Application Name Application Name

Patokan

Kategori 9

Lee White Peringatkan Kerusakan Hutan Kongo Picu Perang Air di Afrika

LIBREVILLE — Mantan Menteri Lingkungan Hidup Gabon sekaligus ilmuwan konservasi terkemuka, Lee White, mengeluarkan peringatan keras mengenai masa depan sta

Lee White Peringatkan Kerusakan Hutan Kongo Picu Perang Air di Afrika

LIBREVILLE — Mantan Menteri Lingkungan Hidup Gabon sekaligus ilmuwan konservasi terkemuka, Lee White, mengeluarkan peringatan keras mengenai masa depan stabilitas Benua Afrika. White menegaskan bahwa kehancuran hutan Cekungan Kongo (Congo Basin) berpotensi memicu konflik bersenjata berskala luas atau perang perebutan sumber daya air di berbagai kawasan Afrika jika laju deforestasi dan pengabaian global terus berlanjut.

Hutan hujan Cekungan Kongo kerap dijuluki sebagai "jantung pemompa" Afrika karena peran hidrologisnya yang sangat krusial. Ekosistem terbesar kedua di dunia setelah Amazon ini berfungsi menyerap karbon dalam jumlah masif sekaligus mengatur sirkulasi curah hujan yang menghidupi jutaan penduduk dari kawasan Sahel hingga bagian selatan benua tersebut.

"Jika kita kehilangan Cekungan Kongo, kita tidak hanya kehilangan keanekaragaman hayati dan penyerap karbon dunia, tetapi kita juga menghentikan curah hujan di seluruh Afrika. Hal ini secara langsung dapat memicu perang memperebutkan sumber daya air," tegas Lee White dalam refleksinya setelah empat dekade berkarier di garis depan konservasi Afrika.

Empat Dekade Perjuangan Menjaga Paru-Paru Hijau Gabon

Karier Lee White mencakup perjalanan panjang selama lebih dari 40 tahun dalam mempertahankan ekosistem hutan tropis Afrika Tengah dari ancaman eksploitasi berlebihan. Dedikasinya membawa transformasi signifikan bagi tata kelola lingkungan hidup di Gabon melalui sejumlah tahapan krusial:

  1. Dekade 1990 hingga Awal 2000-an: Menginisiasi riset mendalam mengenai keanekaragaman hayati yang melandasi pembentukan jaringan 13 taman nasional Gabon pada 2002, mencakup sekitar 10 persen dari total wilayah daratan negara tersebut.
  2. Periode 2010–2019: Memimpin Badan Taman Nasional Gabon (ANPN) guna memperketat pengamanan hutan dari perburuan liar gajah hutan dan pembalakan liar berskala industri.
  3. Periode 2019–2023: Menjabat sebagai Menteri Air, Hutan, Laut, dan Lingkungan Hidup Gabon, di mana ia memimpin operasi penegakan hukum tegas terhadap korupsi perdagangan kayu ilegal serta memperjuangkan hak kredit karbon negara berkembang di panggung diplomasi internasional.

Ancaman Bencana Hidrologi dan Instabilitas Geopolitik

Cekungan Kongo membentang melintasi enam negara: Republik Demokratik Kongo, Gabon, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, dan Guinea Ekuatorial. Kawasan ini menghasilkan uap air atmosferik yang memasok siklus hujan hingga ke Sungai Nil di utara dan kawasan pertanian sub-Sahara.

Menurut White, deforestasi terstruktur akibat pembalakan, ekspansi perkebunan komersial, dan pertambangan ilegal mengancam kestabilan sistem cuaca regional. Penurunan curah hujan secara drastis di wilayah hulu dipastikan memperparah kekeringan, memicu kegagalan panen massal, dan memicu migrasi paksa jutaan penduduk yang pada akhirnya berujung pada perebutan akses air tawar antarnegara tetangga.

Kritik Tajam atas Kegagalan Pasar Karbon Global

Selain ancaman ekologis langsung, White mengkritik keras mekanisme pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) global yang dinilainya telah gagal memberikan insentif nyata bagi negara-negara yang berdedikasi menjaga hutan mereka tetap utuh.

  • Harga Karbon yang Terlalu Rendah: Nilai kompensasi karbon hutan tropis dinilai tidak mampu menandingi keuntungan ekonomi jangka pendek dari industri ekstraktif dan pembalakan.
  • Birokrasi Rumit di Negara Maju: Mekanisme pendanaan iklim global dianggap terlalu berbelit-belit dan lambat disalurkan ke masyarakat lokal di garis depan.
  • Ketimpangan Tanggung Jawab: Negara-negara industri penghasil emisi tertinggi dinilai belum menunjukkan komitmen finansial yang sepadan dengan beban konservasi yang ditanggung Afrika.

White mendesak komunitas internasional untuk mereformasi skema pembiayaan iklim secara radikal. Tanpa kompensasi ekonomi yang adil dan berkelanjutan, negara-negara di Cekungan Kongo akan menghadapi tekanan berat untuk membuka hutan mereka demi menopang pertumbuhan ekonomi domestik, sebuah langkah yang berisiko fatal bagi keselamatan iklim dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer3
TENTANG PENULIS writer3

Bacaan Terkait

Comments (0)

User