JAKARTA — Rupiah Melemah ke Level Rp17.608 Akibat Lonjakan Harga Minyak
JAKARTA, Patokan.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi tajam pada pembukaan perdagangan pasar valuta asing hari i
JAKARTA, Patokan.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi tajam pada pembukaan perdagangan pasar valuta asing hari ini, Jumat (11/9/2026). Sentimen negatif global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta penguatan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) menyeret mata uang Garuda kembali ke zona merah.
Berdasarkan data perdagangan pasar uang dari Bloomberg pada pagi ini, rupiah tercatat merosot 0,35 persen atau turun signifikan hingga menyentuh level Rp17.608 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan dari hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, mata uang domestik tersebut juga terkikis 0,21 persen atau menyusut 36 poin ke posisi Rp17.547 per dolar AS.
Penguatan Indeks Dolar dan Proyeksi Analis
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa fenomena rebound mata uang Negeri Paman Sam menjadi faktor utama penekan rupiah pada akhir pekan ini. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak makin perkasa di kisaran 99,07 hingga 99,08.
“Hari ini rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan lonjakan harga minyak dunia membuat pelaku pasar beralih ke aset yang lebih aman,” kata Lukman Leong saat memberikan keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Lukman memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah sepanjang hari ini akan berada dalam rentang konsolidasi yang cenderung melemah, yakni bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS. Menurutnya, tekanan dari faktor eksternal masih sangat dominan sehingga ruang penguatan rupiah menjadi sangat terbatas.
Lonjakan Harga Minyak Akibat Eskalasi Geopolitik
Pemicu utama di balik kebangkitan dolar AS dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets) adalah memanasnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pasar keuangan global saat ini sangat mengkhawatirkan terjadinya gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka waktu yang relatif lama jika perselisihan geopolitik tersebut terus meluas.
Kekhawatiran pasokan ini langsung memicu gelombang aksi beli di pasar komoditas energi, yang mendorong harga minyak mentah internasional meroket secara drastis. Beberapa poin penting terkait pergerakan komoditas utama meliputi:
- Minyak Mentah Brent: Harga minyak jenis Brent melonjak tajam hingga 7,1 persen dan berhasil menembus level psikologis baru di posisi USD 108 per barel.
- Minyak Mentah WTI: Jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melambung sebesar 6,69 persen dan bertengger di level USD 102,48 per barel.
- Indeks Dolar AS: Bertahan kuat pada area 99,07–99,08 di tengah memuncaknya permintaan atas aset aman (safe haven asset).
Dampak terhadap Perekonomian Domestik
Kombinasi antara pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga komoditas energi impor menghadirkan tantangan serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memicu bahaya imported inflation (inflasi yang diimpor) yang dapat menggerus daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pergerakan ini memaksa otoritas moneter untuk tetap bersiaga. Bank Indonesia (BI) diprediksi harus terus melakukan langkah-langkah intervensi terukur di pasar valuta asing guna menahan laju penurunan rupiah agar tidak terdepresiasi semakin dalam. Langkah ini mencakup intervensi di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Para pelaku pasar diimbau untuk terus mencermati dinamika geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral AS (The Fed), mengingat volatilitas pasar uang diperkirakan masih akan berlangsung tinggi hingga situasi keamanan kawasan Timur Tengah kembali kondusif.
Nilai tukar rupiah merosot 0,35% pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026). Pelemahan ini terdorong penguatan Dolar AS dan harga minyak Brent yang tembus USD 108/barel akibat eskalasi geopolitik. Selengkapnya baca di Patokan.com!



Comments (0)