Kabar Baik Peternak Solo Pasca Aksi Mandi Telur Viral

Aksi nekat para peternak ayam di Solo yang mandi telur beberapa waktu lalu ternyata berbuah hasil. Tak hanya sekadar viral, gerakan yang merekam keputusasaan mereka atas anjloknya harga ayam dan telur...

Jul 17, 2026 - 04:46
0 0
Kabar Baik Peternak Solo Pasca Aksi Mandi Telur Viral

Aksi nekat para peternak ayam di Solo yang mandi telur beberapa waktu lalu ternyata berbuah hasil. Tak hanya sekadar viral, gerakan yang merekam keputusasaan mereka atas anjloknya harga ayam dan telur itu kini dijawab oleh serangkaian perkembangan positif. Beban yang sempat membuat banyak pelaku usaha kecil menyerah perlahan berubah menjadi kelegaan setelah pasar menunjukkan geliat pemulihan yang cukup berarti.

Jeritan Melalui Guyuran Telur

Di awal pekan lalu, jagat media sosial diramaikan oleh video yang memperlihatkan beberapa peternak menyiramkan ribuan butir telur ke tubuh mereka sendiri. Aksi yang berlangsung di salah satu kandang di kawasan Laweyan, Solo, itu bukanlah hiburan atau gurauan semata. Para peternak, yang sebagian besar merupakan pemilik usaha menengah ke bawah, ingin menyampaikan pesan bahwa harga jual komoditas mereka telah jatuh ke titik yang tak masuk akal. Telur yang dihasilkan dengan biaya produksi tinggi justru bernilai lebih rendah daripada sebungkus jajanan pasar. Harga di tingkat peternak sempat menyentuh angka Rp 16.000 per kilogram, jauh di bawah ongkos produksi yang mencapai Rp 21.000 hingga Rp 23.000. Sementara potongan ayam hidup juga terpuruk pada level Rp 13.000 per kilogram, membuat margin keuntungan sirna dan modal kerja tergerus.

Sejumlah peternak mengaku harus merelakan ribuan ekor ayam afkir tanpa hasil yang layak. Situasi ini diperparah oleh melimpahnya pasokan dari daerah lain dan berkurangnya daya beli masyarakat di tengah transisi ekonomi. Meski demikian, aksi mandi telur tidak mereka lakukan sekadar untuk mengeluh. “Kami ingin ada yang mendengar, dan ternyata banyak yang ikut bersuara,” ujar salah satu peternak yang enggan disebut namanya. Dalam hitungan jam, video itu telah ditonton jutaan kali dan memicu diskusi di berbagai kalangan, mulai dari sesama peternak hingga para pemangku kebijakan.

Kabar Baik yang Mulai Merekah

Nada pesimistis yang sempat menyelimuti kandang-kandang di Solo kini berganti dengan setitik optimisme. Hari-hari selepas aksi viral membawa kabar baik yang tak disangka-sangka. Harga telur di tingkat peternak perlahan merangkak naik. Berdasarkan pantauan di beberapa titik pengumpul, pada akhir pekan kemarin harga telur sudah berada di kisaran Rp 21.000 hingga Rp 22.500 per kilogram. Kenaikan sebesar 30 persen dalam waktu kurang dari sepuluh hari itu menjadi sinyal bahwa rantai distribusi mulai berbenah dan permintaan kembali bergeliat.

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan positif ini adalah semakin dekatnya momentum hari besar keagamaan. Permintaan telur dan daging ayam untuk olahan makanan tradisional di sejumlah daerah meningkat tajam. Para pedagang di Pasar Legi dan Pasar Gede Solo melaporkan bahwa stok telur dalam seminggu terakhir mulai cepat habis. “Biasanya sepanjang musim sepi kami hanya bisa menjual 30 sampai 40 kilogram per hari, sekarang bisa dua kali lipat,” kata seorang pedagang. Efek domino ini langsung terasa hingga ke kandang, tempat para peternak mencatat kenaikan omzet yang cukup signifikan.

