El Niño Super Bakal Picu Kerugian Ekonomi Afrika Ratusan Triliun Rupiah

Benua Afrika sedang dihadapkan pada ancaman besar akibat menguatnya fenomena iklim global, El Niño, yang diprediksi mencapai intensitas super dalam beberapa bulan ke depan. Lembaga meteorologi dan ek...

Jul 28, 2026 - 05:50
0 0
El Niño Super Bakal Picu Kerugian Ekonomi Afrika Ratusan Triliun Rupiah

Benua Afrika sedang dihadapkan pada ancaman besar akibat menguatnya fenomena iklim global, El Niño, yang diprediksi mencapai intensitas super dalam beberapa bulan ke depan. Lembaga meteorologi dan ekonomi internasional memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga 20 miliar dolar AS, atau sekitar Rp312 triliun, serta memicu gelombang migrasi dan krisis pangan yang berkepanjangan.

Fenomena El Niño yang Kian Mengganas

Siklus El Niño, yang biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun, merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pola ini mengubah arus angin dan curah hujan global. Dalam skenario super seperti yang diproyeksikan oleh sejumlah lembaga iklim, anomali suhu bisa melampaui ambang 2 derajat Celsius di atas normal, menjadikannya salah satu peristiwa El Niño terkuat dalam beberapa dekade terakhir. Bagi Afrika, fenomena ini berarti pergeseran musim hujan, pengurangan curah hujan drastis di kawasan timur dan selatan, serta banjir di wilayah barat. Kombinasi kekeringan dan banjir inilah yang akan memukul sektor pertanian, sumber mata pencaharian utama puluhan juta penduduk.

Guncangan Ekonomi dan Sektor Produktif

Berdasarkan proyeksi Bank Dunia dan lembaga riset ekonomi, nilai kerugian US$20 miliar itu setara dengan hampir 1 persen dari total produk domestik bruto seluruh benua Afrika. Angka tersebut mencakup penurunan hasil panen, kematian ternak akibat kekeringan, kerusakan infrastruktur oleh banjir bandang, hingga meningkatnya belanja impor pangan. Negara-negara seperti Ethiopia, Kenya, Somalia, Zimbabwe, dan Botswana menjadi yang paling rentan. Di Kenya, misalnya, sektor hortikultura yang mengandalkan ekspor bunga dan sayuran ke Eropa terancam kehilangan kontrak karena gagal memenuhi volume produksi. Sementara itu, di Zimbabwe, waduk-waduk irigasi diprediksi menyusut drastis hingga menghentikan aktivitas pertanian tebu dan jagung.

Krisis Pangan dan Ancaman Kelaparan

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius akan gelombang kelaparan massal. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah menaikkan status siaga di Tanduk Afrika, di mana lebih dari 40 juta jiwa sudah berada dalam kondisi rawan pangan sebelum El Niño menerjang. Penurunan produksi jagung, sorgum, dan biji-bijian lokal bisa mencapai 50 persen di sejumlah distrik. Anak-anak dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan terhadap malnutrisi akut. Ketika keluarga kehilangan akses ke makanan pokok, masyarakat akan dipaksa menjual aset produktif, menarik anak dari sekolah, atau bermigrasi ke kota besar yang sudah sesak.

Migrasi sebagai Katup Tekanan

Sejarah mencatat bahwa setiap peristiwa El Niño hebat diiringi oleh peningkatan arus pengungsian. Diperkirakan lebih dari 10 juta orang akan berpindah baik di dalam batas negara maupun ke negara tetangga. Aliran migran dari pedesaan menuju perkotaan akan membebani layanan dasar seperti air bersih, sanitasi, dan perumahan. Konflik atas sumber daya yang menipis, seperti padang rumput dan titik air, berpotensi memanas di kawasan Sahel dan Afrika Timur. Pemerintah Mesir bahkan telah menyusun skenario darurat menyusul potensi tekanan dari selatan, mengingat negara itu juga tengah menghadapi persoalan air Sungai Nil.

Langkah Antisipasi dan Pelajaran Berharga

Beberapa negara Afrika sudah mengambil langkah dini. Aljazair dan Maroko, misalnya, mempercepat proyek desalinasi air laut untuk menjamin pasokan air bersih. Kenya dan Tanzania memperkuat stok pangan nasional melalui impor lebih awal. Namun demikian, ruang fiskal mayoritas negara Afrika sangat terbatas. Utang luar negeri yang sudah tinggi memperkecil kemampuan pemerintah menyediakan jaring pengaman sosial. Para pakar mendesak agar komunitas internasional segera mengucurkan dana hibah, bukan sekadar pinjaman, untuk membiayai program ketahanan pangan dan adaptasi iklim.

Peringatan Nyata bagi Perubahan Iklim

Ancaman El Niño kali ini kian mempertegas betapa rentannya negara-negara berkembang terhadap variabilitas iklim. Meskipun El Niño adalah fenomena alam, para ilmuwan konsensus bahwa pemanasan global membuat siklus ini semakin sering dan intens. Tanpa upaya pengurangan emisi karbon yang lebih serius, benua seperti Afrika akan terus menjadi korban bagi krisis yang tidak mereka ciptakan. Peristiwa ini harus menjadi titik balik bagi negara maju untuk meningkatkan dukungan terhadap adaptasi iklim di kawasan selatan dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User