Netanyahu Konfirmasi Kehadiran di Sidang PBB, Trump Langsung Angkat Suara

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi rencananya untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September mendatang. Keputusan ini disampaikan o...

Jul 28, 2026 - 07:09
0 0
Netanyahu Konfirmasi Kehadiran di Sidang PBB, Trump Langsung Angkat Suara

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi rencananya untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September mendatang. Keputusan ini disampaikan oleh kantor perdana menteri pada hari Selasa, menegaskan bahwa ia akan menyampaikan pidato di forum global tersebut di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap operasi militer negaranya di Jalur Gaza. Kehadiran Netanyahu di markas besar PBB akan menjadi yang pertama sejak pecahnya konflik bersenjata dengan Hamas yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Pengumuman ini segera memicu beragam reaksi, termasuk dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang melalui akun media sosialnya, Truth Social, menyampaikan pandangannya. Trump, yang secara konsisten menunjukkan dukungan kuat terhadap Israel selama masa kepresidenannya, menulis bahwa Netanyahu adalah "pemimpin pemberani" yang "berjuang melawan teror". Ia juga menyindir pemerintahan Joe Biden yang dianggapnya gagal memberikan dukungan penuh kepada sekutu dekat AS tersebut.

Misi Diplomatik di Tengah Badai Kritik

Netanyahu dijadwalkan berbicara di depan Majelis Umum pada sesi pagi tanggal 26 September, sehari setelah dimulainya debat umum tahunan. Para pembantunya mengatakan bahwa pidato tersebut akan fokus pada "hak Israel untuk mempertahankan diri" dan menyoroti ancaman keamanan yang dihadapi oleh negara Yahudi itu, terutama dari Iran dan proksi-proksinya di kawasan. Perdana menteri juga dikabarkan akan membawa bukti-bukti baru yang menunjukkan keterlibatan kelompok militan dalam penggunaan infrastruktur sipil sebagai tameng, sebuah narasi yang selama ini menjadi pembelaan utama Israel atas korban jiwa warga Palestina yang tinggi.

Keputusan Netanyahu untuk tetap hadir di PBB mengejutkan banyak pengamat politik mengingat meningkatnya upaya hukum internasional terhadap dirinya dan para pejabat tinggi militer Israel. Bulan lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan yang menuduh Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang dalam serangan ke Gaza. Meskipun AS menolak yurisdiksi ICC, kehadiran Netanyahu di tanah New York berpotensi menciptakan ketegangan diplomatik yang signifikan. Namun, para penasihat hukumnya yakin bahwa undangan resmi dari negara tuan rumah PBB memberikan kekebalan sementara.

Trump: "Kita Akan Saksikan Sandiwara di PBB"

Tidak butuh waktu lama bagi Donald Trump untuk memberikan komentar. Dalam serangkaian unggahan pagi di Truth Social, mantan presiden yang kini kembali mencalonkan diri itu menulis, "Bibi Netanyahu adalah teman baik, tetapi dia akan menghadapi auditorium penuh kebencian di PBB. Mereka semua adalah munafik yang hanya ingin melihat Israel dihancurkan." Trump menambahkan bahwa jika dia masih berada di Gedung Putih, kunjungan seperti itu tidak akan diperlukan karena "negara-negara pengecut" tidak akan berani menekan Israel berkat kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran.

Pernyataan Trump tersebut bukanlah yang pertama kali ia lontarkan sejak ia kalah dalam pemilu 2020. Selama kampanye untuk pemilihan presiden November 2024, Trump secara rutin mengkritik penanganan pemerintahan Biden terhadap aliansi AS-Israel. Ia sering mengklaim bahwa serangan Hamas pada 7 Oktober lalu tidak akan pernah terjadi jika ia masih berkuasa, sebuah klaim yang tidak memiliki dasar fakta yang jelas namun beresonansi dengan sebagian besar pemilih Partai Republik yang pro-Israel. Lebih lanjut, Trump menuduh Biden dan Partai Demokrat telah tunduk pada tekanan sayap progresif yang mendukung Palestina, sehingga melemahkan posisi tawar Israel di meja perundingan internasional.

