Pagi-Pagi, Pramono Anung Sambangi Setkab Bahas Transportasi dan Ruang Terbuka Hijau
JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memulai aktivitasnya dengan mendatangi Kantor Sekretariat Kabinet (Setkab) pada pagi buta. Kunjungan ini langsung disambut oleh Sekretaris Kabinet Teddy ...
JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memulai aktivitasnya dengan mendatangi Kantor Sekretariat Kabinet (Setkab) pada pagi buta. Kunjungan ini langsung disambut oleh Sekretaris Kabinet Teddy Wijaya di ruang kerjanya. Suasana pertemuan begitu cair dan penuh semangat kolaborasi. Langkah ini menjadi simbol eratnya koordinasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merumuskan arah pembangunan ibu kota yang lebih modern dan manusiawi.
Pertemuan tersebut membahas berbagai agenda strategis yang menjadi prioritas utama bagi Jakarta ke depan. Dua isu yang paling menonjol dalam diskusi adalah pengembangan sistem transportasi publik yang terintegrasi serta perluasan ruang terbuka hijau (RTH) di seluruh wilayah kota. Kedua program ini diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus memperkuat daya saing Jakarta di kancah global.
Mendorong Transportasi Publik yang Efisien dan Ramah Lingkungan
Dalam pembahasan pertama, Teddy Wijaya dan Pramono Anung menyoroti pentingnya percepatan integrasi moda transportasi massal. Saat ini, Jakarta telah memiliki MRT, LRT, Transjakarta, dan KRL Commuter Line, namun keterhubungan antar moda masih perlu dioptimalkan. Pemerintah pusat melalui Setkab berjanji akan mengurai simpul-simpul birokrasi yang selama ini menghambat proyek-proyek konektivitas, terutama yang melibatkan lintas kementerian.
Pramono Anung menjelaskan bahwa Pemprov DKI tengah mematangkan rencana perpanjangan koridor MRT hingga ke wilayah penyangga seperti Tangerang dan Bekasi. Proyek ini membutuhkan dukungan penuh dari kementerian perhubungan dan keuangan, sehingga kehadiran Setkab sebagai koordinator sangat vital. Teddy Wijaya menegaskan, arahan Presiden sudah jelas: tidak boleh ada ego sektoral yang menghalangi terwujudnya transportasi publik yang murah dan nyaman bagi warga.
Selain infrastruktur berat, digitalisasi menjadi kunci reformasi transportasi Jakarta. Kedua pihak sepakat bahwa satu aplikasi terpadu untuk perencanaan perjalanan, pembayaran tarif, dan informasi kepadatan penumpang harus segera direalisasikan. Integrasi tarif antar moda pun sedang dikaji agar masyarakat cukup membayar sekali untuk seluruh perjalanan. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat warga beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Pramono menambahkan bahwa armada bus listrik Transjakarta akan ditambah hingga 200 unit pada tahun ini sebagai bagian dari transisi energi bersih. Langkah ini mendapat apresiasi dari Setkab yang berjanji mendorong Kementerian ESDM dan KLHK untuk memberikan insentif fiskal bagi pengadaan bus ramah lingkungan. Dengan langkah ini, Jakarta tidak hanya mengurangi kemacetan tetapi juga emisi karbon yang selama ini membebani udara ibu kota.
Memperjuangkan Ruang Terbuka Hijau Demi Kota yang Layak Huni
Topik berikutnya yang tak kalah penting adalah perluasan ruang terbuka hijau. Pramono Anung menyampaikan keprihatinannya atas rendahnya presentase RTH publik di Jakarta yang saat ini diperkirakan masih di bawah 10 persen. Untuk itu, ia menargetkan agar dalam lima tahun ke depan, DKI bisa mencapai angka ideal 30 persen seperti diamanatkan undang-undang tata ruang. Target ambisius ini membutuhkan kolaborasi semua pihak, terutama dukungan pemerintah pusat.
Teddy Wijaya merespons positif dengan mengungkapkan bahwa sejumlah lahan milik kementerian dan BUMN di Jakarta yang terbengkalai berpotensi dikonversi menjadi taman publik atau hutan kota. Ia akan mengoordinasikan hal ini dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta BUMN terkait agar proses alih fungsi berjalan cepat tanpa mengabaikan aspek hukum. Skema ini menjadi jalan tengah untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus menambah ruang hijau secara signifikan.
Selain taman kota, Pramono juga memaparkan rencana revitalisasi bantaran sungai dan embung sebagai bagian dari blue-green infrastructure. Konsep ini mengintegrasikan fungsi resapan air dengan penciptaan ruang publik yang asri. Di sepanjang bantaran kali Ciliwung, misalnya, akan dibangun koridor hijau yang dilengkapi jalur pedestrian dan sepeda, sehingga warga dapat menikmati ekosistem sungai yang bersih dan indah. Teddy menyambut gagasan ini karena sejalan dengan visi nasional pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pemerintah DKI juga berencana meluncurkan program 'Satu Kelurahan Satu Taman' yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Warga akan didorong mengelola lahan tidur di lingkungannya menjadi taman produktif yang berfungsi ganda sebagai area resapan dan sumber pangan perkotaan. Setkab berkomitmen mendukung program ini melalui pemberian stimulus fiskal bagi kelurahan yang berhasil mempertahankan ruang hijaunya. Di sisi lain, insentif bagi gedung swasta yang menyediakan taman vertikal atau atap hijau akan segera diterapkan untuk mempercepat penghijauan di tengah keterbatasan lahan.
Sinergi Pusat-Daerah Jadi Kunci Keberhasilan
Pertemuan ini menegaskan bahwa sinergi pemerintah pusat dan daerah bukan sekadar seremoni, melainkan kebutuhan mendesak. Teddy Wijaya kembali menekankan bahwa Presiden memberikan perhatian besar pada Jakarta sebagai etalase Indonesia. Oleh karena itu, setiap program strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus mendapatkan dukungan penuh tanpa tawar-menawar.
Sebagai tindak lanjut, Pramono Anung mengumumkan bahwa dalam dua pekan ke depan akan digelar rapat koordinasi tingkat tinggi yang melibatkan seluruh kementerian teknis, BUMN, dan pemerintah daerah penyangga. Rapat ini akan menghasilkan peta jalan implementasi yang jelas dengan penanggung jawab dan tenggat waktu yang terukur. Setkab akan bertindak sebagai fasilitator sekaligus pengawas agar tidak ada program yang mandek di tengah jalan.
Kedua tokoh juga sepakat membentuk tim kecil yang bertugas memantau perkembangan setiap bulan. Tim ini akan membuat laporan berkala yang disampaikan langsung kepada Seskab dan Gubernur untuk memastikan akuntabilitas. Transparansi menjadi prinsip utama yang dipegang dalam setiap tahapan agar masyarakat dapat ikut mengawasi.
Pertemuan yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut diakhiri dengan suasana penuh optimisme. Teddy dan Pramono bertukar cendera mata sebagai simbol kebersamaan dan komitmen untuk terus bekerja demi Jakarta yang lebih baik. Keduanya berpisah dengan janji untuk terus menjaga ritme komunikasi yang intensif sehingga setiap rencana tidak hanya indah di atas kertas, tetapi benar-benar mewujud dalam keseharian warga.
Warga Jakarta kini menanti realisasi nyata dari janji-janji tersebut. Harapan besar menggantung agar kota yang menjadi rumah bagi lebih dari 10 juta jiwa ini segera bertransformasi menjadi lebih hijau, lebih terhubung, dan lebih manusiawi.
Comments (0)