Pertama Kali Muncul, Kampung Tenggelam Bendungan Karian Kembali Tertangkap Mata

Setelah lebih dari tiga tahun terkubur di dasar waduk, sisa-sisa permukiman yang sempat menjadi bagian dari proyek strategis nasional akhirnya kembali menyapa permukaan. Susut drastis permukaan air di...

Jul 27, 2026 - 22:17
0 0
Pertama Kali Muncul, Kampung Tenggelam Bendungan Karian Kembali Tertangkap Mata

Setelah lebih dari tiga tahun terkubur di dasar waduk, sisa-sisa permukiman yang sempat menjadi bagian dari proyek strategis nasional akhirnya kembali menyapa permukaan. Susut drastis permukaan air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyingkap jalan beraspal retak, pondasi rumah, dan batang-batang pohon yang dulu menjadi saksi kehidupan warga. Fenomena ini menandai pertama kalinya kampung yang ditenggelamkan pada 2023 itu benar-benar terlihat utuh sejak pintu air ditutup.

Kemarau Panjang Membuka Tabir Masa Lalu

Bendungan Karian dibangun untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di Provinsi Banten serta sebagian Jakarta. Pembangunannya mengharuskan pengosongan dan penenggelaman sejumlah desa di wilayah Lebak. Ribuan warga direlokasi ke tempat yang telah disiapkan, meninggalkan kenangan, ladang, dan rumah leluhur. Pada pertengahan 2023, proses penggenangan dimulai, dan perlahan bangunan, jalan, serta pepohonan hilang ditelan air.

Kini, kombinasi musim kemarau yang lebih kering dari perkiraan dan kebutuhan pasokan air yang tinggi ke hilir menyebabkan penurunan elevasi muka air secara signifikan. Bukan hanya puing-puing kecil, lanskap perkampungan lengkap dengan jalan lingkungan selebar tiga meter, tiang listrik yang sudah berkarat, serta bekas balai desa mulai menyembul. Beberapa bagian bangunan yang sempat berdiri kokoh kini menyisakan kerangka kayu lapuk dan dinding setengah roboh. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kota hantu yang tiba-tiba naik dari dasar danau.

Nostalgia dan Keingintahuan Warga

Kemunculan kembali kampung itu sontak menarik perhatian warga sekitar, terutama mereka yang dulu bermukim di lokasi tersebut sebelum relokasi. Banyak di antara mereka datang hanya untuk sekadar melihat lagi rumah lama atau mengingat masa kecil yang tak akan kembali. Seorang mantan penduduk yang enggan disebut namanya mengaku sempat menitikkan air mata saat melihat bekas kamar tidurnya yang kini hanya tembok tanpa atap, dihiasi lumpur dan tanaman air yang mengering.

”Saya tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Rasanya seperti mimpi. Lantai tempat saya dulu belajar menulis masih ada, walau sudah pecah-pecah. Ada rasa sedih, tapi juga lega karena bukti kampung kami tidak benar-benar lenyap,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) setempat mengimbau agar warga tidak memasuki area yang tersingkap demi alasan keamanan. Struktur bangunan yang telah terendam selama bertahun-tahun menjadi rapuh dan berpotensi ambruk. Lumpur tebal yang mengering di permukaan juga menyulitkan evakuasi jika terjadi kecelakaan. Meski demikian, garis kuning pembatas yang dipasang petugas sering kali diserobot oleh pengunjung yang penasaran ingin berswafoto.

Jalan Raya dan Masjid Tua yang Kini Menjadi Destinasi Spontan

Fokus utama para penonton adalah ruas jalan desa yang dulu menjadi urat nadi kehidupan. Aspalnya sudah mengelupas di banyak titik, tetapi marka putih pudar masih bisa diikuti sejauh hampir satu kilometer. Di ujung jalan itu, reruntuhan sebuah masjid tua menjadi magnet visual. Kubahnya telah runtuh, namun mihrab dan tiang utama masih berdiri, menciptakan siluet dramatis yang kontras dengan birunya langit. Tidak sedikit yang menganggap pemandangan ini sebagai pengingat bagaimana alam dan air mampu menulis ulang peradaban dalam waktu singkat.

Seorang pengamat lingkungan dari universitas setempat menjelaskan bahwa kemunculan kembali infrastruktur tersebut adalah siklus yang bisa terjadi berkali-kali sepanjang tahun. ”Bendungan besar selalu memiliki zona mati dan zona fluktuasi. Saat volume air menyusut tajam, kawasan yang biasanya terendam akan terpapar. Ini bukan berarti bendungan bocor atau rusak, melainkan sinyal bahwa kita sedang menghadapi tekanan musim kering yang cukup serius,” jelasnya.

Ia menambahkan, momen ini bisa dimanfaatkan untuk mempelajari sedimentasi dan dampak jangka panjang perendaman material bangunan terhadap kualitas air. Data yang diambil dari sisa-sisa bangunan dan lumpur di sekitarnya akan berguna bagi pengelolaan waduk di masa depan.

Antara Warisan dan Peradaban Air

Proyek Bendungan Karian sendiri merupakan salah satu bendungan terbesar di Banten dengan kapasitas tampung mencapai ratusan juta meter kubik. Selain menyediakan air baku untuk kawasan industri dan permukiman, bendungan ini juga diharapkan mampu mengendalikan banjir di musim hujan. Namun, pengorbanan sosial yang menyertai pembangunannya tidak bisa dianggap enteng. Munculnya kembali kampung ini seakan memberi jeda reflektif bagi semua pihak: pembangunan memang penting, tetapi ingatan akan kampung halaman tidak bisa sekadar ditenggelamkan.

Warga yang telah menetap di tempat relokasi menyampaikan harapan agar pemerintah tidak hanya memperhatikan aspek teknis bendungan, melainkan juga terus mendampingi kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Beberapa di antara mereka masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, meskipun kompensasi lahan dan rumah telah diterima. Trauma kehilangan kampung halaman tidak hilang begitu saja, dan kemunculan kembali desa lama justru membangkitkan memori yang selama ini coba dikubur.

Saat ini, petugas bendungan terus memantau fluktuasi air. Diperkirakan, jika hujan kembali turun dalam beberapa pekan mendatang, seluruh puing akan kembali ditelan air dan hilang dari pandangan. Namun, rekaman kamera dan cerita dari mereka yang menyempatkan diri berkunjung akan menjadi arsip abadi dari sebuah masa yang pernah berdiri di sana sebelum derasnya air mengubah segalanya. Bagi sebagian orang, momen langka ini bukan sekadar fenomena alam atau keanehan musim, melainkan undangan untuk merenungkan kembali hubungan antara kemajuan, pengorbanan, dan kenangan yang tak akan pernah benar-benar tenggelam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User