Haedar Nashir Serukan Pers Beretika dan Kritik Konstruktif untuk Indonesia

Dalam sebuah momentum yang mengusung semangat kebangsaan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan orasi yang menggugah perhatian banyak kalangan. Hadir sebagai pembicara ut...

Aug 14, 2026 - 04:13
0 0
Haedar Nashir Serukan Pers Beretika dan Kritik Konstruktif untuk Indonesia

Dalam sebuah momentum yang mengusung semangat kebangsaan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan orasi yang menggugah perhatian banyak kalangan. Hadir sebagai pembicara utama dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah, ia membawakan pandangan mendalam tentang bagaimana dunia jurnalistik seharusnya berperan dalam membangun peradaban bangsa. Bagi Haedar, pers tidak sekadar institusi yang menyampaikan informasi, melainkan sebuah kekuatan moral yang mampu membentuk arah perjalanan sebuah negara.

Pada kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa kebebasan menyuarakan fakta harus selalu disertai dengan tanggung jawab yang tinggi. Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap kali menimbulkan kebingungan, kehadiran media massa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur menjadi semakin krusial. Haedar menegaskan bahwa setiap pemberitaan yang lahir dari ruang redaksi seyogyanya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan malah menciptakan perpecahan atau kegaduhan yang sia-sia.

Peran Strategis Pers dalam Kehidupan Berbangsa

Menurut Haedar Nashir, peran pers dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diremehkan. Media massa berfungsi sebagai cermin yang merefleksikan kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat. Melalui tulisan dan laporan yang terukur, wartawan sejatinya berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan kebijakan publik. Mereka menjadi penghubung antara pemerintah dan rakyat, menyampaikan aspirasi dari bawah sekaligus mengawal pelaksanaan program-program pembangunan dari atas.

Lebih dari itu, Haedar melihat pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi yang sehat. Tanpa keberadaan media yang independen dan profesional, ruang publik akan kehilangan arah dan menjadi rentan terhadap manipulasi. Oleh karena itu, ia mendorong insan pers untuk terus mengasah kemampuan analitis dan kompetensi keilmuan agar setiap berita yang dihasilkan memiliki bobot dan kedalaman. Bukan sekadar laporan permukaan, melainkan kajian yang mampu menggali akar permasalahan bangsa.

Dalam pandangannya, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang beredar di tengah masyarakat. Jika publik terus-menerus dikelilingi oleh kabar yang terverifikasi dengan baik, maka keputusan-keputusan strategis yang diambil bersama akan berada pada jalur yang benar. Sebaliknya, ketika informasi diproduksi tanpa prinsip kehati-hatian, konsekuensinya bisa sangat fatal bagi persatuan dan kesatuan negara.

Etika dan Kritik Konstruktif sebagai Pilar Kemajuan

Salah satu poin yang paling ditekankan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah urgensi etika dalam setiap aktivitas jurnalistik. Haedar berpendapat bahwa kekuatan pers terletak pada kepercayaan publik, dan kepercayaan tersebut hanya bisa dibangun melalui konsistensi moral. Setiap praktik pewartaan harus menjauhi manipulasi data, provokasi sensasional, dan penyebaran narasi bohong yang belakangan marak di dunia maya. Integritas harus menjadi kompas utama yang menuntun langkah setiap jurnalis.

Selain soal etika, Haedar juga mengajak para pelaku pers untuk tidak takut menyuarakan kritik. Namun, ia membedakan antara kritik yang bersifat destruktif dengan yang bersifat membangun. Kritik konstruktif, menurutnya, adalah bentuk kepedulian tertinggi terhadap kemajuan bangsa. Kritik semacam ini tidak ditujukan untuk menjatuhkan atau mempermalukan pihak tertentu, melainkan untuk mengoreksi kekeliruan dan menemukan solusi terbaik bagi permasalahan yang dihadapi negara.

Haedar menambahkan bahwa pers yang berkualitas justru lahir dari kemampuannya melihat kekurangan dengan mata hati yang tulus. Ketika media mampu menyajikan laporan yang mengupas tuntas persoalan tanpa tendensi politik sempit, maka ruang perbaikan akan terbuka lebar. Pemerintah dan masyarakat dapat saling mengingatkan dalam suasana yang bermartabat. Inilah yang kemudian menjadi fondasi kokoh bagi terwujudnya tata kelola negara yang baik dan bersih.

Di sisi lain, ia juga menyoroti peran aktif masyarakat dalam menyikapi setiap informasi yang diterima. Literasi media yang rendah akan membuat publik menjadi konsumen pasif yang mudah terjebak dalam perangkap opin palsu. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan membaca, menelaah, dan memahami konteks berita menjadi tugas bersama yang tidak kalah pentingnya.

Memperkuat Literasi untuk Generasi Mendatang

Menyentuh soal literasi, Haedar Nashir meyakini bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada seberapa cerdas generasi muda dalam menyaring informasi. Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang digelar kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada ranah akademis semata. Kemampuan untuk memahami bahasa visual, teks, dan narasi digital harus menjadi bekal utama bagi setiap individu agar mampu bertahan di tengah banjir informasi yang tak terkendali.

Haedar menegaskan bahwa literasi yang tinggi akan melahirkan masyarakat yang kritis dan berdaya. Mereka tidak akan mudah terpancing oleh berita provokatif atau isu-isu yang sengaja dibesar-besarkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, dengan pemahaman yang matang, publik justru akan menjadi mitra pers dalam menyebarkan kebenaran dan menekan penyebaran berita bohong. Sinergi antara media yang profesional dan masyarakat yang terdidik inilah yang akan menciptakan ekosistem informasi yang sehat.

Menyikapi perkembangan teknologi, ia juga mengingatkan agar paradigma literasi terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Anak-anak muda perlu diajarkan cara memverifikasi sumber, memahami algoritma media sosial, dan mengenali bias dalam setiap pemberitaan. Pendidikan semacam ini, menurut Haedar, harus menjadi agenda prioritas tidak hanya bagi lembaga pendidikan formal, tetapi juga bagi ormas-ormas keagamaan dan kemasyarakatan yang memiliki jaringan luas di pelosok negeri.

Dalam penutup orasinya, Haedar Nashir kembali menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam mendukung dunia pers yang berintegritas. Ia berharap agar setiap elemen bangsa dapat bersatu padu menjaga kemurnian informasi demi terciptanya Indonesia yang lebih maju dan bermartabat. Pesan yang disampaikannya bukan sekadar retorika, melainkan sebuah seruan untuk kembali kepada esensi pers sebagai alat peradaban yang mencerahkan dan menyatukan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User