Kebakaran Bromo Hanguskan 520 Hektare, Taman Nasional Ditutup Total

Api yang membakar kawasan sabana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas dan memaksa pengelola menutup seluruh akses wisata ke destinasi ikonik Jawa Timur tersebut. Hingga Senin (1...

Aug 11, 2026 - 22:31
0 1
Kebakaran Bromo Hanguskan 520 Hektare, Taman Nasional Ditutup Total

Api yang membakar kawasan sabana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas dan memaksa pengelola menutup seluruh akses wisata ke destinasi ikonik Jawa Timur tersebut. Hingga Senin (10/8/2026), luas lahan yang dilalap api diperkirakan mencapai sekitar 520 hektare. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kebakaran hutan dan lahan terbesar yang pernah melanda kawasan kaldera Tengger dalam beberapa tahun terakhir.

Dari udara, gumpalan asap tebal tampak membumbung tinggi dari lereng perbukitan yang biasanya menghijau. Jilatan api menjalar cepat di antara hamparan rumput kering, meninggalkan bentang lahan menghitam yang kontras dengan panorama Bromo yang selama ini memikat wisatawan. Dalam sejumlah potret terkini, garis api masih terlihat aktif di beberapa titik, terutama di wilayah sabana yang sulit dijangkau oleh petugas pemadam di lapangan.

Penutupan Total Kawasan Wisata

Sebagai langkah antisipasi, pengelola taman nasional memutuskan menutup sementara seluruh pintu masuk menuju kawasan Bromo. Penutupan mencakup jalur populer dari Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Wisatawan yang telah memesan tiket secara daring diminta menunda perjalanan hingga situasi dinyatakan aman. Pengelola menyediakan mekanisme penjadwalan ulang maupun pengembalian dana bagi pengunjung yang terdampak kebijakan ini. Keputusan tersebut diambil demi keselamatan pengunjung, mengingat asap tebal dan pergerakan api yang sulit diprediksi.

Petugas gabungan juga ditempatkan di sejumlah pos penjagaan untuk memastikan tidak ada wisatawan yang nekat menerobos masuk. Masyarakat sekitar diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor apabila melihat titik api baru. Penutupan ini akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan kondisi di lapangan dan hasil pemantauan udara di sekitar kawasan konservasi.

Upaya Pemadaman Terus Dilakukan

Tim gabungan yang terdiri dari petugas taman nasional, pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk menjinakkan api. Pemadaman dilakukan dengan menyemprotkan air, membuat sekat bakar, serta memantau pergerakan api dari udara. Kendala utama yang dihadapi adalah medan berbukit yang curam dan angin kencang khas musim kemarau yang membuat api cepat menyebar. Pasokan air yang terbatas di kawasan kaldera juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas yang berjaga siang dan malam.

Sejumlah warga desa di sekitar kawasan turut bahu-membahu membantu proses pemadaman dengan peralatan seadanya. Mereka bergotong royong membuat parit pemisah agar api tidak merambat ke permukiman. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan pada rumah penduduk akibat kebakaran tersebut. Kendati demikian, seluruh pihak tetap bersiaga mengingat arah angin dapat berubah sewaktu-waktu.

Dampak bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Penutupan kawasan Bromo berdampak langsung pada denyut ekonomi masyarakat sekitar yang sebagian besar bergantung pada sektor pariwisata. Penyedia jasa jip, ojek, penginapan, hingga pedagang kuliner harus kehilangan penghasilan selama kawasan ditutup. Padahal, Bromo biasanya ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama pada musim kemarau ketika langit cerah dan pemandangan matahari terbit terlihat jelas. Para pelaku usaha berharap kebakaran segera terkendali agar aktivitas wisata dapat pulih seperti sedia kala.

Sebelumnya, kawasan Bromo juga sempat ditutup akibat kebakaran sabana yang dipicu aktivitas manusia. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi pengelola maupun pengunjung untuk lebih berhati-hati. Edukasi mengenai bahaya api di kawasan konservasi terus digencarkan, termasuk larangan menyalakan api unggun, membuang puntung rokok sembarangan, serta menggunakan suar atau kembang api di area terbuka.

Musim Kemarau Picu Kerentanan Kebakaran

Musim kemarau panjang membuat vegetasi di kawasan Tengger mengering dan mudah terbakar. Rumput sabana yang menguning menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut, bahkan oleh percikan api kecil sekalipun. Kondisi ini diperparah oleh hembusan angin kencang yang mempercepat rambatan api dari satu bukit ke bukit lainnya. Para ahli mengingatkan bahwa kebakaran berulang dapat mengganggu ekosistem, mengancam habitat satwa liar, dan memicu erosi serta banjir bandang ketika musim hujan tiba.

Masyarakat dan wisatawan diimbau mematuhi seluruh arahan petugas serta tidak mendekati kawasan yang terbakar. Informasi resmi mengenai pembukaan kembali kawasan wisata akan diumumkan setelah api benar-benar padam dan kondisi dinyatakan aman. Hingga saat ini, fokus utama seluruh pihak adalah memastikan kebakaran tidak meluas lebih jauh, melindungi ekosistem Tengger, dan menjaga keselamatan warga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User