Aktivis Mogok Makan 20 Hari, Polisi Paksa Bawa ke RS
Delhi, India – Aksi protes panjang yang dilakukan oleh aktivis pendidikan Sonam Wangchuk berakhir dengan campur tangan aparat kepolisian. Setelah menjalani mogok makan selama 20 hari tanpa henti di ...
Delhi, India – Aksi protes panjang yang dilakukan oleh aktivis pendidikan Sonam Wangchuk berakhir dengan campur tangan aparat kepolisian. Setelah menjalani mogok makan selama 20 hari tanpa henti di depan gedung Kementerian Pendidikan, Wangchuk akhirnya dibawa secara paksa ke rumah sakit oleh petugas pada Rabu pagi. Langkah ini memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk represi terhadap kebebasan berpendapat.
Latar Belakang Aksi Mogok Makan
Sonam Wangchuk, yang dikenal sebagai pejuang hak pendidikan di kawasan Ladakh, memulai aksi mogok makan pada awal bulan ini sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Menteri Pendidikan India yang dianggap mengabaikan kebutuhan sekolah-sekolah di daerah terpencil. Dalam pernyataannya sebelum mogok, Wangchuk menuntut revisi kurikulum agar lebih inklusif serta penambahan anggaran untuk infrastruktur pendidikan dasar. Aksi ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi mahasiswa dan LSM, namun pemerintah pusat belum memberikan respons signifikan.
Selama 20 hari, Wangchuk hanya mengonsumsi air putih dan menjalani aksinya di tenda darurat yang didirikan di area trotoar dekat kantor kementerian. Kondisi kesehatannya semakin memburuk dalam sepekan terakhir, dengan penurunan berat badan drastis dan kelemahan fisik yang parah. Meskipun demikian, ia bersikeras tidak akan menghentikan mogok sampai tuntutannya dipenuhi.
Tindakan Polisi dan Polemik
Rabu pagi, sekitar pukul 06.30 waktu setempat, sejumlah petugas kepolisian Delhi tiba di lokasi aksi. Mereka menyatakan bahwa tindakan pengamanan dilakukan berdasarkan perintah medis karena kondisi Wangchuk dianggap mengancam jiwa. Tanpa menunggu persetujuan dari aktivis tersebut, polisi langsung membawanya menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Umum terdekat. Proses ini sempat diwarnai perlawanan ringan dari beberapa pendukung yang hadir.
Kepala Kepolisian Delhi, Vikram Singh, membenarkan bahwa langkah tersebut diambil demi menyelamatkan nyawa. “Kami tidak bisa membiarkan seseorang mempertaruhkan nyawanya dalam aksi yang berkepanjangan. Undang-undang memperbolehkan intervensi jika ada ancaman kematian. Ini adalah tindakan kemanusiaan, bukan politis,” ujarnya dalam konferensi pers. Namun, pernyataan ini dibantah oleh tim hukum Wangchuk yang menuding polisi telah melanggar hak asasi dengan memaksakan perawatan medis tanpa persetujuan pasien.
Sementara itu, Menteri Pendidikan India masih bungkam atas insiden ini. Beberapa anggota parlemen dari partai oposisi mendesak pemerintah untuk segera berdialog dengan para aktivis pendidikan dan meninjau kebijakan yang memicu protes. Mereka menilai mogok makan selama 20 hari adalah bukti nyata kekecewaan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang timpang.
Reaksi Publik dan Dukungan
Berita pembawaan paksa Wangchuk ke rumah sakit langsung menyebar luas di media sosial. Tagar #SonamWangchuk menjadi trending topic di platform X (sebelumnya Twitter) dengan lebih dari 200 ribu cuitan dalam beberapa jam. Banyak warganet mengecam tindakan polisi dan menuntut kebebasan bagi aktivis tersebut. Sejumlah tokoh nasional seperti aktivis hak asasi manusia Aruna Roy dan akademisi Romila Thapar turut menyuarakan dukungan.
“Mogok makan adalah bentuk protes damai yang dilindungi konstitusi. Memasukkan seseorang secara paksa ke rumah sakit sama saja menghilangkan haknya untuk menyuarakan aspirasi,” tulis Roy dalam pernyataan pers. Di sisi lain, ada segelintir pihak yang mendukung langkah polisi, dengan alasan kesehatan lebih utama daripada aksi demonstrasi.
Kondisi Terkini Sonam Wangchuk
Hingga berita ini diturunkan, Sonam Wangchuk masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Delhi. Tim dokter melaporkan bahwa ia mengalami dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit, dan kelelahan otot. Meskipun nyawanya tidak dalam bahaya langsung, ia membutuhkan waktu pemulihan setidaknya satu minggu. Kuasa hukum Wangchuk menyatakan akan mengajukan gugatan hukum terhadap kepolisian atas dugaan pelanggaran prosedur dan hak-hak sipil.
Di luar rumah sakit, para pendukung terus berkumpul sambil membawa poster dukungan. Mereka berencana melanjutkan aksi dengan cara lain, seperti petisi online dan kampanye media sosial, untuk tetap menekan pemerintah. Sementara itu, belum ada kepastian apakah Kementerian Pendidikan akan merespons tuntutan yang sempat diajukan oleh Wangchuk.
Dampak Lebih Luas bagi Gerakan Pendidikan
Insiden ini kembali menyoroti ketidakpuasan yang meluas terhadap kebijakan pendidikan di India, terutama di daerah pedesaan dan wilayah perbatasan seperti Ladakh. Organisasi Save Indian Education menyebut bahwa aksi mogok makan Sonam Wangchuk adalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar. Mereka mendesak pemerintah untuk membuka dialog nasional mengenai alokasi anggaran, kualitas guru, dan aksesibilitas sekolah.
Dengan perawatan di rumah sakit, aksi fisik memang terhenti, namun semangat perlawanan justru semakin menguat. Banyak aktivis muda yang menyatakan akan meneruskan perjuangan Wangchuk. Peristiwa ini juga menjadi peringatan bagi pemerintah bahwa kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat akan selalu mendapat perlawanan, baik secara terang-terangan maupun melalui aksi damai.
Perkembangan selanjutnya masih dinantikan, termasuk kemungkinan adanya mediasi antara pemerintah dan perwakilan aktivis. Namun satu hal yang jelas: nama Sonam Wangchuk kini tak lagi hanya dikenal di Ladakh, melainkan menjadi simbol perjuangan pendidikan bagi seluruh India.
Comments (0)