FLONA 2026 Pamerkan Kekayaan Flora dan Fauna Nusantara di Jakarta
Pameran Flora dan Fauna atau FLONA 2026 resmi dibuka di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, pada Senin, 31 Agustus 2026. Acara yang mengangkat tema besar tent
Pameran Flora dan Fauna atau FLONA 2026 resmi dibuka di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, pada Senin, 31 Agustus 2026. Acara yang mengangkat tema besar tentang pelestarian kekayaan alam Nusantara ini menghadirkan berbagai spesies flora dan fauna dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua. Kehadiran FLONA 2026 menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menjaga serta mempromosikan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sebagai negara dengan jumlah spesies terbesar di dunia.
Acara pembukaan FLONA 2026 ditandai dengan prosesi adat dari berbagai daerah yang tersebar di seluruh Nusantara. Setiap provinsi di Indonesia mengirimkan perwakilan untuk memamerkan keunikan flora dan fauna khas daerah mereka. Mulai dari Rafflesia arnoldii dari Bengkulu, Komodo dari Nusa Tenggara Timur, hingga Cenderawasih dari Papua, semua hadir dalam satu kawasan yang sama. Hal ini menjadikan FLONA 2026 sebagai pameranhayati terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia.
Ragam Spesies Unggulan dari Sabang hingga Merauke
Dalam FLONA 2026, pengunjung disuguhi berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Paviliun-paviliun yang dibangun di kawasan Taman Lapangan Banteng dirancang menyerupai habitat asli masing-masing spesies, sehingga pengunjung dapat merasakan seolah-olah mereka menjelajahi hutan hujan tropis, savana, hingga ekosistem mangrove pesisir pantai.
Untuk wilayah Sumatra, FLONA 2026 memamerkan tanaman endemik seperti Rafflesia Arnoldii yang dikenal sebagai bunga terbesar di dunia dengan diameter mencapai satu meter. Selain itu, juga ditampilkan jenis-jenis anggrek langka dari Aceh hingga Lampung, serta berbagai spesies primata seperti orangutan Sumatera yang saat ini berstatus kritis menurut IUCN Red List.
Wilayah Kalimantan menghadirkan koleksi hutan hujan tropis dengan spesies tumbuhan karnivora seperti Nepenthes atau tanaman pitcher plant. Pengunjung juga dapat melihat langsung spesies orangutan Bornean, bekantan dari Kalimantan Selatan, serta berbagai jenis reptil seperti sanca batik dan buaya muara. Tidak ketinggalan, spesies burung seperti enggang jantan dan burung manyar juga turut meramaikan paviliun Kalimantan.
Untuk wilayah Jawa, FLONA 2026 menampilkan berbagai spesies yang menjadi simbol perlindungan lingkungan di Indonesia. Elang bondol, masksudbird Indonesia, serta kukang Jawa menjadi daya tarik utama paviliun Jawa. Selain itu, tanaman obat tradisional seperti jahe, kunyit, dan temulawak juga dipamerkan untuk menunjukkan kekayaan farmakologi Nusantara.
Wilayah Indonesia Timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, turut ambil bagian dengan memamerkan spesies-spesies ikonik. Komodo, yang menjadi simbol reptil terbesar di Indonesia, menjadi bintang utama paviliun Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, anoa dan babi rusa dari Sulawesi展示了 keunikan mamalia endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
"FLONA 2026 bukan sekadar pameran, tetapi juga edukasi dan kampanye pelestarian lingkungan. Kami ingin masyarakat memahami bahwa kekayaan hayati Indonesia adalah warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam keterangan resmi pada pembukaan acara.
Program Edukasi dan Konservasi untuk Masyarakat
Selain pameran spesies, FLONA 2026 juga menghadirkan berbagai program edukasi dan sosialisasi untuk masyarakat umum. Terdapat kelas-kelas workshop tentang cara membudidayakan tanaman obat, teknik pertanian organik, serta pemahaman tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove untuk mitigation perubahan iklim. Program-program ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat tentang langkah konkret yang dapat mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Para pengunjung juga dapat mengikuti tur terpandu yang dipandu oleh ahli biologi dan konservasionis. Tur ini memberikan penjelasan mendalam tentang perilaku, habitat, dan tantangan konservasi yang dihadapi masing-masing spesies. Dengan demikian, FLONA 2026 tidak hanya menjadi wadah exhibition, tetapi juga pusat pembelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Untuk anak-anak dan generasi muda, tersedia program edukasi interaktif yang menggunakan teknologi augmented reality untuk memberikan pengalaman imersif dalam menjelajahi habitat berbagai spesies. Program ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini dan membangun generasi peduli lingkungan yang akan meneruskan upaya pelestarian alam Indonesia.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata FLONA 2026
FLONA 2026 diproyeksikan menarik ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, hingga investor di sektor konservasi dan pariwisata alam. Event ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi sektor pariwisata Jakarta dan sekitarnya. Dengan menghadirkan keanekaragaman hayati Nusantara dalam satu lokasi, FLONA 2026 berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi pariwisata alam Indonesia.
Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, event serupa yang diselenggarakan pada tahun sebelumnya mampu menarik lebih dari 500.000 pengunjung selama periode pelaksanaan. FLONA 2026 menargetkan angka kunjungan yang lebih tinggi dengan berbagai inovasi dan program menarik yang ditawarkan. Selain itu, event ini juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi.
Para pelaku usaha di sekitar Taman Lapangan Banteng melaporkan peningkatan signifikan dalam aktivitas bisnis mereka selama masa pelaksanaan FLONA 2026. Mulai dari pedagang makanan dan minuman, jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar kawasan tersebut merasakan manfaat ekonomi dari gelaran event nasional ini.
Komitmen Konservasi dan Masa Depan Keanekaragaman Hayati
FLONA 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen berbagai pemangku kepentingan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Berbagai lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan komunitas konservasi berkumpul dalam forum diskusi untuk membahas strategi pelestarian spesies endangered dan habitat kritis. Hasil dari forum ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan untuk perlindungan lingkungan ke depan.
Indonesia saat ini memiliki sekitar 37 jenis mamalia, 36 jenis burung, 21 jenis reptil, dan ratusan jenis tumbuhan yang berstatus terancam punah menurut IUCN. FLONA 2026 hadir sebagai pengingat bahwa upaya perlindungan terhadap spesies-spesies ini memerlukan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat luas. Without collective action, many of these species may disappear within the next few decades.
Acara FLONA 2026 akan berlangsung selama dua minggu hingga 14 September 2026. Masyarakat yang ingin mengunjungi dapat membeli tiket secara online melalui platform resmi atau langsung di lokasi. Dengan berbagai spesies menarik, program edukasi, dan suasana edukatif yang menyenangkan, FLONA 2026 menjadi destinasi wajib bagi keluarga dan pecinta alam di bulan September 2026.
- Ragam flora dan fauna dari 34 provinsi Indonesia hadir dalam satu lokasi
- Edukasi konservasi melalui workshop, tur terpandu, dan program interaktif
- Dampak ekonomi positif bagi sektor pariwisata dan usaha lokal
- Komitmen pelestarian melalui forum diskusi dan rekomendasi kebijakan




Comments (0)