Monumen Kudatuli Diresmikan Megawati, Ingatkan Kader pada Sejarah Getir
Jakarta – Suasana khidmat menyelimuti halaman kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7). Ketua Umum Megawati Soekarnoputri meresmikan sebuah monumen ya...
Jakarta – Suasana khidmat menyelimuti halaman kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7). Ketua Umum Megawati Soekarnoputri meresmikan sebuah monumen yang didedikasikan untuk mengenang peristiwa berdarah 27 Juli 1996, yang dikenal luas sebagai Kudatuli atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli. Monumen ini menjadi penanda abadi salah satu episode tergelap dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Upacara peresmian berlangsung sederhana namun sarat makna. Megawati, didampingi jajaran petinggi partai, membuka selubung monumen yang terbuat dari perunggu dengan relief yang menggambarkan perjuangan dan pengorbanan. Dalam sambutannya yang terbata-bata menahan haru, ia menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan, terutama oleh generasi muda yang kini mewarisi kedaulatan politik. “Monumen ini bukan sekadar batu dan logam. Ini adalah saksi bisu bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini diperjuangkan dengan darah dan air mata,” ujarnya.
Desain Penuh Simbolisme
Monumen yang berdiri setinggi tiga meter itu dirancang oleh pematung ternama. Pada bagian tengah terdapat figur-figur manusia yang berdiri tegak dan saling melindungi, merepresentasikan solidaritas kader partai saat gedung DPP diserbu. Di atasnya, terdapat pahatan tangan yang mengepal, menggambarkan perlawanan dan semangat pantang menyerah. Prasasti di bagian bawah memuat nama–nama korban yang gugur dalam insiden itu, serta kutipan pidato Megawati pada tahun 1996 yang menyerukan keadilan.
Keberadaan monumen ini bukan hanya penghormatan bagi keluarga korban dan para penyintas, tetapi juga pisau bedah memori kolektif bangsa. Sejumlah saksi sejarah yang hadir dalam peresmian tersebut tampak tak kuasa membendung air mata. Mereka adalah para aktivis, jurnalis, dan kader partai yang 30 tahun lalu berada tepat di lokasi yang sama ketika kekerasan meletus.
Konteks Sejarah: Kudatuli, Pukulan yang Melahirkan Perlawanan
Untuk memahami arti penting monumen ini, kita harus mundur ke pertengahan 1990–an. Saat itu, PDI mengalami dualisme kepengurusan setelah Kongres Medan tahun 1996. Megawati, yang didukung mayoritas anggota, ditolak oleh pemerintah Orde Baru. Pemerintah mendukung faksi Soerjadi dan secara sistematis meminggirkan kubu Megawati. Pada pagi 27 Juli 1996, massa yang diduga dibayar dan didukung aparat menyerbu markas PDI di Jalan Diponegoro, tempat Megawati dan para pendukungnya bertahan. Bentrokan tak terelakkan. Gedung dibakar, puluhan orang luka-luka, dan lima orang dilaporkan meninggal. Keesokan harinya, Jakarta berubah menjadi lautan api—kerusuhan menjalar ke berbagai penjuru kota, menuntut pertanggungjawaban rezim.
Peristiwa itu menjadi salah satu pemicu gerakan reformasi yang berpuncak pada kejatuhan Presiden Soeharto pada 1998. Bagi PDIP, Kudatuli bukan sekadar luka, melainkan fondasi spiritual perjuangan partai. “Dari gedung yang hampir rata dengan tanah inilah kami bangkit,” kata Sekretaris Jenderal Partai yang turut hadir dalam peresmian. Ia menambahkan bahwa monumen ini diharapkan menjadi destinasi ziarah politik bagi kader dan simpatisan partai, serta pengingat bagi publik tentang bahaya represi terhadap hak berserikat dan berpendapat.
Pesan untuk Generasi Masa Kini
Dalam pidatonya, Megawati juga menyoroti tantangan demokrasi kontemporer. Ia menekankan bahwa ancaman terhadap demokrasi tidak selalu berbentuk tank dan pentungan, tetapi bisa berupa pembungkaman digital, politik uang, serta apatisme generasi muda. “Anak–cucuku, jangan kira pertarungan ini sudah selesai. Bentuknya berubah, tetapi tujuannya sama: merampas suara rakyat,” tegasnya dengan suara bergetar. Megawati meminta agar monumen ini tidak berhenti sebagai objek wisata politik, melainkan menjadi ruang diskusi dan pendidikan politik bagi kaum muda.
Hadir dalam peresmian sejumlah generasi milenial dan Gen Z dari sayap partai. Salah seorang perwakilan, seorang mahasiswi berusia 21 tahun, mengaku tercengang saat pertama kali melihat relief monumen. “Saya hanya tahu dari buku sejarah bahwa PDI diserang, tapi melihat langsung monumen ini dan mendengar langsung dari Ibu Mega membuat saya merasa terhubung dengan masa lalu yang kelam itu,” katanya. Ia bertekad untuk lebih aktif dalam mengawal kebijakan publik agar pengorbanan masa lalu tidak sia–sia.
Pengakuan dari Tokoh Lintas Generasi
Sejarawan dan pengamat politik dari Universitas Indonesia menilai pendirian monumen ini sebagai langkah positif dalam merawat memori kolektif bangsa. Menurutnya, terlalu banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang tenggelam tanpa jejak fisik. “Ketika memori hanya disimpan di arsip, ia mudah dibelokkan atau dilupakan. Monumen adalah bentuk perlawanan terhadap amnesia sejarah yang disengaja,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kudatuli harus diajarkan kepada anak sekolah sebagai bagian dari pendidikan kewarganegaraan, bukan sekadar catatan kaki.
Sementara itu, seorang aktivis hak asasi manusia yang turut hadir mengatakan bahwa monumen ini juga menjadi pengingat bahwa kasus Kudatuli belum sepenuhnya tuntas. Para dalang di balik serangan 27 Juli 1996 hingga kini belum pernah diadili. “Monumen ini adalah penanda bahwa kami, para korban dan keluarga, masih menanti keadilan. Ini bukan nostalgia, ini tanda tanya yang masih menggantung,” katanya lirih. Pernyataan ini diamini oleh sejumlah hadirin yang terdiri dari keluarga lima korban tewas.
Di tengah upacara, panitia memperdengarkan rekaman audio asli pidato Megawati pada tahun 1996 yang disiarkan melalui radio secara ilegal saat terjadi pengepungan. Suasana menjadi hening. Banyak yang meneteskan air mata. Rekaman itu berisi ajakan untuk tidak menyerah dan tetap mempercayai jalan demokrasi. Bagi yang hadir, momen itu ibarat portal waktu yang membawa mereka kembali ke detik-detik genting 30 tahun silam.
Simbol Partai, Simbol Bangsa
Monumen Kudatuli ini terbuka untuk umum, bukan hanya warga partai. PDIP berencana merangkul komunitas sejarah, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil untuk mengadakan kunjungan rutin dan diskusi. Mereka juga akan meluncurkan platform digital berisi arsip foto, video, dan kesaksian saksi mata agar generasi digital bisa mengakses narasi peristiwa tanpa sensor.
Dengan diresmikannya monumen ini, Menteng 58 kini tidak hanya menjadi pusat komando politik PDIP, tetapi juga museum hidup perjuangan demokrasi. Megawati menutup peresmian dengan kalimat yang kelak akan terukir di dinding museum kecil di samping monumen: “Sejarah hanyalah masa lalu bila kita lupa. Ingatanlah yang membuatnya kekal.”
Comments (0)