Geely Akui Opsen Pajak Daerah Ganggu Penjualan Mobil Hybrid dan ICE
BEKASI — Kebijakan penerapan opsen pajak kendaraan bermotor di tingkat daerah yang berlaku sejak tahun lalu terus menyita perhatian para pelaku industri ot
BEKASI — Kebijakan penerapan opsen pajak kendaraan bermotor di tingkat daerah yang berlaku sejak tahun lalu terus menyita perhatian para pelaku industri otomotif nasional. PT Geely Auto Indonesia secara terbuka mengungkapkan bahwa regulasi perpajakan daerah tersebut memberikan efek penekanan yang cukup signifikan terhadap daya beli konsumen, khususnya pada segmen kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) serta varian pembauran teknologi hybrid.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sales and Channel Development Director Geely Auto Indonesia, Constantinus Herlijoso, di sela-sela peresmian diler 3S (Sales, Service, Spare Parts) Geely di Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (16/9). Menurutnya, skema pemungutan pajak tambahan tersebut membuat calon konsumen mempertimbangkan kembali keputusan pembelian untuk model non-listrik.
Dampak Ketimpangan Insentif Antara BEV dan Non-EV
Dalam pemaparannya, Herlijoso menjelaskan bahwa efek dari kebijakan opsen pajak daerah ini tidak dirasakan secara merata pada seluruh produk kendaraan yang dipasarkan oleh Geely. Saat ini, segmen mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) milik pabrikan asal Tiongkok tersebut relatif aman dari gejolak kenaikan pajak daerah berkat adanya dukungan insentif fiskal dari pemerintah pusat.
"Mengenai kebijakan pemerintah terhadap opsen, saat ini memang kami lebih banyak menjual mobil listrik yang mana tarif BBN-nya itu Rp 0. Sehingga dampak opsennya tidak begitu terasa," ungkap Herlijoso saat meresmikan jaringan diler anyar tersebut.
Data penjualan pabrikan mencatat bahwa hampir 90 persen dari total volume penjualan Geely di pasar domestik masih didominasi oleh lini BEV unggulan mereka, seperti seri EX2 dan EX5. Karena skema Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk mobil listrik murni ditetapkan sebesar Rp 0, maka pengenaan persentase opsen pajak daerah tidak memicu pembengkakan biaya yang berarti bagi konsumen EV.
Tantangan Penjualan Mobil Hybrid dan ICE di Tengah Efek Opsen
Kendati menikmati dominasi pasar di sektor mobil listrik murni, Geely tetap berupaya memperluas jangkauan pasarnya dengan menghadirkan lini kendaraan berteknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) serta mesin konvensional (ICE). Namun, langkah diversifikasi ini dihadapkan pada barikade regulasi perpajakan daerah yang dinilai memberatkan.
Herlijoso menegaskan bahwa tambahan komponen pajak dari skema opsen daerah secara langsung menaikkan harga jual on-the-road (OTR) untuk segmen pembauran dan konvensional. Hal ini menciptakan hambatan psikologis bagi calon pembeli di tengah iklim ekonomi yang dinamis.
"Memang tidak begitu terasa untuk mobil listrik, namun untuk mobil hybrid dan ICE yang telah kami luncurkan, adanya opsen ini menurut kami cukup mengganggu. Membuat pelanggan untuk berpikir dua kali," tambah Herlijoso.
Analisis Komparatif Skema Pajak dan Implikasinya Terhadap Penjualan
Penerapan opsen pajak merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan regulasi keuangan daerah yang dirancang untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD). Meskipun bertujuan memperkuat fiskal pemerintah daerah, penerapannya menciptakan kesenjangan beban pajak yang nyata antar varian kendaraan:
| Kategori Kendaraan | Tarif BBNKB Utama | Dampak Opsen Pajak Daerah | Pangsa Penjualan Geely |
|---|---|---|---|
| BEV (Listrik Murni) | Rp 0 (0%) | Tidak Berdampak (Minimal) | ~90% (Dominan) |
| PHEV / Hybrid | Tarif Standar Berlaku | Cukup Mengganggu Harga OTR | Segmen Penetrasi Baru |
| ICE (Konvensional) | Tarif Standar Berlaku | Beban Tambahan Signifikan | Segmen Penetrasi Baru |
Dinamika Implementasi dan Kebijakan Industri
Rangkaian perkembangan terkait dampak perpajakan terhadap strategi pemasaran kendaraan Geely di Indonesia dapat dirangkum dalam urutan berikut:
- Penerapan Skema Opsen Daerah: Pemerintah memberlakukan opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan BBNKB guna meningkatkan penerimaan kabupaten/kota.
- Proteksi Insentif pada Lini BEV: Kebijakan BBNKB Rp 0 menjaga volume penjualan model BEV Geely (EX2 dan EX5) tetap solid di angka 90 persen.
- Diversifikasi Portofolio Produk: Geely mulai meluncurkan varian PHEV dan ICE untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
- Hambatan Respon Pasar: Pengenaan opsen pajak pada varian PHEV dan ICE memicu keengganan konsumen akibat naiknya struktur biaya kepemilikan.
Ekspansi jaringan purna jual melalui peresmian diler 3S di Bekasi diharapkan menjadi salah satu penopang layanan Geely di Jawa Barat. Kendati demikian, efektivitas penetrasi pasar untuk varian non-EV sangat bergantung pada bagaimana pemangku kebijakan menyeimbangkan antara target penerimaan pajak daerah dan pertumbuhan industri otomotif secara menyeluruh.




Comments (0)