Gubernur Pramono Silaturahmi ke Setkab, Nostalgia Bersama Teddy dan Staf
Suasana hangat menyelimuti ruang kerja Sekretaris Kabinet (Setkab) ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tiba untuk bersilaturahmi. Bukan pertemuan kenegaraan yang kaku, melainkan reuni akrab anta...
Suasana hangat menyelimuti ruang kerja Sekretaris Kabinet (Setkab) ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tiba untuk bersilaturahmi. Bukan pertemuan kenegaraan yang kaku, melainkan reuni akrab antara mantan pucuk pimpinan sekretariat dengan para pegawai yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya langsung menyambut kehadiran Pramono dengan senyuman lebar, menggenggam erat tangan sang tamu sebelum mempersilakannya masuk ke ruang yang penuh kenangan itu.
Kunjungan itu terasa istimewa karena Pramono bukan sekadar tamu. Selama delapan tahun, ia adalah nahkoda di institusi yang sama, mengemban amanah sebagai Sekretaris Kabinet di era Presiden Joko Widodo dari tahun 2015 hingga 2023. Jejak kepemimpinannya masih begitu terasa di setiap sudut gedung, mulai dari tata letak meja yang dulu ia rancang sendiri hingga semangat kerja yang terus dirawat oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pernah bekerja langsung di bawah komandonya.
Reuni di Lorong Kenangan
Begitu melangkah masuk, Pramono langsung disambut oleh deretan wajah yang tak asing lagi. Para pegawai Setkab, mulai dari staf administrasi hingga pejabat eselon tinggi, berbaris menyambut mantan menteri mereka. Beberapa di antara mereka tak kuasa menahan haru, mengingat kembali momen-momen panjang ketika lembur bersama di tengah target-target mendesak yang harus dikejar.
Pramono tak segan menyapa nama-nama kecil yang masih tersimpan rapi dalam ingatannya. “Wah, gak kerasa ya, dulu kamu masih suka bawa kopi setiap rapat kabinet,” katanya kepada seorang staf senior, yang sontak membuat semua orang tertawa kecil. Momen tersebut memperlihatkan betapa ikatan personal yang terjalin semasa pengabdiannya di Setkab jauh melampaui sekadar hubungan profesional.
Ia juga menyempatkan diri berkeliling ke beberapa lantai, mampir ke ruang rapat utama tempat ribuan keputusan strategis lahir di era sebelumnya. Tangan Pramono menyentuh meja bundar besar itu sejenak, seakan tenggelam dalam nostalgia. Di sanalah ia pernah memimpin pembahasan krusial, mulai dari penyusunan program prioritas nasional hingga koordinasi lintas kementerian yang menjadi nyawa pemerintahan saat itu.
Pesan untuk Generasi Baru
Di sela perbincangan, Pramono menyempatkan diri berdiskusi dengan Teddy Indra Wijaya, sosok yang kini memegang tongkat estafet kepemimpinan di Setkab. Dalam suasana yang cair, ia membagikan sejumlah pengalaman penting, terutama soal pentingnya menjaga integritas dan netralitas sekretariat sebagai mesin penghubung antara presiden dan jajaran menteri.
“Setkab itu pilar utama kolaborasi kabinet. Kalau pilar ini kokoh, maka seluruh roda pemerintahan bisa bergerak seirama,” ujar Pramono dalam perbincangan tertutup yang kemudian dikutip oleh salah satu peserta. Pesan itu disampaikan tanpa kesan menggurui, melainkan sebagai bentuk dukungan moral dari senior yang sepenuh hati ingin institusi yang dulu ia bangun tetap solid di bawah nahkoda baru.
Teddy sendiri mengapresiasi kunjungan tersebut. Baginya, menerima nasihat dan cerita dari pendahulunya adalah bekal berharga dalam menavigasi dinamika koordinasi pemerintahan yang kian kompleks. “Kami merasa terhormat bisa belajar langsung dari Pak Pramono. Beliau meninggalkan fondasi yang sangat kuat,” ungkap Teddy, yang turut mendampingi sepanjang pertemuan.
