Kabut Asap Selimuti Ampera, Kebakaran Bromo Kian Meluas

Potret peristiwa paling menonjol dalam sepekan terakhir di Tanah Air didominasi oleh bencana kebakaran hutan dan lahan. Dua kejadian besar mencuri perhatian publik: kabut asap tebal yang menyelimuti J...

Aug 11, 2026 - 15:51
0 0
Kabut Asap Selimuti Ampera, Kebakaran Bromo Kian Meluas

Potret peristiwa paling menonjol dalam sepekan terakhir di Tanah Air didominasi oleh bencana kebakaran hutan dan lahan. Dua kejadian besar mencuri perhatian publik: kabut asap tebal yang menyelimuti Jembatan Ampera di Palembang, Sumatera Selatan, serta kobaran api yang terus meluas di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Rangkaian dokumentasi visual dari kedua peristiwa itu menjadi pengingat nyata betapa seriusnya ancaman karhutla yang kembali membayangi Indonesia di musim kemarau tahun ini.

Kabut Asap Selimuti Jembatan Ampera

Jembatan Ampera yang biasanya berdiri megah membelah Sungai Musi kini tampak samar-samar. Landmark kebanggaan warga Palembang itu tertutup kabut asap yang menggantung tebal di udara kota. Dari kejauhan, menara kembar jembatan hanya terlihat seperti bayangan kelabu, sementara kendaraan yang melintas di atasnya harus menyalakan lampu meski hari masih siang. Perahu ketek yang hilir-mudik di Sungai Musi pun bergerak lebih hati-hati karena jarak pandang yang terbatas.

Kabut asap tersebut merupakan kiriman dari kebakaran lahan gambut yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir disebut-sebut menjadi penyumbang titik api terbanyak. Lahan gambut yang kering akibat kemarau panjang membuat api sulit dipadamkan dan terus membara di bawah permukaan tanah, melepaskan asap dalam jumlah besar yang kemudian terbawa angin hingga ke pusat kota.

Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Jarak pandang di sejumlah ruas jalan menurun drastis, kualitas udara berada pada level tidak sehat, dan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut dilaporkan meningkat. Banyak warga terpaksa kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Sebagian sekolah bahkan mempersingkat jam belajar demi melindungi kesehatan para siswa dari paparan asap yang berbahaya.

Kebakaran Bromo Terus Meluas

Dari Pulau Jawa, kabar tak kalah mengkhawatirkan datang dari kawasan Gunung Bromo. Kebakaran yang bermula di area padang savana menjalar dengan cepat ke wilayah yang lebih luas. Lidah api melahap rumput kering dan semak belukar di lereng-lereng perbukitan, meninggalkan hamparan hitam pekat di lanskap yang sebelumnya tampak menghijau dan menjadi daya tarik utama para wisatawan.

Faktor cuaca menjadi tantangan terbesar dalam upaya pemadaman. Angin kencang yang berhembus di kaldera membuat kobaran api berpindah-pindah dan sulit diprediksi arahnya. Vegetasi yang mengering sempurna akibat kemarau panjang menjadi bahan bakar ideal bagi si jago merah untuk terus merambat dari satu titik ke titik lainnya.

Petugas gabungan dari balai taman nasional, TNI, kepolisian, relawan, dan masyarakat sekitar bahu-membahu memadamkan api. Mereka membuat sekat bakar untuk mencegah api menjalar ke zona lindung, sementara pemadaman dari udara melalui helikopter pengebom air juga dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api di medan terjal yang tak bisa diakses dari darat.

Dampak kebakaran ini tak hanya bersifat ekologis. Sejumlah akses wisata menuju Bromo terpaksa ditutup sementara demi keselamatan pengunjung. Padahal, kawasan ini merupakan salah satu destinasi andalan Jawa Timur yang menjadi sumber penghidupan ribuan warga lokal, mulai dari penyedia jasa jeep, pengelola penginapan, hingga pedagang kaki lima. Hilangnya habitat satwa dan rusaknya ekosistem savana juga menjadi kerugian yang tak ternilai harganya.

Antisipasi dan Harapan

Meluasnya karhutla di berbagai daerah mendorong pemerintah meningkatkan kesiagaan. Operasi modifikasi cuaca digelar untuk memancing hujan buatan di wilayah-wilayah rawan, sementara patroli darat dan udara diperketat guna mendeteksi titik panas sedini mungkin. Aparat penegak hukum juga menindak tegas pihak-pihak yang terbukti membuka lahan dengan cara membakar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan dampak fenomena El Nino masih akan terasa hingga beberapa waktu ke depan. Artinya, potensi kekeringan dan kebakaran belum akan berakhir dalam waktu dekat. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas pembakaran apa pun di lahan terbuka dan segera melaporkan setiap kemunculan titik api kepada petugas terdekat.

Rangkaian peristiwa sepekan ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Kabut yang menutupi kemegahan Ampera dan gosongnya savana Bromo adalah bukti bahwa kerusakan lingkungan selalu menagih harga yang mahal. Kini, seluruh elemen bangsa berharap hujan segera turun, sambil bergandengan tangan memastikan bencana serupa tak terulang di musim-musim mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User