Narita Shibori, UMKM Inklusif Binaan Pertamina Menembus Pasar Luas
PATOKAN – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali membuktikan daya saingnya di kancah pasar yang lebih luas. Narita Shibori, pelaku usaha kain kreatif yang berada di bawah pembinaan Pertamin...
PATOKAN – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali membuktikan daya saingnya di kancah pasar yang lebih luas. Narita Shibori, pelaku usaha kain kreatif yang berada di bawah pembinaan Pertamina, kini berhasil memasarkan produknya hingga ke berbagai daerah di Indonesia bahkan merambah permintaan dari luar negeri.
Capaian tersebut tidak datang secara instan. Usaha yang bergerak di bidang kain motif shibori itu dibangun dari nol dengan mengandalkan keterampilan tangan, kesabaran, dan ketekunan para perajinnya. Kini, nama Narita Shibori semakin dikenal sebagai salah satu UMKM inklusif yang memberdayakan masyarakat sekitar, termasuk kelompok penyandang disabilitas.
Berawal dari Keterampilan dan Kegigihan
Shibori merupakan teknik pewarnaan kain dengan cara mengikat, melipat, atau menjahit bagian tertentu sebelum dicelupkan ke larutan warna. Teknik yang berakar dari tradisi Jepang itu menghasilkan motif unik yang tidak pernah sama antara satu kain dengan kain lainnya. Keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama produk Narita Shibori di pasaran.
Sang pendiri usaha memulai perjalanan bisnisnya dari skala rumahan. Bermodal peralatan sederhana dan bahan pewarna seadanya, produk pertama yang dihasilkan dipasarkan dari mulut ke mulut serta melalui lingkaran pertemanan. Respons pasar yang positif mendorong usaha ini terus berkembang hingga memiliki galeri dan ruang produksi sendiri.
Yang membedakan Narita Shibori dari usaha sejenis adalah komitmennya pada inklusivitas. Sebagian pekerja yang terlibat dalam proses produksi berasal dari kalangan disabilitas dan ibu rumah tangga di sekitar lokasi usaha. Mereka dilatih menguasai teknik mengikat, mencelup, hingga tahap penyelesaian produk agar dapat memiliki penghasilan sendiri dan lebih percaya diri.
Pendampingan Pertamina Jadi Titik Balik
Perjalanan usaha ini menemukan momentum penting ketika bergabung menjadi mitra binaan Pertamina. Melalui program pembinaan UMKM, Narita Shibori memperoleh akses pendanaan bergulir, pelatihan manajemen usaha, serta pendampingan peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan.
Dukungan yang diberikan tidak sebatas permodalan. Usaha ini juga difasilitasi mengurus berbagai legalitas dan sertifikasi, mulai dari nomor induk berusaha hingga pelabelan produk. Pembinaan turut mencakup pelatihan pemasaran digital sehingga produk dapat dipromosikan melalui media sosial dan platform dagang elektronik yang menjangkau konsumen lebih luas.
Selain itu, kesempatan tampil di berbagai pameran berskala nasional membuka jalan bagi Narita Shibori menjangkau konsumen baru. Ajang pameran kerajinan tangan menjadi etalase penting yang mempertemukan produknya dengan pembeli potensial, baik perorangan maupun jaringan distribusi yang lebih besar.
Merambah Pasar Nasional hingga Mancanegara
Berkat konsistensi menjaga mutu, produk Narita Shibori kini dipasarkan ke berbagai kota besar di Tanah Air. Kain bermotif khas itu diolah menjadi aneka produk fesyen seperti syal, selendang, blus, kemeja, hingga tas dan aksesori. Setiap produk dikerjakan dengan standar kualitas yang ketat agar layak bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Tidak berhenti di pasar domestik, pesanan dari sejumlah negara juga mulai berdatangan. Konsumen mancanegara tertarik pada keaslian motif dan proses pembuatan yang sepenuhnya dikerjakan dengan tangan. Nilai seni serta cerita di balik setiap lembar kain menjadi daya tarik tersendiri di mata pembeli internasional.
Ekspansi pasar ini berdampak langsung pada peningkatan kapasitas produksi. Jumlah perajin yang dilibatkan terus bertambah seiring naiknya volume pesanan. Perputaran ekonomi di lingkungan sekitar usaha pun ikut bergerak, mulai dari pemasok kain polos hingga jasa pengemasan dan pengiriman barang.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski telah mencapai banyak kemajuan, usaha ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan bahan baku berkualitas, persaingan dengan produk cetak bermotif serupa yang dijual lebih murah, serta keterbatasan kapasitas produksi menjadi pekerjaan rumah yang terus dicarikan solusinya.
Untuk menghadapi persaingan, Narita Shibori memilih memperkuat identitas produk melalui desain eksklusif dan edukasi konsumen tentang keunggulan kain buatan tangan. Inovasi motif dan eksplorasi pewarna alami juga terus dilakukan agar produk tetap relevan dengan selera pasar yang terus berubah.
Ke depan, usaha ini berharap dapat memperluas jangkauan ekspor sekaligus memperbanyak pelatihan bagi kelompok rentan di daerah lain. Kisah perjalanannya menjadi bukti bahwa UMKM inklusif mampu tumbuh dan bersaing ketika mendapatkan pembinaan yang tepat serta dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Comments (0)