Kegigihan Gilang Harahap, Tiga Kali Seleksi Akpol Tak Pernah Padam
MEDAN – Perjalanan seorang pemuda asal Sumatera Utara bernama Gilang Bonatua Harahap menjadi cermin nyata bahwa impian besar tidak selalu datang dalam satu kali percobaan. Di usianya yang ke-19 tahu...
MEDAN – Perjalanan seorang pemuda asal Sumatera Utara bernama Gilang Bonatua Harahap menjadi cermin nyata bahwa impian besar tidak selalu datang dalam satu kali percobaan. Di usianya yang ke-19 tahun, ia kembali mendaftarkan diri sebagai calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) untuk kali ketiga. Bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena keyakinan dan dukungan keluarga yang terus membara di dadanya. Kisah Gilang bukan sekadar tentang ambisi pribadi, melainkan tentang ketekunan, evaluasi diri, dan cinta yang tak bersyarat dari kedua orang tuanya.
Jatuh Bangun di Dua Seleksi Sebelumnya
Bagi sebagian orang, kegagalan dalam seleksi Akpol—sebuah institusi yang sangat kompetitif—bisa menjadi titik balik untuk mencari jalan lain. Namun tidak bagi Gilang. Pada percobaan pertamanya, ia mengakui masih banyak kekurangan, terutama pada aspek akademik dan psikotes. Meski fisiknya cukup prima, pemahaman soal strategi menghadapi ujian tulis dan wawancara belum matang. Ia pun pulang dengan tangan hampa, namun tidak dengan semangat yang patah.
Kegagalan pertama itu justru membuka matanya bahwa Akpol bukan hanya menguji otot, melainkan juga kecerdasan, mental, dan integritas. Gilang memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia mulai mengatur ulang jadwal hariannya: les tambahan untuk mata pelajaran eksakta, latihan soal psikotes, dan memperdalam wawasan kebangsaan. Orang tuanya, yang bekerja sebagai petani sederhana, tak pernah mengeluh. Mereka justru mendorong Gilang untuk kembali mendaftar tahun berikutnya.
Pada percobaan kedua, Gilang merasa jauh lebih siap. Ia lolos beberapa tahap awal dan mulai optimistis. Sayangnya, pada tahap kesehatan dan kesamaptaan jasmani, ia tersandung di salah satu tes ketahanan. Meski nilainya secara umum meningkat, persaingan yang sangat ketat membuatnya harus mengakui keunggulan peserta lain. “Waktu itu rasanya seperti jatuh dari tangga yang sudah setengah didaki,” kenang Gilang, bukan dengan nada putus asa, melainkan introspeksi. Ia sadar bahwa Akpol membutuhkan kesempurnaan di semua lini, dan ia belum mencapai titik itu.
Dukungan Orang Tua Jadi Pilar Kekuatan
Di tengah dua kali kekecewaan, ada satu hal yang tidak pernah berubah: pelukan hangat dan doa tulus dari kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Gilang tidak pernah menyalahkan hasil yang belum memihak. Justru, mereka selalu hadir dengan sepiring nasi hangat dan kata-kata sederhana: “Rezeki tidak akan tertukar, Nak. Kalau memang jalannya di Akpol, pasti suatu hari nanti Tuhan bukakan.” Dukungan seperti itulah yang menjadi bahan bakar Gilang untuk bangkit lagi.
Praktisi psikologi dari Universitas Sumatera Utara, dalam kesempatan terpisah, menjelaskan bahwa dukungan keluarga yang non-toksik sangat berpengaruh terhadap resiliensi seorang anak muda. “Ketika orang tua memberikan ruang aman untuk gagal, anak justru belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Mereka tidak akan tumbuh dengan rasa takut, melainkan dengan keberanian untuk terus mencoba,” jelasnya. Hal ini persis yang dialami Gilang. Tanpa tekanan berlebihan, ia bisa fokus memperbaiki diri tanpa dibayangi rasa bersalah.
