakarta dari ancaman gizi buruk, sekaligus mempersiapkan generasi unggul bagi masa depan Jakarta.




Comments (0)