Infrastruktur Jadi Kunci Pacu Produksi Durian dan Sawit Kaur

Pemerintah Kabupaten Kaur menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama untuk mendongkrak produktivitas kawasan perkebunan unggulan di Cawang Kidau, Desa Manau. Bupati Kaur, Gusril Pau...

Jul 28, 2026 - 00:40
0 0
Infrastruktur Jadi Kunci Pacu Produksi Durian dan Sawit Kaur

Pemerintah Kabupaten Kaur menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama untuk mendongkrak produktivitas kawasan perkebunan unggulan di Cawang Kidau, Desa Manau. Bupati Kaur, Gusril Pausi, menilai bahwa tanpa akses jalan dan fasilitas pendukung yang memadai, potensi besar durian dan kelapa sawit di wilayah tersebut sulit dimaksimalkan. Langkah strategis ini diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat pedesaan sekaligus memperkuat posisi Kaur sebagai salah satu sentra produksi hortikultura dan komoditas unggulan di Provinsi Bengkulu.

Potensi Besar yang Terkendala Akses

Kawasan Cawang Kidau selama ini dikenal memiliki lahan perkebunan yang subur, ditanami durian berkualitas tinggi serta kelapa sawit yang menjadi andalan pendapatan petani. Namun, kondisi jalan menuju lokasi tersebut masih banyak yang berupa tanah atau rusak berat, terutama saat musim hujan. Akibatnya, distribusi hasil panen menjadi terhambat, biaya logistik membengkak, dan kualitas buah sering menurun sebelum mencapai pasar. “Kami melihat langsung potensi yang luar biasa, tetapi akses yang buruk membuat petani tidak bisa menikmati harga yang layak,” ujar Bupati Gusril Pausi dalam keterangannya, Senin (7/4).

Menurut data Dinas Pertanian setempat, luas lahan perkebunan durian di Kaur mencapai ratusan hektar, dengan varietas unggul seperti durian montong dan durian lokal yang memiliki cita rasa khas. Sementara itu, kebun kelapa sawit juga terus bertambah, didorong oleh program peremajaan sawit rakyat (PSR). Sayangnya, tanpa jalan produksi yang memadai, petani terpaksa menjual hasil panen dengan harga rendah kepada tengkulak yang memiliki akses transportasi sendiri.

Rencana Pembangunan Infrastruktur Terpadu

Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Kaur telah menyusun rencana terpadu yang mencakup peningkatan jalan, pembangunan jembatan, serta sarana pengolahan hasil panen. “Kami tidak hanya membangun jalan, tetapi juga memikirkan irigasi, gudang penyimpanan, dan akses menuju pasar yang lebih luas,” tambah Bupati. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memperlancar distribusi tetapi juga membuka peluang bagi investasi di sektor agroindustri.

Skema pendanaan akan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta dana alokasi khusus dari pemerintah pusat. Pemerintah kabupaten juga tengah menjajaki kerja sama dengan pihak swasta, terutama perusahaan pengolahan kelapa sawit yang berkepentingan untuk mendapatkan pasokan tandan buah segar (TBS) secara stabil. Bupati menekankan bahwa pembangunan infrastruktur ini harus terintegrasi dari hulu hingga hilir agar manfaatnya langsung dirasakan petani.

Selain jalan, perhatian juga diberikan pada ketersediaan air bersih dan listrik di kawasan sentra produksi. Fasilitas ini dinilai penting untuk mendukung proses pascapanen, seperti pencucian durian dan pengoperasian mesin pengolahan sawit skala kecil. Pemerintah daerah menargetkan pengerjaan fisik dapat dimulai pada triwulan ketiga tahun ini, dengan prioritas pada ruas jalan yang selama ini paling sering putus akibat cuaca ekstrem.

Dampak Langsung bagi Petani dan Ekonomi Lokal

Dengan dibukanya akses yang lebih baik, petani durian di Cawang Kidau bisa menjangkau pasar yang lebih kompetitif, bahkan berpotensi menembus pasar antarpulau. Selama ini, durian Kaur sering dicari oleh pedagang dari luar daerah karena kualitasnya, tetapi keterbatasan logistik membuat volume pengiriman masih kecil. “Apabila jalan mulus dan waktu tempuh lebih singkat, petani bisa mengirim durian dalam kondisi segar ke Palembang atau Lampung dalam hitungan jam,” jelas seorang penyuluh pertanian setempat.

Sementara itu, petani sawit akan diuntungkan dengan penurunan ongkos transportasi TBS ke pabrik kelapa sawit (PKS). Biaya angkut yang selama ini bisa mencapai 30 persen dari harga jual akan terpangkas, sehingga margin keuntungan petani meningkat. Kontinuitas pasokan juga bakal membuat pabrik lebih percaya untuk berinvestasi dalam kemitraan jangka panjang, termasuk membantu program peremajaan kebun tua.

Pergerakan ekonomi di Desa Manau dan sekitarnya diperkirakan ikut bergeliat. Warung, bengkel, dan penyedia jasa transportasi akan tumbuh seiring meningkatnya frekuensi lalu lintas hasil pertanian. Generasi muda setempat pun diharapkan tidak lagi memilih merantau, karena tersedia lapangan kerja baru di sektor agribisnis dan logistik.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski rencana ini disambut positif, masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Medan berbukit dan rawan longsor di beberapa titik ruas jalan menjadi kendala teknis yang membutuhkan konstruksi khusus. Selain itu, pembebasan lahan dan koordinasi dengan pemilik kebun di sepanjang jalur akses perlu dilakukan dengan pendekatan persuasif.

Bupati Gusril mengakui bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Akan tetapi, ia optimistis dengan dukungan semua pihak, target peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat dalam tiga tahun mendatang dapat tercapai. “Infrastruktur adalah fondasi. Setelah itu, kita bisa fokus pada peningkatan mutu, pengolahan, dan pemasaran agar durian dan sawit Kaur dikenal lebih luas,” pungkasnya.

Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, sentra durian dan kelapa sawit di Cawang Kidau diyakini akan bertransformasi menjadi kawasan agribisnis modern yang mampu mengangkat kesejahteraan ribuan keluarga petani. Masyarakat pun menantikan realisasi cepat agar tahun-tahun mendatang hasil panen mereka tidak lagi terbuang sia-sia di tengah jalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User