Frontex Lanjutkan Operasi Yunani,Pelanggaran HAM Migran Berat

Athens — Badan penjaga perbatasan luar Uni Eropa, Frontex, menegaskan akan melanjutkan operasinya di Yunani meskipun serangkaian investigasi media dan lapo

Jul 19, 2026 - 06:48
0 0
Frontex Lanjutkan Operasi Yunani,Pelanggaran HAM Migran Berat

Athens — Badan penjaga perbatasan luar Uni Eropa, Frontex, menegaskan akan melanjutkan operasinya di Yunani meskipun serangkaian investigasi media dan laporan internal mengungkap pelanggaran berat terhadap hak-hak migran yang dilakukan aparat keamanan di lapangan. Keputusan ini menuai kritik tajam dari organisasi hak asasi manusia internasional dan sejumlah parlemen negara anggota Uni Eropa.

Investigasi terbaru yang dipublikasikan oleh harian Prancis Le Monde mendokumentasikan puluhan peringatan yang disampaikan oleh Kantor Hak-Hak Fundamental atau Fundamental Rights Office (FRO) Frontex kepada manajemen puncak agensi sepanjang tahun lalu. Peringatan-peringatan tersebut merinci insiden pushback ilegal, perlakuan kasar terhadap pengungsi, serta kolaborasi aparat Yunani dengan aktor non-negara yang sospecha melakukan kekerasan di perbatasan.

Laporan Internal yang Tak Memicu Tindakan

Berdasarkan dokumen internal yang diperoleh Le Monde, FRO Frontex telah menyampaikan sedikitnya 47 peringatan resmi kepada direktorat agensi sepanjang periode 2023 hingga pertengahan 2024. Dari jumlah tersebut, hanya enam kasus yang akhirnya menghasilkan investigasi internal, dan tidak satu pun yang berujung pada penindakan tegas terhadap petugas yang sospecha melanggar.

"Kami melihat pola yang sangat mengkhawatirkan. Laporan demi laporan disampaikan, tetapi tidak ada konsekuensi sama sekali," ujar seorang sumber internal FRO yang meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir akan pembalasan dari manajemen. "Yang terjadi adalah peringatan diarsipkan ke dalam laci, dan praktik di lapangan tidak berubah sedikit pun."

Skala Besar Operasi Frontex di Yunani

Yunani merupakan salah satu titik operasional terbesar Frontex di kawasan Mediterania. Data resmi agensi menunjukkan bahwa pada 2023, terdapat lebih dari 1.800 personel Frontex yang ditempatkan di berbagai pos perbatasan, mulai dari pulau-pulau Aegea hingga wilayah daratan Trakia. Anggaran operasi khusus di negara tersebut mencapai ratusan juta euro per tahun, menjadikan Yunani penerima alokasi terbesar kedua setelah negara-negara Balkan.

"Frontex bukan sekadar agensi teknis penjaga perbatasan. Ia adalah instrumen politik Uni Eropa, dan ketika ia memilih diam terhadap pelanggaran berat, ia secara tidak langsung memberikan legitimasi pada pelanggaran tersebut." — Philippe Dam, peneliti Human Rights Watch untuk kawasan Eropa

Investigasi Le Monde lebih lanjut menemukan bahwa peringatan FRO mencakup berbagai kategori pelanggaran serius, mulai dari penggunaan kekerasan berlebihan saat penangkapan migran, hingga pengabaian sistematis terhadap prosedur suaka yang diwajibkan oleh hukum internasional dan Konvensi Jenewa 1951.

Respons Pemerintah Yunani dan Dinamika Diplomatik

Pemerintah Yunani di bawah Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis membantah tudingan sistematis tersebut. Dalam pernyataan resminya melalui Kementerian Perlindungan Warga Negara, Athena mengakui adanya "insiden terisolasi" yang harus ditindaklanjuti, tetapi menolak keras karakterisasi bahwa pelanggaran tersebut merupakan kebijakan resmi negara.

"Yunani adalah negara hukum yang menjunjung tinggi hak-hak fundamental setiap orang yang berada di wilayahnya, termasuk pemohon suaka," demikian pernyataan resmi pemerintah. Namun, laporan independen dari organisasi seperti Greek Council for Refugees dan Refugee Support Aegean menunjukkan pola yang jauh lebih konsisten dan mengkhawatirkan.