Komentar Trump juga menyentuh dinamika politik dalam negeri Israel. "Netanyahu tahu bahwa dia harus menunjukkan kekuatan. Dukungan saya untuknya tidak pernah goyah," tulis Trump, seolah-olah mencoba mengingatkan para pemilih Amerika tentang hubungan dekatnya dengan perdana menteri Israel tersebut. Hubungan itu memang sempat diuji ketika Netanyahu memberi selamat kepada Joe Biden atas kemenangan pemilu yang terus diperdebatkan oleh Trump, namun kedua pria itu telah memperbaiki hubungan melalui sejumlah pertemuan pribadi dan panggilan telepon selama setahun terakhir.

Manuver Politik di Dua Front

Bagi Netanyahu, perjalanan ke New York bukan hanya tentang diplomasi global; ini juga merupakan pertaruhan politik domestik yang krusial. Jajak pendapat di Israel menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap penanganan perang Gaza oleh pemerintah koalisinya telah menurun drastis sejak awal tahun. Banyak keluarga sandera yang masih ditahan oleh Hamas menuduh perdana menteri lebih mementingkan kelangsungan politiknya sendiri, termasuk melalui manuver di panggung dunia, daripada memprioritaskan pemulangan orang-orang yang mereka cintai.

Seorang analis politik dari Universitas Hebrew, yang meminta namanya dirahasiakan karena sensitivitas masalah ini, mengatakan bahwa "Netanyahu membutuhkan panggung internasional untuk mengalihkan perhatian dari kegagalannya di dalam negeri. Dukungan vokal dari tokoh seperti Trump memberinya semacam perlindungan politik, semacam bukti bahwa ia masih memiliki teman kuat di luar negeri meskipun dikucilkan oleh banyak ibu kota Eropa."

Di sisi lain, bagi Trump, menyoroti kehadiran Netanyahu di PBB adalah cara yang murah untuk menyerang lawan politiknya di Washington. Dengan menyandingkan sikap "pro-Israel"-nya yang tanpa syarat dengan kebijakan pemerintahan Biden yang lebih bernuansa—mendukung hak Israel untuk membela diri sambil menekan agar lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza—Trump berharap dapat memperdalam keretakan di kalangan pemilih Yahudi dan evangelis, dua blok penting dalam perhitungan elektoral menjelang pemilu 2024.

Prospek Konfrontasi dan Dialog

Majelis Umum PBB tahun ini diperkirakan akan menjadi ajang yang sangat tegang. Sejumlah negara anggota telah melayangkan rancangan resolusi yang menuntut Israel segera mengakhiri pendudukannya di wilayah Palestina dan memberikan akses penuh bagi penyelidik hak asasi manusia. Netanyahu, yang dalam pidato-pidato sebelumnya di PBB sering menggunakan alat peraga visual seperti diagram bom atom Iran, dikabarkan tengah mempersiapkan presentasi baru untuk melawan klaim-klaim tersebut.

Tidak jelas apakah pernyataan Trump akan mempengaruhi nada pidato Netanyahu atau interaksinya dengan para pemimpin dunia lain. Yang jelas, kunjungan ini akan mempertemukan Netanyahu dengan banyak pemimpin yang telah secara terbuka mengecam operasi militer yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil di Gaza, menurut data dari otoritas kesehatan setempat. Sejauh ini, belum ada konfirmasi apakah Netanyahu akan bertemu langsung dengan Presiden Biden di sela-sela acara, meskipun kedua pemimpin itu biasanya melakukan pertemuan bilateral saat momen seperti itu.

Terlepas dari kontroversi, satu hal yang pasti: panggung PBB pada bulan September akan menjadi sorotan dunia, dengan Benjamin Netanyahu dan Donald Trump masing-masing akan memainkan peran mereka dalam narasi yang sedang terurai, satu di atas podium dan yang lainnya melalui corong media sosialnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User