Megawati Resmikan Monumen Kudatuli, Kenang 30 Tahun Peristiwa Kelam
Jakarta - Tepat pada peringatan tiga dekade peristiwa berdarah yang mengguncang kantor pusat PDI di Jalan Diponegoro, Megawati Soekarnoputri meresmikan sebuah monumen peringatan yang disebut Monumen K...
Jakarta - Tepat pada peringatan tiga dekade peristiwa berdarah yang mengguncang kantor pusat PDI di Jalan Diponegoro, Megawati Soekarnoputri meresmikan sebuah monumen peringatan yang disebut Monumen Kudatuli. Upacara khidmat ini digelar di halaman kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dengan dihadiri oleh jajaran elite partai, para pendiri, serta kader dari seluruh Indonesia. Mengenakan blazer merah khas, sang Ketua Umum didampingi oleh putranya sekaligus Ketua DPP bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif dan Legislatif, Prananda Prabowo, yang terus mendampingi ibunya selama prosesi.
Peresmian monumen ini bukan sekadar ritual biasa. Megawati tampak bergetar saat menekan tombol sirine yang menandai diresmikannya tugu setinggi hampir empat meter tersebut. Struktur monumen didominasi warna hitam pekat dengan tekstur kasar yang menyimbolkan luka dan kehancuran, namun di bagian puncaknya berdiri kokoh ukiran burung garuda yang siap mengepakkan sayap—mewakili kebangkitan dan semangat pantang menyerah. Di bagian bawah, terpahat nama-nama korban yang gugur dalam serangan 27 Juli 1996, sebuah detail yang membuat banyak hadirin tak kuasa menahan air mata.
Kilas Balik Kudatuli: Serangan di Diponegoro 58
Bagi generasi muda yang mungkin tidak mengalami langsung, Kudatuli adalah singkatan dari "Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli", merujuk pada tanggal kelam ketika gedung DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58 diserbu oleh ratusan preman yang diduga kuat didukung oleh aparat rezim Orde Baru. Saat itu, Megawati Soekarnoputri tengah menjadi Ketua Umum PDI hasil Kongres Surabaya 1993, yang mendapat tekanan luar biasa karena dianggap simbol perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto. Serangan brutal dengan batu, kayu, dan senjata tajam itu menewaskan sedikitnya lima pendukung Megawati dan melukai puluhan lainnya, serta memicu gelombang demonstrasi mahasiswa yang kemudian menjadi salah satu napas awal gerakan reformasi.
Pengurus PDIP yang hadir menuturkan bahwa monumen ini sengaja dibangun untuk memastikan bahwa tragedi itu tidak pernah dilupakan. “Kami tidak ingin sejarah menjadi sekadar catatan kaki. Monumen ini adalah pengingat bahwa demokrasi yang hari ini kita nikmati dibayar sangat mahal. Darah para kader menetes di halaman partai hanya karena memperjuangkan hak rakyat,” ujar salah satu petinggi partai yang ikut dalam prosesi, sementara sejumlah veteran peristiwa itu duduk di barisan depan dengan wajah penuh haru.
Dalam sambutannya yang terbata-bata, Megawati menekankan bahwa perjuangan belum selesai. Ia berbicara bahwa tugu ini bukan hanya untuk mengenang korban, tetapi juga untuk mengingatkan seluruh kader tentang risiko dari memperjuangkan kebenaran. “Dulu kita melawan tangan besi yang ingin menghancurkan partai dan demokrasi. Hari ini, tantangannya berbeda, tetapi semangatnya harus tetap sama. Saya titipkan kepada generasi penerus untuk menjaga marwah partai seperti yang dilakukan oleh para syuhada di Diponegoro 58,” katanya diiringi gemuruh tepuk tangan. Kehadiran Prananda di sisi Megawati sepanjang pidato memberi sinyal kuat tentang estafet kepemimpinan partai yang akan terus mempertahankan api perjuangan itu.
Simbol Perlawanan dan Kesinambungan
Prananda Prabowo, yang selama ini dikenal sebagai figur kunci di balik layar, kali ini muncul ke depan dalam peran yang lebih publik. Ia membacakan sejumlah puisi pendek yang ditulis oleh para penyintas Kudatuli, menambah atmosfer emosional peresmian. Para pengamat politik melihat momentum ini sebagai penegasan bahwa nilai-nilai perjuangan rumah besar PDIP diwariskan secara langsung dari generasi ke generasi, tidak hanya melalui doktrin tetapi juga lewat simbol-simbol fisik seperti monumen ini.
Menariknya, lokasi monumen ditempatkan tepat di depan pintu masuk utama kantor DPP PDIP yang baru, seolah menjadi garda bagi setiap orang yang datang. Desain arsitekturnya sengaja dibuat kontras dengan gedung modern di sekitarnya, seakan berbicara bahwa masa lalu yang getir adalah fondasi dari kemegahan masa kini. Di sisi kiri dan kanan tugu terdapat prasasti perunggu yang mencatat kronologi lengkap peristiwa Kudatuli, mulai dari manuver politik kongres tandingan buatan pemerintah yang dipaksakan di Medan, hingga penyerbuan yang terjadi pada pagi hari 27 Juli 1996. Teks tersebut disusun oleh tim sejarah partai dengan melibatkan kesaksian langsung dari para pelaku sejarah yang masih hidup, termasuk beberapa kader senior yang saat itu turut mempertahankan gedung.
Peresmian monumen ini juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada keluarga almarhum para korban. Megawati secara pribadi menyerahkan plakat dan bantuan kepada setiap ahli waris, sambil memeluk mereka satu per satu. Momen itu menjadi puncak keharuan, terutama ketika seorang nenek yang kehilangan suaminya dalam peristiwa itu memeluk Megawati cukup lama, dan keduanya menangis tanpa suara. Para fotografer yang memadati area acara pun tampak enggan memotret terlalu dekat, menghormati duka yang masih terasa segar meski tiga dekade telah berlalu.
Di luar gedung, sejumlah elemen masyarakat sipil dan aktivis reformasi 1998 juga hadir memberikan dukungan. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Kudatuli Jangan Terulang” dan “Demokrasi Adalah Nafas Kami”. Seorang aktivis senior yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa monumen ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh bangsa, bukan hanya milik satu partai politik. “Apa yang terjadi di Diponegoro 58 adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang didalangi oleh penguasa yang takut pada kritisisme. Negara ini pernah gelap, dan monumen ini adalah salah satu lentera yang menerangi kegelapan itu,” ujarnya.
Acara ditutup dengan penanaman pohon beringin di samping monumen oleh Megawati dan Prananda, melambangkan harapan agar semangat perlawanan dan demokrasi terus tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Dengan diresmikannya Monumen Kudatuli, PDIP tidak hanya menasbihkan sejarah partai dalam batu dan logam, tetapi juga menegaskan komitmen untuk terus merawat ingatan sebagai modal perjuangan ke depan. Seiring peserta upacara satu per satu membubarkan diri dan langit sore Jakarta mulai merundung, tugu hitam itu berdiri tegas, seakan berkata: kami ingat, dan kami tidak akan pernah lupa.
Comments (0)