Kebakaran Gambut Meranti Meluas, Petugas Kewalahan Padamkan Api Bawah Tanah
KEPULAUAN MERANTI — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, terus menghadapi
KEPULAUAN MERANTI — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, terus menghadapi tantangan berat. Tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) harus berjibaku memadamkan kobaran api yang tidak hanya membakar vegetasi permukaan, tetapi juga merambat di dalam tanah gambut sedalam hingga 4 meter.
Kombinasi cuaca kering, hembusan angin kencang khas wilayah pesisir, serta minimnya sumber air di sekitar titik api membuat proses pemadaman dan pendinginan (cooling down) berjalan lambat. Selain ancaman kebakaran gambut, otoritas setempat juga menyoroti indikasi perambahan hutan mangrove yang memperparah degradasi ekosistem pesisir di kepulauan tersebut.
Kronologi dan Perkembangan Titik Api di Lapangan
Berdasarkan data pemantauan satelit dan laporan tim reaksi cepat di lapangan, eskalasi kebakaran terjadi melalui beberapa tahapan krusial:
- Deteksi Titik Panas Awal: Satelit mendeteksi lonjakan anomali termal (hotspot) di kawasan hutan dan lahan gambut Meranti sejak awal pekan, memicu patroli darat dari posko siaga karhutla terdekat.
- Penyebaran Cepat Akibat Angin Kencang: Dalam hitungan jam, semak belukar kering dan serasah gambut terbakar hebat, dipercepat oleh hembusan angin laut yang berubah-ubah arah.
- Penetrasi Api ke Lapisan Dalam: Api permukaan menjalar ke lapisan organik bawah tanah hingga kedalaman 3–4 meter, menghasilkan kepulan asap tebal tanpa lidah api yang terlihat jelas di permukaan.
- Pengerahan Tim Gabungan dan Mesin Pompa: Petugas gabungan diterjunkan ke lokasi dengan membawa mesin pompa air portabel dan selang panjang untuk menyisir area yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Tantangan Medan dan Karakteristik Gambut Dalam
Karakteristik lahan gambut di Kepulauan Meranti memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi saat musim kemarau. Ketika lapisan atas mengering, material organik gambut bertindak layaknya spons bahan bakar padat yang sangat mudah tersulut dan sulit dipadamkan.
"Kondisi medan sangat terisolasi dan hanya bisa diakses menggunakan perahu cepat melalui kanal, dilanjutkan berjalan kaki menembus vegetasi lebat. Api yang berada di kedalaman 4 meter membutuhkan ribuan liter air bertekanan tinggi agar benar-benar padam hingga ke akarnya," ungkap salah satu koordinator lapangan BPBD di lokasi.
Beberapa kendala utama yang dihadapi petugas di lapangan meliputi:
- Kedalaman Gambut Ekstrem: Api bertahan berhari-hari di lapisan bawah tanah (smoldering) meski bagian permukaan tampak telah padam.
- Keterbatasan Sumber Air: Kanal-kanal dan parit alami di sekitar lokasi mulai mengering dan mengalami pendangkalan.
- Risiko Asap Beracun: Asap pekat mengandung karbon monoksida tebal yang membatasi jarak pandang dan mengancam kesehatan pernapasan personel pemadam.
- Aksesibilitas Geografis: Lokasi kebakaran berada di pulau terluar dengan infrastruktur jalan darat yang minim.
Dugaan Perambahan Hutan Mangrove dan Penegakan Hukum
Di samping kebakaran lahan gambut, aparat penegak hukum dan dinas lingkungan hidup setempat tengah mendalami dugaan aktivitas ilegal berupa perambahan hutan mangrove di kawasan pesisir. Pembukaan lahan secara tidak bertanggung jawab, baik untuk perkebunan maupun tambak liar, dinilai memicu kerusakan bentang alam yang mempercepat pengeringan kubah gambut di sekitarnya.
Pemerintah daerah menegaskan tidak akan menoleransi pihak manapun yang terbukti sengaja melakukan pembakaran atau perambahan kawasan konservasi. Penyelidikan lapangan terus berjalan bersama pihak kepolisian guna mencari bukti permulaan dan menindak tegas para pelaku perusakan lingkungan.




Comments (0)