Data Independen yang Meningkat Tajam

Data yang dikumpulkan oleh kedua organisasi tersebut mencatat lebih dari 200 laporan pengungsi yang mengklaim mengalami pushback ilegal sepanjang 2023. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya intensitas patroli Frontex di perbatasan.

Kategori Pelanggaran20222023Tren Perubahan
Laporan pushback ilegal134 kasus217 kasus↑ 62 persen
Kasus kekerasan aparat89 kasus156 kasus↑ 75 persen
Peringatan internal FRO31 laporan47 laporan↑ 52 persen
Penindakan tegas personnel4 kasus2 kasus↓ 50 persen

Data tersebut menunjukkan pola yang seharusnya memicu respons proporsional dari manajemen Frontex: peringatan internal meningkat tajam, laporan pelanggaran dari organisasi independen meningkat signifikan, namun jumlah penindakan tegas justru menurun setengahnya.

Tekanan yang Meningkat dari Parlemen Eropa

Di Strasbourg, sejumlah anggota Parlemen Eropa mulai menuntut audit independen terhadap keseluruhan operasi Frontex, tidak hanya yang terkait dengan misi di Yunani. Komite Pengawasan Anggaran atau Committee on Budgetary Control (CONT) Parlemen Eropa dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk secara resmi memanggil Direktur Eksekutif Frontex, Hans Leijtens, guna memberikan keterangan resmi dalam sidang terbuka.

"Tidak dapat diterima bahwa agensi yang menerima miliaran euro dari pembayar pajak Eropa beroperasi dengan standar yang secara sistematis mengabaikan hak-hak fundamental manusia," ujar salah satu anggota parlemen dari kelompok Hijau/EFA dalam wawancara terpisah dengan awak media. "Ini bukan masalah teknis, ini adalah masalah politik dan moral."

Posisi Resmi Frontex: Janji Tanpa Bukti

Dalam pernyataan singkat yang diberikan kepada Le Monde, juru bicara resmi Frontex menegaskan bahwa agensi "menyerap serius setiap laporan pelanggaran" dan telah memperkuat mekanisme pelaporan internal melalui pelatihan dan penambahan staf. Namun, ketika ditanya secara spesifik mengapa hanya sebagian kecil peringatan FRO yang akhirnya menghasilkan investigasi substantif, juru bicara tersebut tidak memberikan jawaban substansial.

Seorang analis kebijakan migrasi senior dari European Policy Centre di Brussels menilai bahwa akar masalah ini bukan bersifat teknis administratif, melainkan struktural. "Frontex pada dasarnya diciptakan dengan mandat ganda yang berpotensi saling bertentangan: mengelola perbatasan secara efektif dan melindungi hak-hak fundamental. Ketika kedua mandat ini berbenturan di lapangan, yang hampir selalu menang adalah mandat pertama," ujarnya kepada Le Monde.

Implikasi Jangka Panjang bagi Uni Eropa

Melanjutkan operasi tanpa reformasi signifikan berisiko merusak kredibilitas Uni Eropa di panggung internasional, terlebih di tengah berlangsungnya negosiasi kebijakan migrasi global dan pembahasan Global Compact on Refugees. Sejumlah negara mitra Uni Eropa, termasuk beberapa negara di kawasan Afrika dan Timur Tengah, telah secara terbuka mempertanyakan standar ganda yang diterapkan oleh blok tersebut ketika menangani isu migrasi.

Bagi para migran yang terlantar, konsekuensi jauh lebih langsung dan menyakitkan. Setiap hari operasi berlanjut tanpa perubahan berarti adalah hari di mana hak-hak dasar mereka sebagai manusia terus terabaikan — sebuah realitas pahit yang, menurut banyak pengamat hak asasi, seharusnya sudah cukup untuk memaksa perubahan fundamental dalam sikap dan perilaku agensi.

Pertanyaan yang kini menjadi perhatian banyak pihak adalah berapa lama lagi Frontex akan mentoleransi pelanggaran yang terus meningkat ini sebelum mengambil tindakan yang benar-benar berarti. Dengan peringatan demi peringatan yang terus masuk tanpa menghasilkan perubahan, tekanan terhadap manajemen Frontex dipastikan akan semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User