JAKARTA — Hansaplast Gelar First Aid Conference 2026 Edukasi Perawatan Luka
JAKARTA — Dalam upaya meningkatkan kesadaran publik dan kompetensi tenaga medis mengenai pentingnya penanganan luka secara komprehensif, Hansaplast secara
JAKARTA — Dalam upaya meningkatkan kesadaran publik dan kompetensi tenaga medis mengenai pentingnya penanganan luka secara komprehensif, Hansaplast secara resmi menggelar First Aid Conference 2026. Acara berskala nasional ini berlangsung di Fairgrounds SCBD, Jakarta Selatan, pada Sabtu (12/9/2026).
Mengusung tema "Complete Wound Care: Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy", konferensi ini mempertemukan ratusan dokter, praktisi kesehatan, pakar dermatologi, serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan masyarakat. Konferensi ini diselenggarakan sebagai respons terhadap masih tingginya angka penanganan luka secara mandiri di masyarakat yang belum sesuai dengan standar medis modern.
Kronologi dan Rangkaian Acara First Aid Conference 2026
Pelaksanaan konferensi medis ini berjalan secara dinamis dan terstruktur sepanjang hari. Berikut adalah urutan kronologis rangkaian kegiatan yang berlangsung selama acara:
- Pukul 08.00 - 09.00 WIB: Registrasi peserta dan pembukaan pameran interaktif teknologi perawatan luka modern oleh manajemen Hansaplast Indonesia.
- Pukul 09.00 - 10.30 WIB: Sesi pleno pertama mengenai Comprehensive Management of Acute Wounds yang dibawakan oleh spesialis bedah dan traumatologi.
- Pukul 10.45 - 12.30 WIB: Diskusi panel mendalam tentang inovasi Scar Therapy guna meminimalkan pembentukan keloid dan jaringan parut pascaluka.
- Pukul 13.30 - 15.30 WIB: Pelatihan praktis (hands-on workshop) pertolongan pertama pada kecelakaan rumah tangga dan tempat kerja bagi para medis dan komunitas.
- Pukul 15.30 - 16.00 WIB: Penutupan acara dan perumusan rekomendasi nasional untuk edukasi perawatan luka masyarakat.
Tiga Langkah Utama Manajemen Luka Akut
Dalam konferensi tersebut, para ahli menegaskan kembali pentingnya pendekatan sistematis dalam menangani luka akut guna mencegah infeksi sekunder. Edukasi masyarakat mengenai pertolongan pertama tidak boleh lagi sebatas menempelkan plester, melainkan harus mencakup prosedur medis yang higienis dan terstruktur.
"Penanganan luka akut yang salah pada fase awal dapat menyebabkan infeksi sistemik dan pembentukan bekas luka hipertrofik yang permanen. Melalui First Aid Conference 2026, kami berkomitmen untuk menyelaraskan pemahaman antara praktisi medis dan masyarakat umum mengenai protokol penanganan luka yang benar," ujar perwakilan tim medis Hansaplast Indonesia di sela-sela acara.
Konferensi ini menggarisbawahi tiga pilar utama perawatan luka modern yang direkomendasikan secara global:
- Pembersihan (Cleansing): Membilas luka menggunakan cairan antiseptik yang tidak perih untuk menghilangkan kotoran dan bakteri tanpa merusak jaringan sel baru.
- Perlindungan (Protection): Menutup luka dengan plester atau balutan steril guna melindungi dari kuman, gesekan, dan kontaminasi luar.
- Penyembuhan (Healing): Mengaplikasikan salep atau gel perawatan bekas luka untuk mempercepat pemulihan serta mencegah terbentuknya jaringan parut yang menonjol.
Fokus Pada Terapi Bekas Luka (Scar Therapy)
Salah satu topik utama yang menyedot perhatian para peserta adalah penanganan jaringan parut atau scar therapy. Berdasarkan data klinis yang dipaparkan dalam konferensi, lebih dari 70% pasien luka akut mengalami masalah estetika dan ketidaknyamanan akibat pembentukan bekas luka yang tidak terawat dengan baik pada fase awal penyembuhan.
Penggunaan teknologi gel silikon dan pembalut khusus bekas luka dinilai efektif menekan risiko pembentukan jaringan keloid hingga 85% jika diterapkan pada saat yang tepat. Para pakar dermatologi menekankan bahwa pemulihan kulit idealnya tidak hanya berfokus pada penutupan luka fisik, tetapi juga mengembalikan fungsi serta estetika jaringan kulit secara optimal.
Komitmen Berkelanjutan untuk Edukasi Pertolongan Pertama
Melalui penyelenggaraan First Aid Conference 2026, Hansaplast menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia produk perawatan luka, tetapi juga sebagai pelopor edukasi kesehatan masyarakat di Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menurunkan angka komplikasi akibat infeksi luka di tingkat keluarga maupun komunitas.
Acara diakhiri dengan komitmen bersama dari para tenaga kesehatan untuk terus menyebarluaskan literasi pertolongan pertama (First Aid Literacy) ke seluruh pelosok tanah air. Langkah edukatif ini akan dilanjutkan melalui berbagai program aksi sosial dan pelatihan secara berkala sepanjang tahun 2026.




Comments (0)