Kebakaran Lahan Hanguskan Perkebunan Warga di Pulang Pisau

PULANG PISAU — Api terus melahap hutan dan lahan perkebunan di sejumlah titik Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kejadian ini meninggalkan kerugian besar bagi masyarakat setempat sekaligus m...

Aug 14, 2026 - 06:30
0 0
Kebakaran Lahan Hanguskan Perkebunan Warga di Pulang Pisau

PULANG PISAU — Api terus melahap hutan dan lahan perkebunan di sejumlah titik Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kejadian ini meninggalkan kerugian besar bagi masyarakat setempat sekaligus mengancam ekosistem di wilayah tersebut. Petugas gabungan dikerahkan untuk membendung lonjakan api yang semakin meluas akibat kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan vegetasi alam, tetapi juga merusak kebun dan tanaman produktif milik warga. Akibatnya, puluhan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan kini harus menerima kenyataan pahit atas hilangnya sumber penghidupan mereka dalam waktu singkat. Barangkali, pemulihan kondisi lahan akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Kondisi Lapangan Semakin Memburuk

Dari pantauan di lokasi, bara api dengan cepat menjalar ke berbagai arah didorong oleh hembusan angin kencang. Kondisi tanah yang kering akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir semakin memperburuk situasi. Lahan gambut yang menjadi ciri khas wilayah ini justru berperan sebagai bahan bakar alami yang sulit dipadamkan begitu api menyentuh permukaannya.

Asap tebal membubung ke udara dan mengaburkan jarak pandang di sepanjang jalan utama menuju kawasan terdampak. Warga yang tinggal di radius beberapa kilometer dari titik api mengaku mulai merasakan gangguan pernapasan. Beberapa kelompok masyarakat terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah, sementara anak-anak dan lansia diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan guna menghindari paparan partikel debu dan karbon yang terus meningkat.

Tim pemadam dari berbagai pihak harus berjibaku melawan api yang tidak mengenal waktu. Mereka bekerja secara bergilir siang dan malam untuk memastikan api tidak meluas ke permukiman padat. Namun, medan yang sulit dijangkau serta keterbatasan sumber air di lokasi terpengah menjadi tantangan tersendiri yang menghambat proses pemadaman dengan cepat.

Kerugian Warga Semakin Meluas

Pihak terdampak mengungkapkan bahwa api telah melahap berbagai jenis tanaman, mulai dari palawija hingga perkebunan skala menengah yang menjadi andalan ekonomi lokal. Ladang yang seharusnya memasuki masa panen dalam waktu dekat kini berubah menjadi lahan gersang hitam legam. Kehilangan ini tentu saja menimbulkan beban psikologis sekaligus finansial yang tidak ringan bagi para petani.

Selain kerusakan pada sektor pertanian, kebakaran juga mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Sektor pariwisata dan perdagangan lokal ikut merasakan dampaknya karena daya tarik wilayah ini menurun akibat kabut asap yang menyelimuti. Beberapa warga bahkan terpaksa mengungsi sementara ke lokasi yang lebih aman demi menjaga kesehatan keluarga, terutama yang memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis.

Pemerintah desa setempat mencatat ada puluhan hektare lahan yang telah berubah menjadi abu. Angka ini diprediksi akan terus bertambah jika hujan tidak segera turun dan angin tetap bertiup kencang. Sementara itu, tim gabungan terus berupaya membuat sekat bakar guna memutus mata rantai penyebaran api ke area yang lebih luas dan lebih padat penduduknya.

Upaya Pemadaman dan Koordinasi Pihak Terkait

Berbagai pihak mulai dari pemadam kebakaran, TNI-Polri, hingga relawan masyarakat diterjunkan ke garis depan. Mereka membentuk posko-posko darurat di titik-titik rawan untuk mempercepat respons saat api muncul di lokasi baru. Pendekatan preventif juga diterapkan dengan melakukan patroli rutin di kawasan-kawasan yang dianggap rentan terhadap kebakaran selama musim kemarau.

Kendati demikian, personel di lapangan mengakui bahwa pemadaman dari udara menggunakan water bombing belum bisa dilakukan secara maksimal karena berbagai kendala teknis dan cuaca. Oleh karena itu, upaya pemadaman lebih banyak mengandalkan tenaga manusia dengan peralatan manual serta mobil pemadam yang dapat menjangkau lokasi. Air dari sungai terdekat dan tangki cadangan menjadi andalan utama untuk menyiram bara yang terus menyala di permukaan gambut.

Kepala desa di wilayah terdampak memastikan bahwa koordinasi dengan pihak berwenang berjalan intensif. Logistik seperti makanan, minuman, dan peralatan keselamatan terus didistribusikan kepada petugas yang bertugas di medan. Ia juga mengimbau warganya untuk tidak melakukan pembakaran lahan meskipun dalam skala kecil, mengingat risiko penyebaran api yang sangat tinggi saat ini.

Peringatan dan Antisipasi Ke Depan

Musim kemarau yang berkepanjangan di Kalimantan Tengah memang menjadi faktor pemicu utama meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat bahwa suhu panas dan kelembapan rendah masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Pemerintah kabupaten telah mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Sanksi tegas juga diancam bagi siapa saja yang terbukti melakukan pembakaran liar. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka kebakaran sekaligus mencegah terulangnya tragedi serupa yang setiap tahun menghambat perekonomian dan kesehatan warga Pulang Pisau.

Masyarakat diharapkan dapat aktif berperan sebagai garda terdepan dengan segera melaporkan jika menemukan titik api di sekitar permukiman mereka. Partisipasi publik dinilai sangat penting mengingat keterbatasan personel pemadam di lapangan. Hanya dengan kerja sama semua pihak, dampak kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir dan rehabilitasi lahan dapat segera dimulai demi kesejahteraan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User