Flores Back Arc Thrust: Pemicu Gempa M7 yang Bisa Menerjang Lagi

Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7. Pusat gempa yang berada di laut memicu kepanikan warga di sejumlah kabupaten, dan Badan Meteorologi, Klimatol...

Aug 20, 2026 - 21:31
0 0
Flores Back Arc Thrust: Pemicu Gempa M7 yang Bisa Menerjang Lagi

Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7. Pusat gempa yang berada di laut memicu kepanikan warga di sejumlah kabupaten, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa kejadian ini bukan sekadar fenomena biasa. Di balik guncangan tersebut terdapat satu nama yang kerap disebut para ahli: Flores Back Arc Thrust.

Nama itu merujuk pada sesar naik yang membentang di belakang busur vulkanik Flores. Keberadaannya menjadi salah satu sumber gempa paling aktif di kawasan Indonesia timur, dan pergerakan mendadak pada bidang sesar inilah yang diduga menjadi pemicu utama guncangan kali ini.

Apa Itu Flores Back Arc Thrust?

Secara sederhana, Flores Back Arc Thrust adalah patahan naik yang terbentuk di sisi utara busur kepulauan Flores. Patahan ini lahir dari dinamika lempeng yang sangat rumit di wilayah NTT, tempat lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia saling berinteraksi dengan cara yang tidak biasa.

Kawasan NTT sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kompleksitas tektonik tertinggi di dunia. Di sini, lempeng Indo-Australia tidak hanya menunjam ke bawah lempeng Eurasia, tetapi juga terlibat dalam interaksi dengan lempeng Pasifik melalui zona tumbukan yang rumit di kawasan Banda. Kompleksitas inilah yang membuat Indonesia timur memiliki banyak sumber gempa dengan karakter yang berbeda-beda.

Berbeda dengan zona subduksi yang umumnya dikenal, tempat satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya, sesar naik ini justru bekerja dengan dorongan dari arah yang berkebalikan. Tekanan yang tertimbun selama bertahun-tahun akhirnya melampaui batas kekuatan batuan, sehingga terjadi pelepasan energi secara mendadak dalam bentuk gempa bumi.

Energi yang dilepaskan dari pergeseran bidang sesar inilah yang menghasilkan getaran kuat yang dirasakan hingga ke berbagai kabupaten di Pulau Flores. Para ahli menjelaskan bahwa karakteristik gempa dari sesar ini umumnya dangkal, sehingga getarannya terasa sangat kuat di permukaan meskipun episentrumnya berada di laut.

Bukan Ancaman Baru

Flores Back Arc Thrust bukanlah nama yang asing bagi para seismolog. Sesar ini telah mencatatkan sejarah panjang aktivitas kegempaan, dan salah satu babak terkelamnya terjadi pada 1992 silam.

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan sekitar magnitudo 7,8 mengguncang wilayah yang sama dan memicu gelombang tsunami yang menerjang pesisir utara Flores. Ribuan jiwa melayang dalam peristiwa itu, menjadikannya salah satu bencana gempa paling mematikan yang pernah tercatat di Indonesia timur.

Kejadian 1992 itu menjadi bukti bahwa potensi energi maksimum dari sesar ini bisa mencapai magnitudo 7,8. Artinya, gempa magnitudo 7 yang baru saja terjadi masih berada di bawah skenario terburuk yang mungkin dihasilkan oleh patahan tersebut.

Potensi Gempa Hingga M 7,8

Berdasarkan analisis para ahli, potensi gempa dari Flores Back Arc Thrust diperkirakan mencapai magnitudo 7,8. Angka tersebut sejalan dengan kekuatan gempa yang tercatat pada 1992, sehingga para peneliti menganggapnya sebagai batas atas dari energi yang dapat dilepaskan sesar ini.

Kendati potensi maksimumnya demikian, bukan berarti setiap aktivitas sesar akan berujung pada gempa sebesar itu. Gempa berkekuatan lebih kecil, seperti yang baru terjadi, juga merupakan bagian dari siklus pelepasan energi yang normal. Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena gempa susulan masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Selain getaran, ancaman lain yang menyertai gempa dari sesar ini adalah tsunami. Karena sumber gempa berada di dasar laut dengan mekanisme sesar naik, pergeseran dasar laut berpotensi memindahkan massa air dalam jumlah besar ke arah daratan.

Langkah Mitigasi

Menghadapi ancaman yang nyata ini, kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Masyarakat pesisir diimbau untuk mengenali tanda-tanda alam, memahami jalur evakuasi, dan tidak menunggu instruksi resmi bila guncangan terasa sangat kuat serta berlangsung lama.

Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini serta memastikan bangunan publik di wilayah rawan gempa dibangun dengan standar tahan gempa. Pendidikan kebencanaan sejak dini di sekolah-sekolah menjadi investasi jangka panjang yang tidak kalah penting.

Gempa bumi memang tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Dengan memahami bahwa Flores Back Arc Thrust adalah bagian dari dinamika alam yang telah lama bekerja, kewaspadaan yang terencana akan jauh lebih efektif dibandingkan ketakutan yang tidak terarah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User