Application Name Application Name

Patokan

Kategori 9

Pakar ITS Ungkap Faktor Hidrodinamika Terbaliknya KMP Virgo Transport 8

SURABAYA — Tragedi maritim yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus

Pakar ITS Ungkap Faktor Hidrodinamika Terbaliknya KMP Virgo Transport 8

SURABAYA — Tragedi maritim yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus memicu perhatian para pakar perkapalan nasional. Pakar hidrodinamika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa investigasi mendalam terhadap aspek performa kapal di laut atau seakeeping mutlak dilakukan untuk mengurai akar penyebab insiden tersebut secara komprehensif.

Karakteristik perairan Kepulauan Masalembu selama ini dikenal memiliki pola hidrodinamika dan pertemuan arus laut yang sangat dinamis. Menurut Prof. I Ketut Aria Pria Utama, evaluasi kelayakan teknis kapal tidak boleh hanya berfokus pada kondisi cuaca ekstrem semata, melainkan juga harus menyentuh respons stabilitas struktur kapal saat berhadapan dengan gelombang acak di lautan lepas.

"Dalam investigasi kecelakaan maritim, parameter seakeeping menjadi kunci untuk melihat bagaimana kapal merespons gaya hidrodinamika dari luar, termasuk fenomena resonansi gelombang yang mampu mereduksi gaya apung dan stabilitas melintang kapal secara drastis," ujar Prof. I Ketut Aria Pria Utama.

Urgensi Evaluasi Seakeeping dan Stabilitas Kapal

Dalam disiplin teknik kelautan, performa seakeeping mencakup kemampuan kapal mempertahankan navigasi yang stabil terhadap gerakan enam derajat kebebasan (six degrees of freedom), khususnya gerakan berguling (rolling), mengangguk (pitching), dan naik-turun (heaving). Ketika frekuensi alami olah gerak kapal bertemu dengan frekuensi gelombang laut di Masalembu, kapal rentan mengalami fenomena parametric rolling yang berujung pada hilangnya daya tegak kembali (righting arm).

Kajian teknis terhadap KMP Virgo Transport 8 perlu menelusuri riwayat perawatan lambung, sistem pengedapan, hingga modifikasi struktur yang mungkin pernah dilakukan. Perubahan minor pada tata letak kompartemen atau penambahan beban di atas geladak utama dapat menggeser titik berat kapal (Center of Gravity) ke posisi yang lebih tinggi, sehingga mengurangi batas margin stabilitas dinamis kapal secara signifikan.

Kronologi Teknis dan Indikator Pemicu Kecelakaan

Berdasarkan metodologi investigasi keselamatan transportasi laut, terdapat beberapa urutan analisis teknis yang wajib dikaji secara berurutan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama otoritas maritim:

  1. Analisis Kondisi Muatan dan Distribusi Beban: Tim penyelidik harus memetakan berat total kargo kendaraan dan barang bawaan penumpang, memastikan tidak terjadi kelebihan muatan (overloading) serta mengevaluasi sistem pengikatan (lashing) muatan agar kargo tidak bergeser saat dihantam ombak.
  2. Evaluasi Efek Permukaan Bebas (Free Surface Effect): Memeriksa kemungkinan adanya genangan air pada tangki balas atau ruang geladak yang tidak tersekat sempurna, di mana pergerakan cairan internal dapat mempercepat proses terbaliknya kapal.
  3. Kajian Hidrodinamika dan Arah Gelombang: Menghitung sudut kontak antara haluan kapal dan arah datangnya ombak (encounter angle) untuk menentukan apakah terjadi fenomena broaching-to atau kehilangan kendali kemudi di tengah laut.
  4. Integritas Kekedapan Lambung Kapal: Menyelidiki potensi kebocoran mekanis atau kegagalan pintu rampa (ramp door) yang memicu intrusi air laut ke dalam kompartemen mesin dan ruang muat utama.

Rekomendasi Mitigasi untuk Otoritas Keselamatan Maritim

Menanggapi peristiwa kecelakaan KMP Virgo Transport 8, pakar ITS merekomendasikan perlunya penguatan standar operasional prosedur (SOP) sebelum penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Otoritas pelabuhan diminta lebih ketat dalam memvalidasi kalkulasi stabilitas muatan sebelum kapal bertolak dari dermaga.

Selain itu, modernisasi alat uji stabilitas kapal berbasis digital serta penerapan sensor pemantau gerak kapal secara real-time dinilai perlu diintegrasikan pada armada kapal penyeberangan antarpulau di Indonesia. Langkah preventif ini krusial guna menjamin keselamatan transportasi laut dan meminimalkan potensi kecelakaan fatal serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer4
TENTANG PENULIS writer4

Bacaan Terkait

Comments (0)

User