Selain energi pasar sendiri, langkah sigap sejumlah pihak juga turut menyumbang perbaikan. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Solo mengaku telah melakukan pertemuan darurat dengan para peternak dan pengusaha pakan tidak lama setelah aksi viral. Hasil pertemuan itu menghasilkan beberapa terobosan, di antaranya pengendalian masuknya telur dari luar daerah secara lebih ketat, serta penyaluran subsidi pakan ternak untuk meringankan biaya produksi. Kebijakan pengendalian itu belum bersifat tetap, tetapi telah diujicobakan dalam dua pekan terakhir dan mulai menunjukkan dampak pada harga di tingkat petani.

Tak hanya pemerintah daerah, sejumlah perusahaan integrator juga mengambil andil. Dua perusahaan besar di bidang perunggasan yang memiliki kemitraan dengan peternak mandiri di Solo bersedia membeli sebagian hasil panen dengan harga di atas batas rugi, yaitu pada level Rp 19.000 per kilogram untuk telur dan Rp 16.000 untuk ayam hidup. Langkah ini dinilai sebagai angin segar oleh ribuan peternak plasma. Meski belum sepenuhnya mengembalikan kondisi seperti tahun sebelumnya, kebijakan sementara itu cukup untuk menahan laju kerugian dan mengisi kembali modal kerja yang sempat kosong.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Kendati begitu, para peternak yang sempat mandi telur tidak lantas terlena. Mereka menyadari bahwa naiknya harga saat ini masih rawan berbalik apabila pasokan kembali tak terkendali. Sejumlah peternak di wilayah Sumber, Banjarsari, hingga Jebres tetap waspada dan mulai mengatur ulang siklus produksi. Mereka kini lebih selektif dalam menentukan waktu masuk bibit ayam (DOC) agar panen tidak bersamaan dengan banjir produksi dari peternak besar. Praktik manajemen kandang yang lebih disiplin mulai digalakkan, termasuk mengatur kepadatan populasi dan efisiensi pakan.

Di sisi lain, kejadian yang sempat viral ini mendorong para peternak untuk membentuk paguyuban yang lebih solid. Jika sebelumnya masing-masing berjuang sendiri, kini mereka memiliki wadah bernama Komunitas Peternak Mandiri Soloraya yang siap menjadi basis komunikasi dan negosiasi dengan para pemangku kepentingan. Melalui paguyuban ini, mereka berencana mendata seluruh anggota, mencatat kapasitas harian, serta menyusun strategi pengendalian stok secara kolektif. Apabila sewaktu-waktu harga kembali melorot, mereka telah memiliki kekuatan untuk menahan penjualan dan mengatur ritme pasar, bukan sekadar mengandalkan aksi yang mengundang perhatian.

Kabar baik pun tidak hanya berhenti di pulihnya harga. Sebuah jaringan toko ritel modern di Jawa Tengah mulai membuka kemitraan langsung dengan peternak mandiri, memotong rantai distribusi yang selama ini dinilai terlalu panjang. Dengan skema kontrak selama tiga bulan, harga telur dapat dinegosiasikan secara lebih adil. Beberapa peternak yang terlibat dalam program percobaan ini mengaku pendapatan bersih mereka naik sekitar 17 persen dibanding periode sebelumnya. Jika proyek tersebut meluas, ribuan peternak kecil di Solo akan memiliki kepastian pasar yang jauh lebih baik.

“Kami tidak menyangka bahwa setelah mandi telur, pintu-pintu itu mulai terbuka. Ini bukan soal telur basah, ini soal suara kami yang akhirnya didengar,” ungkap seorang peternak yang menjadi inisiator aksi. Senyum yang sempat hilang kini mulai kembali terlihat. Bagi mereka, perjuangan masih panjang, tetapi setidaknya badai terberat telah berlalu. Peternak Solo kini menatap masa depan dengan lebih percaya diri, berbekal solidaritas yang baru terbentuk dan kebijakan yang mulai berpihak pada kesejahteraan mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User