Gelombang Panas Ekstrem Landa Korut, Warga Dianjurkan Santap Sup Daging Anjing
Korea Utara tengah bergulat dengan gelombang panas ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayahnya. Di tengah suhu udara yang terus merangkak naik, media-media resmi pemerintah di Pyongyang justru genc...
Korea Utara tengah bergulat dengan gelombang panas ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayahnya. Di tengah suhu udara yang terus merangkak naik, media-media resmi pemerintah di Pyongyang justru gencar mengampanyekan satu cara tradisional untuk bertahan menghadapi terik musim panas: menyantap semangkuk sup daging anjing hangat serta kaldu ayam yang diyakini kaya gizi.
Kampanye kuliner ini muncul dalam berbagai siaran dan pemberitaan media negara. Hidangan berbahan daging anjing dipromosikan sebagai makanan berkhasiat yang mampu mengembalikan energi tubuh yang terkuras akibat cuaca panas. Narasi yang dibangun menekankan bahwa tradisi kuliner tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan terbukti membantu masyarakat melewati puncak musim panas.
Tradisi Menyantap Sup di Tengah Terik
Di Semenanjung Korea, terdapat kepercayaan lama bahwa mengonsumsi makanan panas justru dapat membantu tubuh beradaptasi dengan cuaca panas. Konsep ini dikenal dengan prinsip melawan panas dengan panas. Sup daging anjing, yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai boshintang, selama berabad-abad dianggap sebagai hidangan pemulih tenaga yang lazim disantap pada hari-hari terpanas dalam kalender musim panas.
Selain sup daging anjing, kaldu ayam juga turut dipromosikan. Hidangan serupa samgyetang, berupa sup ayam utuh yang diisi ginseng, bawang putih, dan ketan, memang populer di kedua Korea sebagai santapan penguat stamina. Media pemerintah Korut menampilkan berbagai liputan mengenai menu-menu tersebut, lengkap dengan ajakan agar warga rutin mengonsumsinya demi menjaga kebugaran tubuh.
Suhu Ekstrem Mengguncang Negara Tertutup Itu
Gelombang panas yang melanda Korea Utara bukan perkara sepele. Sejumlah kota dilaporkan mencatatkan suhu di atas rata-rata musiman, dengan kelembapan tinggi yang membuat rasa panas kian menyengat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok lanjut usia dan anak-anak yang lebih rentan terkena dehidrasi serta serangan panas.
Negara dengan infrastruktur terbatas seperti Korut menghadapi tantangan berlapis saat cuaca ekstrem datang. Pasokan listrik yang tidak stabil membuat pendingin ruangan menjadi barang mewah bagi sebagian besar penduduk. Alhasil, strategi bertahan hidup banyak bergantung pada kearifan lokal, termasuk pengaturan pola makan yang diyakini membantu tubuh tetap bugar selama musim panas.
Sektor pertanian juga berpotensi terdampak. Panas berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pangan utama seperti padi dan jagung, padahal negara itu sudah lama berkutat dengan persoalan kekurangan pangan. Para pengamat menilai, kampanye konsumsi makanan bergizi tinggi bisa jadi merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kondisi fisik warganya di tengah situasi yang serba sulit.
Politik Pangan di Era Kim Jong Un
Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, isu pangan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah Korut. Sang pemimpin kerap menekankan pentingnya kemandirian pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal. Promosi hidangan tradisional kaya protein di tengah gelombang panas sejalan dengan narasi ketahanan nasional yang selama ini dibangun rezim di hadapan rakyatnya.
Sebelumnya, pemerintah Korut juga pernah mendorong diversifikasi sumber protein bagi rakyatnya. Peternakan anjing untuk konsumsi bukan hal baru di negara itu, dan hidangan daging anjing bahkan tersedia di restoran-restoran khusus di Pyongyang. Bagi sebagian kalangan di ibu kota, menyantap sup daging anjing di musim panas sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang dianggap menyehatkan.
Kontras dengan Kondisi di Selatan
Ironisnya, tradisi serupa justru tengah menuju akhir di Korea Selatan. Seoul telah mengesahkan peraturan yang melarang peternakan dan penjualan daging anjing untuk konsumsi manusia. Kebijakan itu lahir dari perubahan pandangan masyarakat yang kini lebih banyak memperlakukan anjing sebagai hewan peliharaan, bukan sumber makanan.
Perbedaan sikap dua negara bersaudara ini mencerminkan jurang budaya dan politik yang kian lebar. Ketika Korsel bergerak meninggalkan tradisi lama demi citra modern dan kesejahteraan hewan, Korut justru merangkulnya sebagai identitas kuliner sekaligus strategi bertahan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
Dunia Internasional Menyoroti
Komunitas internasional terus memantau kondisi di Korut, terutama terkait dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan negara itu. Gelombang panas ekstrem yang kini melanda menjadi pengingat bahwa krisis iklim tidak mengenal batas negara, bahkan mampu menembus negara paling terisolasi sekalipun di dunia.
Bagi warga Korut, semangkuk sup panas di tengah udara yang membakar mungkin terdengar kontraproduktif bagi orang asing. Namun di balik anjuran itu tersimpan kombinasi antara tradisi, keterbatasan, dan upaya negara menjaga rakyatnya tetap berdiri tegak menghadapi musim panas yang tak bersahabat.
Comments (0)