Kemarahan Kim Yo Jong: Seruan Denuklirisasi ASEAN Dinilai 'Bodoh' dan 'Mimpi Liar'

Ketegangan diplomatik antara Korea Utara dan negara-negara Asia Tenggara kembali memanas setelah Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Kim Jong Un, melontarkan pernyataan keras yang mengecam ...

Jul 28, 2026 - 02:40
0 0
Kemarahan Kim Yo Jong: Seruan Denuklirisasi ASEAN Dinilai 'Bodoh' dan 'Mimpi Liar'

Ketegangan diplomatik antara Korea Utara dan negara-negara Asia Tenggara kembali memanas setelah Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Kim Jong Un, melontarkan pernyataan keras yang mengecam seruan denuklirisasi dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Dengan nada penuh amarah, pejabat senior Partai Buruh Korea itu menyebut imbauan tersebut sebagai sesuatu yang “bodoh” dan hanya sekadar “mimpi liar” yang tidak akan pernah terwujud. Pernyataan ini langsung menimbulkan gelombang reaksi dan kembali menegaskan posisi Pyongyang yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan program persenjataan nuklirnya.

Sosok Kunci di Balik Pernyataan Api

Kim Yo Jong bukan sekadar anggota keluarga pemimpin; ia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di lingkaran inti kekuasaan Korea Utara. Sebagai Wakil Direktur Departemen Propaganda dan Agitasi Partai Buruh Korea, setiap ucapannya sering kali menjadi cerminan langsung dari sikap resmi Pyongyang. Gaya retorikanya yang tajam dan sering kali konfrontatif telah menjadikannya suara utama dalam mengeluarkan peringatan atau kecaman terhadap negara-negara yang dianggap mengancam kedaulatan negaranya. Kali ini, sasaran kemarahannya tertuju pada blok regional Asia Tenggara.

Seruan denuklirisasi dari ASEAN bukanlah hal baru, namun konteks terbaru meningkat seiring dengan berbagai resolusi dan pernyataan bersama yang mendesak Korea Utara untuk mematuhi kewajiban internasionalnya. Dalam pertemuan atau forum regional, negara-negara ASEAN kerap menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea melalui jalur diplomasi dan penghapusan senjata nuklir. Posisi ini sejalan dengan tekanan global yang dipimpin Amerika Serikat serta sanksi Dewan Keamanan PBB. Akan tetapi, bagi Pyongyang, seruan semacam itu dipandang sebagai bentuk intervensi dan pengingkaran terhadap hak mereka untuk mempertahankan diri.

Dengan gaya khas yang langsung dan tanpa basa-basi, Kim Yo Jong membalas seruan tersebut dengan menyebutnya sebagai hal yang “bodoh”. Ia bahkan menyamakannya dengan sebuah ilusi yang tidak didasarkan pada realitas geopolitik. “Mereka mungkin bermimpi melihat kami menyerahkan kekuatan nuklir, tapi itu hanyalah mimpi liar yang tidak akan pernah menjadi kenyataan,” demikian inti pesan yang disampaikan, menegaskan bahwa program nuklir adalah tulang punggung keamanan nasional yang tidak bisa ditawar. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Korea Utara akan terus memperkuat kekuatan nuklirnya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sebagai penangkal terhadap apa yang mereka sebut sebagai permusuhan dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Diplomasi yang Semakin Suram

Serangan verbal ini mempersulit upaya diplomasi yang selama ini dijajaki oleh berbagai pihak, termasuk negara-negara ASEAN yang beberapa di antaranya memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Utara. Indonesia, Vietnam, dan Kamboja, misalnya, selama ini dikenal sebagai jembatan komunikasi informal, namun pernyataan pedas Kim Yo Jong berpotensi memperburuk hubungan dan menutup celah dialog. Langkah Korea Utara yang semakin vokal dalam menolak denuklirisasi menunjukkan bahwa rezim Kim Jong Un sedang berada dalam fase mengonsolidasikan kekuatan nuklirnya sebagai alat tawar-menawar strategis jangka panjang.

Para pengamat menilai bahwa kemarahan ini bukan hanya ditujukan kepada ASEAN semata, melainkan juga sebagai pesan tidak langsung kepada Amerika Serikat dan Korea Selatan. Di saat latihan militer gabungan antara Seoul dan Washington terus berlanjut, Pyongyang menggunakan setiap kesempatan untuk memperlihatkan ketidakpedulian terhadap tekanan internasional. Retorika Kim Yo Jong sering kali mendahului aksi provokatif, seperti uji coba rudal atau peningkatan aktivitas di kompleks nuklir Yongbyon, sehingga kawasan kembali dihadapkan pada ancaman eskalasi.

Ini bukan kali pertama adik Kim Jong Un itu melontarkan kata-kata pedas ke dunia internasional. Beberapa waktu lalu, ia juga pernah melayangkan kecaman serupa kepada Korea Selatan dan Amerika Serikat, bahkan menggunakan istilah-istilah yang lebih vulgar. Pola komunikasi ini menunjukkan bahwa Pyongyang tidak memiliki rencana sedikit pun untuk kembali ke meja perundingan dengan syarat penyerahan senjata nuklir. Malah sebaliknya, mereka terus mengukuhkan doktrin bahwa senjata nuklir adalah jaminan kelangsungan rezim.

Hingga saat ini, pihak ASEAN belum mengeluarkan tanggapan resmi atas komentar pedas tersebut. Namun, sejumlah diplomat dari negara-negara anggota menyatakan keprihatinan mendalam terhadap perkembangan ini. Sikap agresif Korea Utara dianggap sebagai ancaman bagi upaya mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang bebas dari senjata nuklir, sebuah prinsip yang tertuang dalam Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ). Ketidakmampuan ASEAN untuk memberikan efek jera semakin memperlihatkan keterbatasan blok tersebut dalam memengaruhi dinamika keamanan di luar kawasannya.

Dengan kemarahan yang tak kunjung reda, masa depan dialog multilateral di Semenanjung Korea tampak kian kelam. Posisi Korea Utara yang semakin kokoh di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, dengan Kim Yo Jong sebagai corong utamanya, menandakan bahwa tekanan dari mana pun, termasuk dari ASEAN, hanya akan dianggap angin lalu. Bagi Pyongyang, kata “bodoh” dan “mimpi liar” yang dilontarkan adalah cap yang sengaja ditempelkan untuk membungkam suara-suara yang mendesak mereka melepaskan senjata pamungkasnya. Kini, dunia hanya bisa menyaksikan bagaimana program nuklir Negara Pertapa itu terus bertumbuh, seiring dengan semakin tajamnya retorika dari salah satu rezim paling tertutup di dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User