New Delhi — Prabowo Beberkan Tantangan Bencana dan Iklim di KTT BRICS
Di tengah riuh panggung diplomasi internasional yang berlangsung di kompleks megah Bharat Mandapam, New Delhi, India, Presiden Republik Indonesia Prabowo S
Di tengah riuh panggung diplomasi internasional yang berlangsung di kompleks megah Bharat Mandapam, New Delhi, India, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan keprihatinan mendalam terkait masa depan bumi. Di hadapan para pemimpin dunia, Kepala Negara secara terbuka membeberkan kerentanan geografis Indonesia yang bertumpuk dengan krisis iklim global. Sebagai negara kepulauan yang membentang di perlintasan rawan, Indonesia menjadi salah satu garda terdepan yang paling merasakan dampak nyata dari perubahan iklim ekstrem.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan dalam sesi forum tingkat tinggi bertajuk ‘Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth’ yang menjadi rangkaian utama Pertemuan Puncak KTT BRICS pada Minggu, 13 September 2026. Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan posisi pentingnya untuk mendorong respons global yang lebih responsif dan adil bagi negara-negara berkembang.
Hidup Berdampingan dengan Cincin Api Pasifik
Dalam narasi pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti fakta geografis bawaan Indonesia yang berada tepat di jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire)—wilayah sabuk gempa bumi dan gunung berapi paling aktif di planet ini. Kondisi geopolitik bumi ini meletakkan Indonesia dalam tingkat kerentanan yang amat tinggi terhadap beragam ancaman bencana alam terpadu.
Presiden menekankan bahwa ancaman yang dihadapi masyarakat Indonesia bukan lagi sekadar bahaya teoritis di atas kertas akademis, melainkan realitas harian yang mengikis pesisir dan mengancam mata pencaharian jutaan jiwa.
“Kita berada di lingkaran Cincin Api yang paling aktif. Kita hidup setiap hari dengan kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, hingga aktivitas gunung berapi,” kata Presiden Prabowo saat menyampaikan orasinya di Bharat Mandapam.
Kombinasi antara ancaman tektonik, aktivitas vulkanik, serta anomali iklim global telah menciptakan tantangan multidimensi. Mulai dari erosi wilayah pesisir akibat kenaikan muka air laut, gelombang panas yang mengganggu sektor pertanian, hingga badai tropis yang kian sulit diprediksi.
Solidaritas Global South dan Peran BRICS
Kendati menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak berdiri sendirian dalam krisis ini. Masalah lingkungan dan bencana geologi merupakan tantangan kolektif yang dialami oleh mayoritas negara berkembang di belahan bumi bagian selatan atau Global South.
Negara-negara anggota BRICS—yang mencakup kekuatan ekonomi baru seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, serta anggota baru lainnya—dinilai memiliki tanggung jawab sejarah dan kapasitas teknologi untuk memimpin transformasi ketahanan iklim dunia.
“Indonesia tidak sendirian menghadapi tantangan ini. Negara-negara anggota BRICS lainnya dan banyak negara di Global South juga menghadapi persoalan yang saling berkaitan,” tegas Kepala Negara.
Menurut Presiden, krisis iklim memerlukan pendekatan yang inklusif. Negara-negara berkembang tidak boleh dibiarkan menanggung beban mitigasi secara mandiri tanpa adanya transfer teknologi, pendanaan iklim yang adil, serta kerja sama riset kebencanaan yang memadai.
Matriks Pemetaan Risko dan Peluang Kerjasama Strategis
Untuk memetakan langkah konkret dalam menghadapi krisis iklim dan geologi ini, pemerintah Indonesia mendorong kerangka kolaborasi berbasis pemetaan risiko terintegrasi. Berikut adalah gambaran matriks tantangan utama dan potensi kerja sama yang ditawarkan Indonesia di forum BRICS:
| Tantangan Utama | Dampak Sosial & Ekonomi | Peluang Kolaborasi BRICS |
|---|---|---|
| Cincin Api (Vulkanik & Tektonik) | Risiko gempa bumi, erupsi, dan gelombang tsunami pada pemukiman padat. | Pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) berbasis AI dan riset kegempaan. |
| Kenaikan Permukaan Laut | Ancaman tenggelamnya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil maritim. | Inovasi infrastruktur tanggul laut berkelanjutan serta restorasi ekosistem mangrove. |
| Cuaca Ekstrem & Anomali Iklim | Penurunan produktivitas pertanian dan ancaman kerentanan pangan nasional. | Transfer teknologi pertanian tahan iklim (climate-smart agriculture) dan ketahanan pangan. |
Menuju Pertumbuhan Ekonomi Hijau yang Inklusif
Di akhir pemaparannya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya menyeimbangkan antara agenda perlindungan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi energi terbarukan yang melimpah, siap berkontribusi aktif dalam rantai pasok hijau dunia.
Namun, keterlibatan tersebut harus berjalan seiring dengan komitmen global untuk memitigasi risiko kebencanaan. “Ketahanan bencana dan adaptasi iklim bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Presiden dalam forum dunia tersebut.
Hadir di KTT BRICS New Delhi, India, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kerentanan Indonesia terhadap ancaman gempa, erupsi, hingga kenaikan muka air laut. Beliau mengajak negara-negara berkembang untuk memperkuat kolaborasi teknologi dan mitigasi bencana terpadu. Simak ulasan selengkapnya di Patokan.com!



Comments (0)