JAKARTA — Fenomena Quiet Quitting Marak Dipilih Pekerja Generasi Z
Layar komputer masih menyala terang di sebuah sudut kantor kawasan bisnis Jakarta saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tanpa ragu, seorang pek
Layar komputer masih menyala terang di sebuah sudut kantor kawasan bisnis Jakarta saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tanpa ragu, seorang pekerja muda langsung merapikan barang-barangnya, menutup laptop, dan melangkah keluar ruangan. Tidak ada keinginan untuk menambah jam kerja, tidak ada niat mengambil tugas tambahan secara sukarela, serta tidak ada kecemasan akan stigma negatif dari atasan. Dunia kerja global maupun domestik kini tengah menyaksikan gelombang pergeseran perilaku yang signifikan, di mana penarikan diri karyawan tidak lagi diwujudkan melalui surat pengunduran diri secara resmi, melainkan melalui tindakan menetapkan batas yang ketat atas peran profesional mereka.
Fenomena yang dikenal dengan istilah quiet quitting ini kini menjadi perbincangan hangat di kalangan praktisi manajemen sumber daya manusia. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana seorang karyawan tetap hadir secara fisik, menyelesaikan kewajiban dalam deskripsi pekerjaan utama, tetapi secara tegas menolak untuk memberikan usaha ekstra tanpa adanya kompensasi yang sepadan. Para pekerja Generasi Z (Gen Z) sering kali menjadi sorotan utama dalam dinamika baru ini, memicu perdebatan mengenai apakah tren ini merupakan bentuk kelelahan mental atau sebuah bentuk kesadaran atas keseimbangan hidup.
Pergeseran Paradigma dan Batas Kewajiban Kerja
Studi terbaru yang dilakukan oleh Harris (2025) mendefinisikan quiet quitting sebagai keputusan sadar dari seorang pekerja untuk membatasi kinerjanya hanya pada kesepakatan kontrak kerja formal. Pekerja secara konsisten menghindari tanggung jawab tambahan, peran sukarela, atau proyek lembur yang tidak memiliki imbalan finansial maupun kejelasan jalur karier. Hal ini mematahkan narasi lama budaya hustle culture yang selama ini mengagungkan kerja berlebihan hingga mengorbankan kesehatan fisik dan mental.
"Quiet quitting bukan bentuk kemalasan, melainkan penegakan batas yang sehat antara hak dan kewajiban. Karyawan tetap memenuhi target perusahaan, namun mereka menolak dieksploitasi dengan beban kerja yang melebihi kapasitas dan imbalan yang disepakati," ujar Dr. Harris dalam riset manajemen tenaga kerja.
Penelitian lanjutan dari Dilchert et al. (2026) memperluas pemahaman ini dengan mengategorikan quiet quitting sebagai bentuk psychological withdrawal atau penarikan diri secara psikologis. Fenomena ini ditandai dengan melemahnya keterlibatan emosional karyawan terhadap tempat kerja, menurunnya partisipasi dalam kegiatan sosialisasi kantor, serta menguatnya komitmen untuk memisahkan urusan pekerjaan dari kehidupan pribadi secara ketat.
Dinamika Multidimensional di Balik Kinerja Secukupnya
Tidak semua aksi bekerja secukupnya dipicu oleh dorongan psikologis yang sama. Menurut analisis Magrizos et al. (2026), quiet quitting bersifat multidimensional. Riset tersebut membedakan antara tindakan yang bersifat disengaja (reaktif) sebagai respons terhadap ketidakadilan manajemen, serta tindakan pasif yang didorong oleh nilai-nilai personal pekerja dalam memprioritaskan kualitas hidup.
| Indikator | Budaya Kerja Konvensional (Hustle) | Fenomena Quiet Quitting |
|---|---|---|
| Jam Kerja | Melebihi batas normal (lembur tanpa batas) | Tepat sesuai kontrak kesepakatan |
| Tanggung Jawab | Menerima semua tugas tambahan | Fokus pada deskripsi pekerjaan utama |
| Keterlibatan Emosional | Sangat tinggi hingga memicu penat (burnout) | Terbatas pada profesionalisme tugas |
| Motivasi Utama | Pengakuan karier dan ambisi finansial | Keseimbangan hidup dan kesehatan mental |
Bagi Gen Z, pilihan untuk bekerja secukupnya bukan berarti mereka tidak memiliki ambisi. Banyak di antara mereka yang menyalurkan energi kreatifnya ke luar lingkungan kantor, seperti membangun usaha sampingan atau mengejar hobi yang mendukung kesejahteraan emosional. Perusahaan dituntut untuk tidak sekadar memberikan label negatif, melainkan mengevaluasi kembali sistem penghargaan, beban kerja, dan komunikasi organisasi agar dapat merangkul tenaga kerja muda secara berkelanjutan.




Comments (0)