Cerita di Balik Meja Kerja
Salah satu momen paling emosional terjadi ketika Pramono memasuki ruang kerja yang dulu menjadi markas besarnya. Meskipun sudah direnovasi dan disesuaikan dengan gaya kerja pemimpin baru, ia bisa langsung menunjuk sudut-sudut yang menyimpan cerita. Di pojok kanan, ia teringat tempat biasa menyimpan arsip dokumen rahasia. Di sisi timur, ia mengingat kebiasaannya membuka jendela setiap pagi untuk mendengar suara fondasi Jakarta sebelum memulai hari.
Para pegawai pun berbondong-bondong menunjukkan foto-foto lama yang tersimpan di ponsel mereka. Ada momen saat Pramono merayakan ulang tahun sederhana di kantor, ada pula potret saat ia terjun langsung mengecek dapur umum selama masa krisis. Kenangan itu tidak hanya membuktikan betapa lamanya kebersamaan mereka, tetapi juga menegaskan karakter kepemimpinan Pramono yang tak kenal jarak dengan bawahan.
“Beliau itu pemimpin yang tidak hanya memberi instruksi, tapi juga ikut bergerak. Kalau perlu turun tangan, beliau turun. Itu yang membuat kami semua sangat respek,” cerita salah satu pegawai senior yang telah mengabdi lebih dari dua dekade di Setkab.
Sinergi Jakarta dan Pemerintah Pusat
Sebagai Gubernur DKI Jakarta, kehadiran Pramono juga membawa nuansa sinergi antara pemerintah daerah dan pusat. Meski kunjungan kali ini lebih bersifat personal, percakapan ringan tak terelakkan mengarah pada isu-isu strategis yang menyangkut ibu kota. Pramono menekankan bahwa koordinasi yang erat antara Jakarta dan Setkab menjadi kunci dalam menuntaskan berbagai persoalan strategis, mulai dari kemacetan lintas batas, pengelolaan banjir, hingga penataan kawasan perkotaan yang melibatkan banyak kementerian.
Ia mengaku, pengalamannya sebagai mantan Seskab membuatnya paham betul mekanisme koordinasi di tingkat pusat. Pengetahuan itulah yang kini ia manfaatkan untuk memperlancar komunikasi antara Pemprov DKI dengan jajaran kabinet. “Saya sudah merasakan bagaimana rumitnya menyatukan agenda-agenda kementerian. Sekarang saya di sisi yang berbeda, tapi semangat kolaborasinya harus sama,” tuturnya.
Pernyataan itu disambut antusias oleh Teddy, yang berharap kunjungan semacam ini bisa menjadi awal dari tradisi baru, di mana para mantan pejabat tinggi tetap terhubung dengan institusi yang pernah mereka pimpin, membawa energi positif dan perspektif segar dari luar.
Tutup dengan Hangat, Buka Pintu Masa Depan
Menjelang akhir kunjungan, Pramono dan Teddy sempat berfoto bersama di depan lobi utama, dikelilingi puluhan pegawai yang tak ingin melewatkan momen langka tersebut. Senyum sumringah terpampang di setiap wajah, menandakan bahwa silaturahmi ini berhasil meneguhkan kembali ikatan emosional yang sempat renggang karena rutinitas dan perbedaan posisi.
Pramono meninggalkan gedung Setkab dengan langkah ringan, tetapi jejak semangatnya terasa makin melekat. Bagi para pegawai, kunjungan ini bukan sekadar reuni, melainkan juga pengingat bahwa pengabdian sejati akan selalu dikenang, melampaui masa jabatan dan batasan organisasi. Sementara bagi Teddy, pertemuan tersebut menjadi batu pijakan yang memperkuat sinergi antar-generasi pemimpin—membuktikan bahwa silaturahmi yang tulus mampu menciptakan jembatan kerja sama yang lebih kokoh bagi kabinet dan bangsa.
Comments (0)