Longsor Bungku Utara: 2.104 Jiwa Masih Terisolasi di Dua Desa
Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pekan lalu masih menyisakan krisis kemanusiaan. Hingga kini, 2.104 jiwa dari dua desa terisolasi t...
Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pekan lalu masih menyisakan krisis kemanusiaan. Hingga kini, 2.104 jiwa dari dua desa terisolasi total akibat putusnya akses jalan penghubung. Mereka tidak bisa keluar dan bantuan sulit menembus ke lokasi, menempatkan ribuan warga dalam posisi rentan yang semakin mencekam seiring menipisnya persediaan pangan dan air bersih.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa longsor dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan perbukitan secara terus-menerus selama beberapa hari. Material longsor berupa tanah, lumpur, dan bebatuan menutup jalan utama di beberapa titik dengan ketebalan mencapai tiga meter dan panjang hingga puluhan meter. Jalan poros yang terputus itu merupakan satu-satunya jalur darat yang menghubungkan desa-desa tersebut dengan pusat kecamatan dan daerah lainnya.
Dua Desa Terkepung Tanpa Akses
Kedua desa yang kini bagaikan kantong terisolasi berada di wilayah dengan topografi bergelombang dan dikelilingi tebing-tebing curam. Kontur tanah yang labil memperparah situasi, karena retakan baru bermunculan di lereng-lereng yang masih aktif bergerak. Warga dari 2.104 jiwa itu—yang mencakup keluarga dengan anak-anak, lansia, dan ibu hamil—terpaksa bertahan di rumah masing-masing sembari terus memantau kondisi bukit di sekitar mereka. Beberapa keluarga memilih mengungsi ke balai desa yang dianggap lebih aman, meskipun daya tampungnya sangat terbatas.
Selain ancaman fisik, kebutuhan logistik menjadi persoalan paling mendesak. Stok beras, mi instan, minyak goreng, dan makanan pokok lainnya kian menipis. Warga mencoba mengoptimalkan hasil kebun darurat seperti pisang, ubi, dan sayuran yang masih bisa dipanen, tetapi jumlahnya tidak mampu mencukupi kebutuhan harian secara keseluruhan. Air bersih pun menjadi barang mahal; sungai yang menjadi sumber utama kini keruh dan tercemar lumpur longsor. Beberapa warga terpaksa memanfaatkan air tersebut setelah diendapkan, meski risiko kesehatan tetap tinggi.
Upaya Tembus Jalur dan Kirim Bantuan
Pemerintah Kabupaten Morowali Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah mengerahkan tim reaksi cepat ke lokasi terdekat yang bisa dijangkau. Namun, upaya membuka jalur terkendala kondisi lereng yang masih aktif bergerak dan hujan yang belum reda sepenuhnya. Alat berat seperti ekskavator telah disiagakan di titik sekitar 12 kilometer dari area longsor, tetapi mobilisasinya memakan waktu karena jalan menuju lokasi juga mengalami kerusakan ringan di beberapa bagian.
Tim gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan warga sekitar bahu-membahu membersihkan material dengan peralatan sederhana, seperti cangkul dan linggis, sembari menunggu alat berat tiba. Diperkirakan, jika cuaca membaik dan lereng stabil, jalur darurat bisa mulai dioperasikan dalam tiga hingga empat hari. Sementara itu, opsi pengiriman bantuan lewat jalur udara menggunakan helikopter masih terhambat kabut tebal dan hujan yang sering muncul tiba-tiba. Penerjunan langsung juga berisiko merusak bantuan dan melukai warga jika tidak tepat sasaran.
Organisasi kemanusiaan dan Palang Merah Indonesia (PMI) telah mendirikan posko di kecamatan terdekat untuk menggalang donasi dan menyiapkan logistik. Ribuan paket sembako, obat-obatan, selimut, serta alat penjernih air sudah dikumpulkan dan siap dikirim begitu akses terbuka. Pemerintah provinsi juga mengirimkan stok tambahan melalui jalur laut ke dermaga terdekat, untuk selanjutnya didistribusikan lewat jalan setapak yang mungkin bisa dilewati oleh tim dengan kendaraan kecil atau motor.
Potensi Longsor Susulan
Kondisi geologis Kecamatan Bungku Utara yang mayoritas berupa perbukitan dengan tingkat erosi tinggi membuat potensi longsor susulan tetap terbuka lebar. Beberapa titik retakan di lereng bergerak semakin melebar dan berpotensi mengancam permukiman yang berada di bawahnya. Otoritas setempat merekomendasikan warga di zona merah untuk segera direlokasi sementara, tetapi isolasi yang terjadi justru menghalangi proses evakuasi massal. Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, situasi bisa memburuk dengan cepat.
Respons Pemerintah dan Mitigasi
Penjabat bupati Morowali Utara dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa prioritas saat ini adalah menyelamatkan jiwa dan menjamin pasokan logistik. “Kami sedang berusaha semaksimal mungkin untuk membuka jalur darurat. Tim alat berat sudah disiagakan, tetapi baru bisa dikerahkan begitu cuaca membaik dan stabilitas lereng terkonfirmasi,” ujarnya. Ia juga mengimbau warga untuk tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti arahan petugas.
Masyarakat di daerah lain, terutama yang tinggal di kawasan rawan longsor, diminta meningkatkan kewaspadaan. BMKG setempat terus memberikan informasi perkembangan cuaca. Pemerintah daerah berjanji akan meningkatkan sistem peringatan dini dan melakukan langkah mitigasi struktural, seperti pembangunan tembok penahan tanah dan perbaikan drainase di sepanjang jalan rawan longsor.
Saat ini, lebih dari 2.000 jiwa masih menunggu bantuan di dalam keterbatasan. Setiap jam yang berlalu menjadi semakin kritis bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Solidaritas dan respons cepat dari semua pihak menjadi kunci untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam di Bungku Utara.
Rasa cemas dan ketidakpastian menyelimuti warga yang terisolasi. Beberapa di antaranya mulai menunjukkan gejala stres pascabencana, seperti sulit tidur dan ketakutan berlebih saat hujan turun. Dukungan psikososial darurat sudah disiapkan, namun baru bisa diberikan setelah akses terbuka.
Comments (0)