Garis Kemiskinan Naik, Pengeluaran Warga Miskin Tersedot Beras, Rokok, dan Kopi

Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis perkembangan terbaru mengenai garis kemiskinan di Indonesia. Dalam catatan terbarunya, lembaga statistik tersebut menyebut batas pengeluaran minimum yang di...

Aug 09, 2026 - 00:49
0 0
Garis Kemiskinan Naik, Pengeluaran Warga Miskin Tersedot Beras, Rokok, dan Kopi

Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis perkembangan terbaru mengenai garis kemiskinan di Indonesia. Dalam catatan terbarunya, lembaga statistik tersebut menyebut batas pengeluaran minimum yang digunakan untuk menentukan status kemiskinan seorang penduduk mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan bertambahnya biaya hidup yang harus ditanggung masyarakat, baik yang tinggal di kawasan perkotaan maupun pedesaan.

Garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran per kapita per bulan yang menjadi penanda apakah seseorang masuk kategori miskin atau tidak. Apabila pengeluaran bulanan seseorang berada di bawah ambang tersebut, maka ia tercatat sebagai penduduk miskin. Ambang ini dihitung dari dua komponen utama, yakni kebutuhan makanan dan kebutuhan nonmakanan, yang di dalamnya memuat beragam komoditas kebutuhan masyarakat.

Beras Masih Menjadi Beban Terbesar

Dari sisi kebutuhan makanan, beras tetap menjadi komoditas yang paling besar menyedot pengeluaran rumah tangga miskin. Kontribusi komoditas pokok tersebut terhadap garis kemiskinan makanan jauh melampaui bahan pangan lain seperti telur, daging ayam, mi instan, maupun minyak goreng. Kondisi ini berlaku hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, tanpa memandang apakah rumah tangga itu berada di kota atau di desa.

Ketergantungan yang tinggi terhadap beras membuat setiap pergerakan harga komoditas itu langsung berdampak pada daya beli kelompok berpenghasilan rendah. Ketika harga gabah dan beras merangkak naik, porsi pendapatan yang harus dialokasikan untuk membeli kebutuhan karbohidrat ikut membengkak. Alhasil, ruang untuk memenuhi kebutuhan bergizi lain semakin sempit.

Pola konsumsi yang bertumpu pada satu jenis pangan pokok memperlihatkan kerentanan struktural rumah tangga miskin. Diversifikasi pangan yang selama ini digaungkan belum sepenuhnya mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat lapisan bawah, sehingga tekanan harga beras selalu menjadi momok yang berulang setiap tahun.

Rokok dan Kopi Menggerogoti Kantong

Menariknya, pada komponen nonmakanan, rokok kretek filter justru menempati posisi penting dalam pembentukan garis kemiskinan. Produk tembakau itu tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar pengeluaran nonmakanan rumah tangga miskin, bersanding dengan kebutuhan perumahan, listrik, pendidikan, dan transportasi. Kehadiran rokok dalam keranjang kebutuhan menunjukkan betapa kuatnya konsumsi produk tersebut di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Selain rokok, kopi juga menjadi bagian dari pola konsumsi yang sulit dilepaskan. Minuman berkafein itu telah menjadi bagian dari keseharian, mulai dari warung pinggir jalan hingga meja rumah tangga. Bagi sebagian warga, kopi dan rokok bukan sekadar kebiasaan, melainkan telah dianggap sebagai kebutuhan yang setara dengan kebutuhan dasar lainnya.

Fenomena ini kerap menuai perhatian publik. Di tengah penghasilan yang pas-pasan, sebagian dana rumah tangga miskin tetap dialokasikan untuk membeli rokok dan kopi. Padahal, dana tersebut sesungguhnya dapat dialihkan untuk memperbaiki kualitas gizi keluarga atau membiayai kebutuhan pendidikan anak.

Kota dan Desa Sama-sama Terbebani

Catatan BPS juga memperlihatkan bahwa tekanan biaya hidup tidak hanya dirasakan penduduk perkotaan. Masyarakat pedesaan menghadapi persoalan serupa, meskipun nilai garis kemiskinannya sedikit berbeda. Di kota, garis kemiskinan umumnya lebih tinggi lantaran harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang lebih mahal. Namun di desa, keterbatasan akses terhadap lapangan kerja dan sumber penghasilan membuat warga tetap sulit keluar dari jerat kemiskinan.

Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi warga miskin kota dan desa pada dasarnya sama. Penghasilan yang terbatas habis tersedot untuk membeli beras sebagai makanan pokok, sementara sisanya tergerus oleh konsumsi rokok dan kopi serta kebutuhan dasar lain yang harganya terus merangkak naik dari waktu ke waktu.

Daya Beli Jadi Tantangan

Kenaikan garis kemiskinan menjadi sinyal bahwa upaya menekan angka kemiskinan masih menghadapi tantangan berat. Pemerintah sejauh ini menyalurkan berbagai bentuk bantuan sosial, mulai dari bantuan pangan, bantuan tunai, hingga subsidi energi, untuk menjaga daya beli kelompok rentan. Namun efektivitas bantuan tersebut sangat bergantung pada ketepatan sasaran dan stabilitas harga kebutuhan pokok di pasaran.

Ke depan, pengendalian inflasi, khususnya inflasi pangan bergejolak, dinilai menjadi kunci agar beban hidup masyarakat tidak semakin berat. Tanpa stabilitas harga beras dan kebutuhan pokok lainnya, garis kemiskinan diprediksi akan terus bergerak naik. Upaya mengangkat harkat hidup jutaan warga berpenghasilan rendah pun akan semakin berat terwujud apabila akar persoalan daya beli tidak segera ditangani secara serius.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User