Gilang bercerita, di sela-sela persiapan, sang ayah kerap mengajaknya berdiskusi ringan tentang makna pengabdian. “Bapak bilang, jadi polisi itu bukan soal gagah-gagahan pakai seragam, tapi soal seberapa besar hatimu untuk melayani orang lain,” ucap Gilang menirukan petuah ayahnya. Pesan sederhana itu terus terngiang dan menjadi kompas moral yang menuntunnya melewati masa-masa sulit.
Evaluasi Diri dan Strategi Baru
Menghadapi seleksi ketiga, Gilang tidak sekadar mengulangi pola lama. Ia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dua kegagalan sebelumnya. Bersama sejumlah mentor dan senior yang sudah lebih dulu lolos Akpol, ia memetakan titik-titik kelemahannya. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa selain fisik dan akademik, aspek psikologis—terutama manajemen stres dan kepercayaan diri saat wawancara—menjadi batu sandungan yang signifikan.
Gilang pun mengubah pendekatannya. Ia mulai rajin mengikuti simulasi wawancara, belajar teknik pernapasan untuk menenangkan diri, dan lebih sering berdiskusi dengan para alumni Akpol untuk memahami esensi dari setiap tahapan seleksi. “Saya tidak mau lagi datang hanya bermodal nekat. Kali ini saya datang dengan data: apa yang kurang, apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana caranya,” tuturnya penuh keyakinan.
Secara fisik, ia menambah porsi latihan pada jenis tes yang sebelumnya gagal, seperti lari ketahanan dan renang. Ia juga menjaga pola makan dan istirahat dengan lebih disiplin. Bahkan, ia mulai mencatat setiap perkembangan kecil dalam sebuah jurnal pribadi. Jurnal itu bukan hanya berisi angka, melainkan juga refleksi harian tentang motivasi dan kondisi mentalnya. Metode ini diakuinya sangat membantu untuk tetap fokus di tengah tekanan.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Takut Gagal
Kisah Gilang tidak hanya miliknya sendiri. Ia mewakili ribuan pemuda Indonesia yang bermimpi menjadi abdi negara lewat jalur Akpol, namun kerap dihantui rasa takut akan penolakan dan stigma sosial. Melalui pengalamannya, Gilang ingin menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. “Gagal itu biasa, yang tidak biasa adalah berhenti di kegagalan pertama. Selama masih ada kesempatan, dan selama orang tua masih mendukung, tidak ada alasan untuk menyerah,” tegasnya.
Pengamat pendidikan karakter dari sebuah lembaga swadaya masyarakat menilai bahwa apa yang dilakukan Gilang adalah contoh nyata dari growth mindset—pola pikir berkembang yang meyakini bahwa kemampuan bisa diasah dengan usaha dan pembelajaran berkelanjutan. “Anak-anak muda kita perlu lebih banyak mendengar kisah seperti ini. Bukan kisah instan yang selalu berakhir sukses, melainkan proses panjang yang penuh perjuangan,” katanya.
Gilang sendiri mengaku tidak terlalu memikirkan omongan orang yang meragukan langkahnya. “Saya hanya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa. Dan suatu hari nanti, ketika saya sudah memakai seragam Akpol, saya ingin pulang ke kampung dan memeluk orang tua saya. Di situlah semua lelah ini akan terbayar,” pungkasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kini, dengan persiapan yang lebih matang dan mental yang lebih teruji, Gilang kembali melangkahkan kaki ke gedung tempat seleksi berlangsung. Tidak ada jaminan kelolosan, namun satu hal pasti: ia telah memenangkan pertarungan melawan rasa takut dan putus asa. Apapun hasil Akpol nanti, Gilang Bonatua Harahap sudah menjadi pemenang dalam proses panjang pendewasaan diri. Dan bagi masyarakat Sumatera Utara, ia adalah inspirasi bahwa pantang menyerah adalah warisan budaya yang tak lekang oleh zaman.
Comments (0)