Kampung yang Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Saat Air Surut

Langit cerah tanpa hujan selama berbulan-bulan membawa pemandangan tak biasa bagi warga di sekitar Bendungan Karian, Banten. Air waduk yang biasanya membentang luas kini menyusut drastis, menelanjangi...

Jul 27, 2026 - 22:14
0 0
Kampung yang Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Saat Air Surut

Langit cerah tanpa hujan selama berbulan-bulan membawa pemandangan tak biasa bagi warga di sekitar Bendungan Karian, Banten. Air waduk yang biasanya membentang luas kini menyusut drastis, menelanjangi fondasi kehidupan lama yang terkubur di dasarnya. Reruntuhan rumah-rumah, jalan setapak, dan sisa-sisa peradaban desa yang tenggelam puluhan tahun silam kembali menampakkan wujud, seolah bangkit dari kubur air.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, namun tahun ini kemunculannya begitu gamblang. Warga setempat, yang akrab dipanggil Odon, mengisahkan bahwa di masa-masa air tinggi, hanya pucuk menara masjid yang kadang menyembul. “Biasanya cuma ujung atap masjid yang kelihatan,” katanya, menatap ke arah bekas perkampungan yang kini bisa dikenali dengan jelas. Tapi kali ini, puluhan struktur bangunan tersingkap; dinding-dinding bata merah yang lapuk, tangga batu menuju bekas sumur, bahkan kerangka kayu pintu rumah masih tegak melawan waktu.

Matahari siang membakar tanah retak yang menyelimuti fondasi-fondasi itu. Warga pun berdatangan, bukan sekadar menonton, melainkan untuk bernostalgia. Mereka yang pernah menghuni kampung tersebut sebelum penggenangan, atau anak-cucu yang mendengar kisahnya, turun ke dasar waduk untuk menyentuh kembali ingatan. Seorang lelaki paruh baya, misalnya, menunjukkan sisa tembok rumah masa kecilnya kepada anaknya. Generasi yang tak mengenal desa itu kini belajar sejarah dari batu-batu yang basah oleh masa lalu.

Desa yang Dikorbankan

Kampung yang kini terhampar di hadapan mereka adalah korban dari pembangunan infrastruktur. Bendungan Karian, yang rampung sekitar akhir 1990-an, memang sengaja menenggelamkan beberapa desa untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di Banten dan sekitarnya. Ribuan warga direlokasi, meninggalkan rumah, ladang, dan makam leluhur yang terendam selamanya. Musim kemarau panjang seperti sekarang inilah yang membuka kembali tabir itu, meski hanya sementara.

Namun, kemunculan ini membawa berkah sekaligus kesedihan. Di satu sisi, warga bisa ‘mengunjungi’ kampung halaman mereka. Di sisi lain, suasana syahdu bercampur duka karena menyaksikan langsung apa yang telah hilang. Banyak yang berdoa di sisa-sisa bangunan masjid, mengambil foto, atau sekadar duduk termenung di bawah terik. “Seperti mimpi bisa melihat rumah lagi,” ujar seorang perempuan tua dengan suara bergetar, yang enggan disebut namanya, sambil menyeka sudut matanya.

Sementara itu, pihak pengelola bendungan mengingatkan bahwa area waduk yang surut cukup berbahaya untuk dijelajahi sembarangan. Tanah yang terlihat keras di permukaan bisa jadi masih lembek di bawahnya, dan sisa bangunan mungkin rapuh. “Kami mengimbau warga berhati-hati dan tidak terlalu dekat dengan struktur yang bisa ambruk,” kata seorang petugas. Namun, peringatan itu tak menyurutkan langkah mereka yang ingin melepas rindu.

Nostalgia yang Membekas

Fenomena ini mengundang perhatian lebih luas. Media sosial ramai dengan foto-foto lanskap surealis: jalanan desa yang dulu ramai kini dipenuhi ikan-ikan kecil yang terperangkap, dan pepohonan mati menjulang seperti monumen yang dilupakan. Beberapa fotografer dan pembuat konten datang untuk mengabadikan momen. Namun, bagi warga asli, ini lebih dari sekadar konten; ini adalah perjalanan ziarah.

Sejatinya, desa-desa tersebut dihuni oleh masyarakat agraris yang hidup secara turun-temurun. Mata pencaharian mereka bertumpu pada sawah dan kebun palawija. Ketika proyek bendungan diumumkan, banyak yang menolak, namun pada akhirnya menerima ganti rugi dan pindah ke daerah baru. Kini, sebagian keturunan mereka kembali dalam wujud yang berbeda: sebagai pengunjung waduk, bukan lagi penghuni.

Ada cerita menarik yang beredar di antara warga. Konon, di bawah salah satu rumah yang kini tersingkap, dulu tersimpan guci berisi harta pusaka keluarga. Seorang pria mengaku berhasil menemukan kembali guci tersebut setelah menyelam saat air mulai surut dua pekan lalu. Kisah ini tentu belum bisa diverifikasi, tetapi menambah warna pada perbincangan di warung-warung kopi sekitar bendungan. Yang jelas, tiap kali musim kemarau tiba, Bendungan Karian berubah menjadi mesin waktu yang membawa kembali memori kolektif.

Di sisi lain, keberadaan reruntuhan ini juga menjadi pengingat akan dampak pembangunan terhadap lingkungan dan sosial. Diskusi di antara pengamat kebijakan publik pun mencuat: bagaimana proyek strategis bisa berjalan dengan meminimalkan luka komunitas? Sosiolog dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang dimintai pendapat via telepon, menyatakan bahwa fenomena semacam ini seyogianya menjadi bahan evaluasi bagi perencanaan tata ruang ke depan. “Jangan sampai kenangan akan kampung yang hilang hanya muncul saat air surut, lalu tenggelam lagi tanpa solusi bagi warganya,” ujarnya.

Sementara, prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi menyebutkan musim kemarau masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan. Artinya, panggung nostalgia di dasar Bendungan Karian belum akan segera ditutup. Warga pun bersiap untuk lebih lama menikmati ‘pulang kampung’ sementara ini. Beberapa di antaranya berniat menggelar doa bersama di area masjid yang terbuka, mengenang leluhur yang tempat peristirahatan abadinya tak bisa dikunjungi dalam kondisi normal.

Ketika air kembali meninggi nanti, desa itu akan tenggelam lagi, dan hanya atap masjid yang setia memberi isyarat. Namun, bagi para perantau yang pulang ke tanah asal sekadar lewat ingatan, kepingan batu bata dan sisa tembok itu telah menanamkan kembali ikatan yang mungkin sempat luntur. Seperti yang dikatakan Odon, dengan nada penuh harap, “Selagi masih bisa dilihat, kami ingin mengenang. Siapa tahu, ini yang terakhir.” Maka, di bawah langit Banten yang cerah, kisah kampung tenggelam itu kembali hidup, walau hanya sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User