Enam Mahasiswa Unhas Dievakuasi Usai Alami Kram di Gunung Goa Kalibbong
Enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) terpaksa dievakuasi oleh tim SAR setelah mengalami gangguan fisik serius saat mendaki Gunung Goa Kalibbong, kawasan Alloa. Peristiwa yang terjadi pada Min...
Enam mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) terpaksa dievakuasi oleh tim SAR setelah mengalami gangguan fisik serius saat mendaki Gunung Goa Kalibbong, kawasan Alloa. Peristiwa yang terjadi pada Minggu pagi itu sempat menimbulkan kepanikan, namun seluruh korban berhasil dibawa turun dalam kondisi selamat dan langsung mendapat penanganan medis.
Kronologi Kejadian
Rombongan mahasiswa tersebut memulai pendakian sekitar pukul 06.00 WITA dengan rencana mencapai puncak dalam waktu empat jam. Namun, baru separuh perjalanan, sejumlah anggota mulai mengeluhkan nyeri hebat di bagian betis dan paha. Kram otot yang tidak tertahankan menyerang hampir bersamaan pada tiga orang, sementara tiga lainnya mengalami kelelahan ekstrem disertai pusing dan dehidrasi ringan. Mereka tidak mampu melanjutkan langkah di jalur terjal berbatu yang menjadi ciri khas Gunung Goa Kalibbong.
Salah satu mahasiswa yang masih bisa bergerak terbatas segera menghubungi pihak kampus, yang kemudian meneruskan laporan darurat ke Kantor SAR terdekat. Informasi awal menyebutkan bahwa seluruh anggota tim sudah tidak memiliki cukup air minum dan bekal tambahan, sehingga daya tahan tubuh mereka menurun drastis. Letak mereka saat itu berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, di mana sinyal telepon seluler hanya bisa diperoleh di titik‑titik tertentu.
Operasi Evakuasi Cepat
Begitu menerima laporan, tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, relawan lokal, dan tenaga medis langsung bergerak menuju lokasi. Sebanyak 12 orang penyelamat diberangkatkan dengan membawa tandu, tali, alat pertolongan pertama, serta cairan infus darurat. Medan yang curam dan licin akibat embun pagi membuat laju tim sedikit tersendat, tetapi mereka berhasil menjangkau para korban dalam waktu kurang dari dua jam.
Proses evakuasi berlangsung hati‑hati. Dua mahasiswa yang mengalami kram paling parah harus dipapah dan sesekali digendong, sementara empat lainnya dituntun pelan‑pelan menuruni jalur setapak. Tim medis di lapangan memberikan cairan oralit dan melakukan peregangan otot untuk meredakan ketegangan. Tidak ditemukan cedera tulang atau tanda‑tanda hipotermia, sehingga semua korban masih bisa bergerak dengan bantuan meski sangat lemas.
Sekitar pukul 14.00 WITA, seluruh mahasiswa tiba di pos pendakian dan langsung diperiksa oleh dokter yang sudah bersiaga. Mereka dinyatakan dalam kondisi stabil dan hanya memerlukan istirahat serta asupan cairan. Koordinator lapangan Basarnas yang memimpin operasi mengungkapkan rasa syukur karena cuaca cerah sangat membantu jalannya evakuasi.
Peringatan untuk Pendaki
Kejadian ini menambah daftar insiden pendakian di Sulawesi Selatan yang dipicu oleh kurangnya persiapan fisik dan logistik. Gunung Goa Kalibbong, meskipun tidak setinggi gunung‑gunung besar, memiliki trek yang menguras tenaga karena kombinasi tanjakan tajam dan suhu yang bisa berubah secara mendadak. Para ahli pendakian menyarankan agar setiap pendaki melakukan latihan fisik minimal dua minggu sebelum keberangkatan, membawa air minimal dua liter per orang, serta mengonsumsi makanan bergizi sebelum dan selama pendakian.
Selain itu, penting untuk tidak memaksakan diri saat tubuh mulai menunjukkan tanda‑tanda kelelahan. Kram otot dan dehidrasi adalah sinyal awal yang jika diabaikan bisa berubah menjadi kondisi gawat darurat. Membawa perlengkapan komunikasi cadangan seperti peluit atau power bank juga sangat dianjurkan, mengingat sinyal di pegunungan sering tidak stabil.
Pihak universitas menyatakan akan memberikan pembekalan lebih ketat kepada mahasiswa yang hendak melakukan kegiatan alam bebas, termasuk kewajiban melapor dan memastikan adanya pendamping yang berpengalaman. Sementara itu, keenam mahasiswa yang selamat berterima kasih atas respons cepat tim SAR dan berjanji akan lebih memperhatikan faktor keselamatan di masa depan. Mereka mengaku tidak menyangka rute yang tampak biasa bisa seberat itu.
Dengan keberhasilan evakuasi ini, seluruh korban kini telah kembali ke kediaman masing‑masing dan menjalani pemulihan. Tidak ada korban jiwa atau luka berat dalam peristiwa tersebut, sebuah akhir yang melegakan bagi keluarga, teman, dan seluruh pihak yang terlibat dalam operasi penyelamatan.
Comments (0)