Badan Geologi Ungkap Penyebab Semburan Lumpur di Oro-oro Kesongo Blora

PATOKAN – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan resmi terkait fenomena semburan lumpur yang muncul di kawasan Oro-oro Kesongo, Kabupaten Blora, Jawa T...

Aug 11, 2026 - 23:09
0 1
Badan Geologi Ungkap Penyebab Semburan Lumpur di Oro-oro Kesongo Blora

PATOKAN – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan resmi terkait fenomena semburan lumpur yang muncul di kawasan Oro-oro Kesongo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Berdasarkan kajian awal, semburan tersebut dipicu oleh aktivitas gunung api lumpur atau mud volcano, sebuah fenomena geologi yang memang dikenal menjadi ciri khas lanskap di sebagian wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Fenomena ini menarik perhatian publik setelah lumpur bercampur gas menyembur dari dalam tanah dan menggenangi area di sekitarnya. Warga sempat khawatir kejadian itu merupakan pertanda bencana besar. Namun, Badan Geologi memastikan semburan tersebut merupakan proses alamiah yang dapat dijelaskan secara ilmiah dan tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik magmatis.

Tekanan Gas di Bawah Permukaan Jadi Pemicu Utama

Menurut penjelasan Badan Geologi, semburan lumpur terjadi ketika gas yang terperangkap di dalam lapisan bumi, umumnya berupa metana, terakumulasi dan menciptakan tekanan berlebih di bawah permukaan. Tekanan itu kemudian mendorong campuran air, gas, dan material sedimen berupa lempung ke atas melalui rekahan atau zona lemah pada lapisan tanah.

Wilayah Blora dan sekitarnya berada dalam jalur geologi yang dikenal sebagai Zona Kendeng, kawasan yang tersusun oleh batuan sedimen berumur relatif muda dan kaya lapisan lempung. Kondisi ini membuat daerah tersebut rentan mengalami rembesan gas alam yang keluar bersama lumpur. Fenomena serupa juga dapat ditemui di sejumlah titik lain di Jawa Tengah, seperti kawasan Bledug Kuwu di Kabupaten Grobogan yang telah lama dikenal sebagai destinasi wisata geologi.

Badan Geologi menegaskan bahwa semburan lumpur semacam ini berbeda dengan letusan gunung berapi. Tidak ada magma yang terlibat dalam prosesnya. Material yang keluar ke permukaan murni berasal dari sedimen lunak yang terdorong oleh tekanan gas dan air dari kedalaman tertentu.

Tim Masih Kumpulkan Data di Lapangan

Meski penyebab umumnya telah teridentifikasi, Badan Geologi menyatakan proses pengumpulan data di lokasi kejadian masih berlangsung. Tim peneliti turun ke lapangan untuk mengambil sampel lumpur dan gas, mengukur debit semburan, serta mencatat perubahan morfologi di sekitar titik semburan.

Data yang dihimpun akan digunakan untuk menyusun peta risiko kawasan. Pemetaan ini penting untuk mengetahui seberapa luas area yang berpotensi terdampak apabila semburan kembali aktif atau justru muncul titik semburan baru di lokasi berbeda. Selain itu, kajian juga diarahkan untuk menilai dampak lingkungan, termasuk kemungkinan perubahan kualitas tanah dan air di sekitar lokasi.

Keberadaan gas metana yang menyertai semburan turut menjadi perhatian. Pada konsentrasi tertentu, gas tersebut dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan, terutama jika terakumulasi di ruang tertutup atau tersulut api. Karena itu, pengukuran konsentrasi gas menjadi bagian penting dari investigasi yang dilakukan.

Warga Diminta Tenang namun Tetap Waspada

Badan Geologi mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar Oro-oro Kesongo untuk tidak panik berlebihan. Fenomena gunung api lumpur umumnya tidak menimbulkan ancaman besar selama warga menjaga jarak aman dari titik semburan aktif. Area di sekitar lubang semburan bisa memiliki struktur tanah yang labil sehingga berbahaya jika diinjak atau dilalui kendaraan.

Warga juga diminta melaporkan setiap perubahan yang mencolok, seperti munculnya semburan baru, perubahan warna atau bau air sumur, serta retakan tanah yang meluas. Laporan semacam itu sangat membantu petugas dalam memantau perkembangan aktivitas di kawasan tersebut.

Pemerintah daerah setempat disebut telah berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk menentukan langkah penanganan lanjutan. Penataan kawasan, pemasangan rambu peringatan, hingga sosialisasi kepada masyarakat menjadi sejumlah opsi yang tengah dibahas.

Potensi Edukasi dan Wisata Geologi

Di balik kekhawatiran yang muncul, fenomena semburan lumpur sebenarnya menyimpan nilai ilmiah yang tinggi. Keberadaan gunung api lumpur dapat menjadi laboratorium alam bagi penelitian geologi, sekaligus daya tarik wisata minat khusus apabila dikelola dengan baik dan aman.

Badan Geologi menilai, dengan pemetaan risiko yang memadai, kawasan seperti Oro-oro Kesongo berpotensi dikembangkan menjadi situs edukasi geologi. Masyarakat dan pelajar dapat belajar langsung mengenai proses pembentukan bumi, sekaligus memahami cara hidup berdampingan dengan karakteristik alam di wilayahnya.

Hingga kajian menyeluruh rampung, Badan Geologi akan terus memantau aktivitas semburan di Blora. Hasil penelitian nantinya akan disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai dasar pengambilan kebijakan, baik untuk perlindungan warga maupun pemanfaatan potensi kawasan secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User