Olimpiade — Atlet Desak Penghentian Seksualisasi Atlet Perempuan Dalam Penyiaran
Momen ketegangan di lintasan lari atau arena pertandingan seharusnya menjadi panggung utama pembuktian kerja keras, disiplin, dan dedikasi bertahun-tahun p
Momen ketegangan di lintasan lari atau arena pertandingan seharusnya menjadi panggung utama pembuktian kerja keras, disiplin, dan dedikasi bertahun-tahun para olahragawan dunia. Namun, bagi para atlet perempuan yang bertanding di ajang internasional sekelas Olimpiade, sorotan kamera siaran langsung sering kali berbelok dari performa atletik menjadi bentuk pemindaian fisik yang merendahkan.
Sebuah laporan komprehensif yang dirilis oleh organisasi nirlaba The Representation Project mengenai penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2021 mengungkap kenyataan pahit dalam industri media olahraga. Studi tersebut menemukan bahwa atlet perempuan mengalami seksualisasi hampir 10 kali lebih sering dibandingkan atlet laki-laki dalam tayangan siaran langsung. Padahal, jauh sebelum kompetisi dimulai, produsen siaran Olimpiade telah mengampanyekan panduan agar para juru kamera berfokus pada "sport appeal, not sex appeal" (daya tarik olahraga, bukan daya tarik seksual).
Dua Standar Penyiaran dan Obyektifikasi Visual
Pola pengambilan gambar dalam siaran olahraga kerap kali memperlihatkan ketimpangan yang mencolok. Kamera siaran kerap mengambil sudut jarak dekat (zoom-in) pada area tubuh tertentu seperti bokong atau dada atlet perempuan saat mereka bersiap bertanding. Sorotan yang tidak relevan ini dinilai mereduksi kapasitas profesional atlet menjadi sekadar objek visual demi menarik perhatian penonton.
Atlet lari jarak jauh asal Kanada, Kate Van Buskirk, menegaskan bahwa seragam pertandingan yang dikenakan para atlet wanita dirancang khusus untuk efisiensi aerodinamis dan kenyamanan fisik saat berlaga. Ia menolak keras anggapan bahwa pakaian tersebut berfungsi sebagai sarana eksploitasi estetika tubuh.
"Itu bukan cara bercerita tentang olahraga (that's not storytelling). Pakaian pertandingan kami adalah peralatan kerja teknis kami untuk mencapai performa maksimal di lapangan, bukan untuk didistorsi secara visual demi estetika seksual," tegas Van Buskirk saat menyuarakan kegelisahan kolektif para atlet perempuan.
Ketimpangan Liputan Media: Laki-Laki vs Perempuan
Ketimpangan narasi dan pengambilan gambar dalam media penyiaran dapat dilihat dari perbandingan fokus liputan terhadap atlet pria dan wanita di ajang olahraga internasional berikut:
| Parameter Penyiaran | Atlet Perempuan | Atlet Laki-Laki |
|---|---|---|
| Tingkat Seksualisasi Visual | Hampir 10 kali lebih tinggi | Sangat minim / hampir tidak ada |
| Fokus Sudut Kamera | Sering menyorot bagian tubuh spesifik (crop fisik) | Fokus pada gerakan teknik dan dinamika permainan |
| Konteks Narasi Komentator | Kadang menyinggung penampilan, usia, atau status keluarga | Berfokus pada rekor, statistik, dan pencapaian karier |
Penyebab utama dari bertahannya masalah ini adalah minimnya pemahaman perspektif gender di kalangan operator kamera dan pengarah acara (floor director). Kendati Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah memperbarui pedoman penyiaran yang inklusif, implementasi teknis di lapangan oleh stasiun televisi pemegang hak siar di berbagai negara masih sering kali abai terhadap prinsip kesetaraan.
Mendorong Pembaharuan Pedoman dan Sanksi Tegas
Para atlet, pelatih, dan aktivis kesetaraan gender kini mendesak agar pedoman penyiaran olahraga tidak lagi sekadar bersifat imbauan moral yang pasif. Mereka menuntut adanya regulasi yang mengikat secara hukum, pelatihan wajib mengenai bias gender bagi seluruh kru penyiaran, serta penerapan sanksi tegas berupa pembatasan akses siaran bagi jaringan media yang terbukti melakukan eksploitasi visual.
Penyiaran olahraga seharusnya berfungsi menginspirasi generasi mendatang melalui kekuatan pencapaian manusia, bukan mengerdilkan nilai-nilai kompetisi murni lewat lensa kamerawan yang bias gender. Tanpa adanya perubahan mendasar pada standar teknis penyiaran di Olimpiade mendatang, komitmen kesetaraan yang selalu dikumandangkan di panggung olahraga dunia akan tetap menjadi janji manis di atas kertas semata.




Comments (0)