Pramono Berkomitmen Hidupkan Kembali Masjid JIC yang Lama Mangkrak

Jakarta Utara — Komitmen baru muncul untuk menuntaskan reviltalisasi Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) yang telah terbengkalai selama empat tahun. Calon pemimpin ibu kota, Pramono, secara ter...

Jul 18, 2026 - 19:53
0 0
Pramono Berkomitmen Hidupkan Kembali Masjid JIC yang Lama Mangkrak

Jakarta Utara — Komitmen baru muncul untuk menuntaskan reviltalisasi Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) yang telah terbengkalai selama empat tahun. Calon pemimpin ibu kota, Pramono, secara terbuka menyatakan janjinya untuk segera mengembalikan fungsi dan kemegahan rumah ibadah yang selama ini menjadi kebanggaan warga pesisir Jakarta Utara itu. Pernyataan tersebut sontak menyalakan kembali harapan masyarakat yang selama ini gigih menanti kepastian.

Ikon yang Kehilangan Pamor

Masjid Raya JIC bukan sekadar tempat sujud. Sejak diresmikan lebih dari dua dekade silam, bangunan ini menjelma menjadi penanda lanskap spiritual dan sosial di kawasan Koja. Arsitekturnya yang memadukan sentuhan Timur Tengah dan tropis, lengkap dengan kubah besar berwarna biru laut, menjadikannya salah satu masjid paling mudah dikenali di Jakarta. Namun, pesona itu perlahan meredup. Kegagalan proyek perluasan dan penataan ulang yang dimulai empat tahun lalu meninggalkan jejak menyedihkan: tiang-tiang penyangga tak terselesaikan, area parkir semrawut, dan sayap baru bangunan malah menjadi rumah bagi semak belukar.

Penghentian proyek ini bukan tanpa sebab. Sumber daya yang semestinya mengalir deras terhenti di tengah perubahan prioritas anggaran dan dinamika birokrasi. Sejak saat itu, citra masjid yang dahulu digadang-gadang sebagai pusat peradaban Islam di pesisir utara perlahan digerogoti debu dan keheningan. Bahkan, aktivitas ibadah rutin sempat terganggu karena akses menuju ruang utama terhambat material sisa konstruksi yang tak kunjung diangkut.

Janji di Tengah Rindu Jamaah

Di hadapan ratusan jamaah yang memadati pelataran usai salat Jumat, Pramono menyampaikan pidato yang terkesan personal. Dengan suara bergetar, ia mengakui bahwa kondisi masjid saat ini bukanlah cerminan semangat warga Jakarta Utara yang dikenal guyub dan agamis. “Kemegahan masjid ini dulu membuat orang berdecak kagum. Kini, yang terlihat justru rona nelangsa. Saya datang bukan untuk mendulang suara dengan janji kosong, tetapi untuk mengembalikan kehormatan tempat ini,” ujarnya, disambut takbir dan tepuk tangan membahana.

Pria yang belakangan kerap menyambangi kantong-kantong pemukiman padat itu membeberkan rencana singkat namun konkret. Revitalisasi akan dipecah dalam tiga fase: penuntasan fisik bangunan dalam enam bulan pertama, penataan ulang ruang publik dan taman pendidikan Al-Qur’an pada semester berikutnya, serta integrasi layanan sosial seperti klinik dan balai latihan kerja di tahun kedua. Semua itu, tegasnya, akan ia kawal langsung dari meja gubernur jika mendapat mandat rakyat. Ia bahkan menyebut akan menempatkan tim khusus pengawas independen yang melibatkan arsitek senior dan ulama setempat.

Rancang Bangun Tanpa Melupakan Sejarah

Menurut desain awal yang sempat dielus-eluskan, JIC yang direvitalisasi akan memiliki daya tampung hingga dua kali lipat, mencapai lebih dari delapan belas ribu jamaah. Area hijau di sekitarnya akan diperluas dengan konsep taman islami yang ditumbuhi kurma, zaitun, dan rerumputan aromatik, sekaligus menjadi daerah resapan air untuk menekan risiko banjir yang kerap menghantui permukiman sekitar. Pramono menyebut akan melanjutkan cetak biru itu dengan sejumlah penyempurnaan, termasuk penambahan panel surya di atap sebagai bentuk komitmen lingkungan.

Yang tak kalah penting, ia menjanjikan proses revitalisasi kali ini akan merekam dan menghidupkan kembali jejak sejarah panjang kawasan tersebut. Dahulu, tanah tempat JIC berdiri merupakan pusat dakwah dan perlawanan kaum santri terhadap penjajah. Narasi semacam ini akan diabadikan lewat galeri mini dan jalur pejalan kaki dengan prasasti tematik, agar generasi mendatang tak hanya mendapati masjid yang lapang dan sejuk, tetapi juga melek akan akar perjuangan di dalamnya.

Skeptisisme dan Geliat Ekonomi Rakyat

Tak semua pihak lantas percaya begitu saja. Seorang tokoh pemuda setempat, Amiruddin, mengaku sudah kenyang mendengar janji serupa dari para pemimpin sebelumnya. “Dulu juga ada yang datang dengan pidato manis, tapi setelah dilantik, proyek ini kembali masuk laci. Kalau kali ini sungguhan, kami tentu berterima kasih. Tapi kami butuh bukti, bukan sekadar kata-kata di atas mimbar,” tuturnya kepada awak media. Sentimen serupa diamini oleh pedagang kaki lima yang selama empat tahun terpaksa berpindah-pindah lokasi karena area proyek mangkrak yang tak jelas batasnya.

Namun, di balik keraguan itu, semangat optimistis tetap menyala. Yuli, pemilik usaha jilbab di sekitar masjid, mengaku sudah menyiapkan stok lebih banyak menjelang Ramadan tahun depan. Ia yakin jika masjid kembali berfungsi penuh, jumlah pengunjung akan kembali melonjak seperti masa lalu. “Waktu masjid masih ramai, pendapatan saya bisa tiga kali lipat saat hari besar. Sekarang, sepi. Jadi kalau Pak Pramono bisa bikin masjid ini hidup lagi, saya dukung penuh,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Visi besar yang diusung bukan hanya menyangkut estetika. Pramono menegaskan ingin menjadikan Masjid Raya JIC sebagai mercusuar toleransi dan pemberdayaan. Balai pelatihan yang akan dibangun di lahan seluas 600 meter persegi di sisi timur masjid dirancang untuk mencetak teknisi muda, penjahit, dan barista, bekerja sama dengan perusahaan BUMD. Dengan demikian, masjid tak lagi sekadar menjadi transit spiritual, melainkan simpul penggerak ekonomi umat yang berkelanjutan.

Selain itu, perpustakaan digital dengan ribuan koleksi manuskrip Islam akan diintegrasikan dengan aplikasi wisata religi halal. Langkah ini diharapkan menarik pengunjung dari luar Jakarta bahkan mancanegara, sehingga memberi dampak berganda bagi sektor perhotelan dan kuliner setempat. “Kita harus berani bermimpi besar. Masjid ini harus bisa mengguncang perekonomian mikro di sekitarnya, sekaligus menjadi oase ketenangan bagi siapa saja yang datang,” pungkas Pramono, meninggalkan mimbar dengan senyum yang merekah penuh tekad.

Kini, bola panas ada di tangan penyelenggara pemilu dan arsitek proyek. Apakah janji ini akan segera berubah menjadi beton dan kaca, atau justru menguap seperti puluhan janji kampanye sebelumnya? Wargalah yang akan menjadi hakim sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User