Kebakaran Melanda Lahan di Sekitar Gerbang Tol Kramasan Ogan Ilir

OGAN ILIR — Sebuah kebakaran lahan terjadi tepat di sisi Gerbang Tol Kramasan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pada Minggu (26/7/2026). Api dengan cepat membakar vegetasi kering dan semak bel...

Jul 28, 2026 - 07:29
0 0
Kebakaran Melanda Lahan di Sekitar Gerbang Tol Kramasan Ogan Ilir

OGAN ILIR — Sebuah kebakaran lahan terjadi tepat di sisi Gerbang Tol Kramasan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pada Minggu (26/7/2026). Api dengan cepat membakar vegetasi kering dan semak belukar di lahan tidur milik warga di Desa Ibul Besar I, Kecamatan Pemulutan. Gumpalan asap hitam pekat membubung tinggi, mengganggu jarak pandang pengguna jalan tol yang melintas di sekitar lokasi kejadian.

Insiden ini menambah daftar panjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda wilayah Sumatera Selatan saat puncak musim kemarau. Lokasi persisnya yang berada hanya beberapa puluh meter dari pintu tol membuat kobaran api mudah terlihat oleh para pengemudi dan petugas jaga tol. Warga setempat melaporkan bahwa api mulai terlihat sekitar pukul 12.30 WIB dan dengan cepat menyebar karena tiupan angin yang cukup kencang.

Respons Cepat dan Upaya Pemadaman

Begitu menerima laporan, tim pemadam kebakaran dari Pemkab Ogan Ilir bersama personel BPBD Ogan Ilir langsung dikerahkan menuju titik api. Sebanyak tiga unit mobil pemadam tiba di lokasi sekitar 30 menit setelah laporan masuk. Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama akses menuju sumber api yang terhalang parit dan lahan gambut yang mudah terbakar. Selain itu, minimnya sumber air di sekitar lokasi memaksa petugas untuk menarik selang sepanjang lebih dari 200 meter dari saluran irigasi terdekat.

“Kondisi angin kencang dan banyaknya material kering di permukaan tanah membuat api sangat mudah menjalar. Kami harus bekerja ekstra agar kobaran tidak merambat ke lahan milik warga yang lebih luas,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Ogan Ilir, melalui sambungan telepon. Petugas berhasil mengendalikan api setelah sekitar dua jam pemadaman intensif, meski titik-titik api kecil masih terpantau dan dilakukan pembasahan lanjutan hingga malam hari.

Kendala di Medan Gambut

Sebagian lahan yang terbakar merupakan tanah gambut dengan ketebalan sedang. Api pada lahan gambut kerap merembet di bawah permukaan, menghasilkan asap tebal yang sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman air. Untuk itu, petugas menerapkan metode pemadaman dengan menyuntikkan air ke lapisan gambut yang terbakar menggunakan peralatan khusus. Proses ini memakan waktu lebih lama dan membutuhkan volume air yang besar.

Seorang relawan lokal yang ikut membantu, mengungkapkan bahwa kebakaran lahan di wilayah ini hampir terjadi setiap tahun saat kemarau tiba. “Biasanya lahan sengaja dibersihkan dengan cara dibakar oleh oknum yang ingin membuka kebun. Kalau angin besar, apinya langsung merambat ke mana-mana,” katanya, tanpa menyebut identitas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terkait penyebab pasti kebakaran tersebut.

Dampak pada Pengguna Jalan Tol

Kebakaran yang berada di sisi gerbang tol menimbulkan risiko serius bagi para pengendara di Ruas Tol Kayuagung–Palembang–Betung (Kapalbetung). Asap tebal sempat mengurangi jarak pandang menjadi kurang dari 100 meter di segmen jalan yang melintas dekat pintu Kramasan. Pihak pengelola jalan tol, PT Jalan Tol Sumatera, segera memasang papan peringatan elektronik dan mengimbau pengendara untuk mengurangi kecepatan dan menyalakan lampu utama kendaraan. Tidak ada kecelakaan yang dilaporkan akibat insiden ini, namun arus lalu lintas sempat tersendat selama proses pemadaman berlangsung.

Dampak lingkungan juga menjadi perhatian. Asap yang mengandung partikel halus (PM2.5) berpotensi memicu gangguan pernapasan bagi warga di permukiman terdekat, termasuk Desa Ibul Besar I dan sekitarnya. Dinas Kesehatan Ogan Ilir mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan segera memeriksakan diri jika mengalami sesak napas atau iritasi mata.

Dugaan Pemicu dan Peringatan Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan memasuki puncak musim kemarau pada Juli—Agustus 2026 dengan potensi kebakaran lahan yang tinggi. Kurangnya curah hujan membuat vegetasi menjadi kering dan sangat mudah terbakar. Selain faktor alam, praktik pembakaran lahan untuk pertanian masih menjadi pemicu dominan karhutla di provinsi ini, meskipun sudah ada larangan tegas dari pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir terus mengimbau warganya untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Sanksi pidana yang berat menanti para pelaku pembakaran lahan, termasuk ancaman penjara hingga 10 tahun dan denda miliaran rupiah sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun, penegakan hukum di lapangan seringkali terkendala minimnya saksi dan bukti.

Langkah Antisipasi dan Patroli Terpadu

Menindaklanjuti insiden ini, BPBD Ogan Ilir bersama TNI, Polri, dan pemerintah desa memperkuat patroli rutin di titik-titik rawan karhutla, terutama di lahan gambut dan kawasan yang berbatasan dengan infrastruktur vital seperti jalan tol. Posko-posko pemantauan didirikan di beberapa kecamatan, termasuk Pemulutan dan Indralaya, untuk mempercepat deteksi dini dan respons apabila terjadi kebakaran susulan.

“Ini menjadi peringatan bagi kita semua. Kami minta seluruh elemen masyarakat ikut serta mencegah kebakaran lahan. Jangan hanya mengandalkan petugas pemadam, karena persoalan ini menyangkut keselamatan bersama,” tegas seorang pejabat daerah saat meninjau lokasi, Senin (27/7/2026). Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan perusahaan perkebunan di sekitar Ogan Ilir agar ikut memperkuat sumber daya pemadaman mandiri di areal masing-masing.

Bagi masyarakat yang melihat titik api atau mencurigakan, diimbau segera melapor ke aparat desa atau melalui layanan darurat 112 yang tersedia di Kabupaten Ogan Ilir. Dengan kewaspadaan bersama, diharapkan bencana asap akibat karhutla yang pernah melumpuhkan Sumsel pada tahun-tahun sebelumnya tidak terulang kembali.

Hingga Minggu malam, petugas masih melakukan pendinginan di lokasi bekas kebakaran untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Luas lahan yang hangus diperkirakan mencapai dua hektare, namun angka pasti masih menunggu hasil verifikasi tim di lapangan. Tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa ini, demikian pula tidak ada rumah penduduk yang terancam karena jarak permukiman terdekat sekitar 500 meter dari titik api.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User