El Nino Super Hantam Afrika, Kerugian Ekonomi Tembus Rp300 Triliun
Addis Ababa — Fenomena iklim El Nino yang tengah menyelimuti Samudra Pasifik diperkirakan akan menimbulkan dampak ekonomi dahsyat bagi benua Afrika. Lembaga-lembaga internasional memproyeksikan tota...
Addis Ababa — Fenomena iklim El Nino yang tengah menyelimuti Samudra Pasifik diperkirakan akan menimbulkan dampak ekonomi dahsyat bagi benua Afrika. Lembaga-lembaga internasional memproyeksikan total kerugian bisa mencapai US$20 miliar atau setara dengan Rp300 triliun sepanjang tahun ini. Angka tersebut bukan sekadar hitungan statistik, melainkan representasi dari hancurnya sektor pertanian, lenyapnya sumber air, dan terkikisnya penghidupan jutaan warga.
Sektor Pertanian di Ujung Tanduk
El Nino memicu kemarau berkepanjangan di kawasan Afrika bagian timur dan selatan. Negara-negara seperti Etiopia, Kenya, Somalia, dan Zimbabwe melaporkan penurunan drastis curah hujan hingga lebih dari 40 persen dari rata-rata. Akibatnya, lahan-lahan pertanian yang tadinya subur berubah menjadi tandus, gagal panen massal tak terhindarkan. Badan Pangan Dunia (FAO) menyatakan bahwa produksi jagung, gandum, dan sorgum di kawasan tersebut merosot hingga 30 persen, memicu lonjakan harga pangan pokok hingga dua kali lipat di beberapa pasar lokal.
Para petani kecil yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan di Afrika tidak mampu bertahan. “Kami sudah menjual ternak untuk membeli benih, namun hujan tak kunjung turun. Cadangan makanan habis, anak-anak mulai kelaparan,” tutur Maryam Abdullah, seorang petani di Turkana, Kenya, menggambarkan keadaannya. Kisah serupa menimpa komunitas penggembala di Somalia yang kehilangan puluhan ribu ekor unta dan sapi karena kekeringan. Kerugian subsektor peternakan ditaksir mencapai US$5 miliar, memperparah tekanan ekonomi pedesaan.
Krisis Air Bersih dan Energi
Tidak hanya pangan, El Nino juga memicu krisis air bersih. Sungai-sungai utama seperti Nil, Limpopo, dan Zambezi menyusut tajam, mengancam pasokan air minum bagi kota-kota besar. Danau Victoria, danau terluas di Afrika, dilaporkan turun levelnya hingga titik terendah dalam dua dekade terakhir. Dampak ikutannya melumpuhkan pembangkit listrik tenaga air, seperti Bendungan Kariba di Zambia-Zimbabwe dan Bendungan Akosombo di Ghana, yang menyebabkan pemadaman bergilir dan menghambat aktivitas ekonomi.
Badan Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa krisis air bersih akibat El Nino kali ini berpotensi menjadi yang terparah dalam sejarah modern Afrika. “Masyarakat terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak, sehingga penyakit seperti kolera dan diare akut merebak. Ini bencana kesehatan yang mengikuti bencana iklim,” ungkap Dr. Amina Diop, pakar hidrologi dari Uni Afrika.
Gelombang Migrasi Massal yang Mengkhawatirkan
Kombinasi gagal panen, kelaparan, dan kekeringan mendorong jutaan orang meninggalkan desa menuju kota, atau bahkan menyeberangi perbatasan regional ke negara lain. Data awal dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan bahwa lebih dari 15 juta orang di Afrika Timur saja berisiko menjadi pengungsi iklim sepanjang tahun ini. Mereka berbondong-bondong ke kamp-kamp pengungsian yang sudah penuh sesak, atau nekat menyeberangi Laut Mediterania menuju Eropa dengan kapal reyot.
Arus perpindahan massal ini memperuncing persoalan di kota-kota tujuan. Nairobi, Addis Ababa, dan Johannesburg menghadapi lonjakan penduduk miskin baru yang memperebutkan lapangan kerja informal. Sementara itu, di zona perbatasan, persaingan berebut sumber air dan padang rumput menyulut konflik antarkelompok etnis. “Kami telah mencatat peningkatan 40 persen kekerasan antarkomunitas yang dipicu perebutan air di Ethiopia utara sepanjang musim kemarau ini,” kata juru bicara UNHCR Afrika.
Ancaman migrasi bukan hanya masalah internal Afrika, tetapi juga memicu kekhawatiran negara-negara Eropa yang bakal menerima gelombang pengungsi lebih besar. Uni Eropa berencana menggelontorkan dana darurat tambahan, namun dinilai belum sebanding dengan skala krisis.
Dampak Ekonomi Lebih Luas
Di luar sektor primer, El Nino juga mengganggu rantai pasok dan perdagangan. Pelabuhan-pelabuhan di Afrika Timur yang mengandalkan jalur kereta terganggu akibat anjloknya produksi pertanian. Negara importir pangan seperti Nigeria dan Mesir harus merogoh cadangan devisa lebih besar untuk membeli beras dan gandum dari pasar global dengan harga tinggi. Lembaga pemeringkat ekonomi, Moody’s, memperingatkan bahwa beban fiskal ini dapat memperlebar defisit anggaran dan mempersulit pemulihan pasca-pandemi.
Bank Dunia dalam laporannya menyebutkan bahwa jika tidak ada intervensi cepat, El Nino dapat menghapus hingga dua poin persen pertumbuhan PDB kawasan sub-Sahara tahun ini. Angka kemiskinan ekstrem pun dikhawatirkan naik tajam, menyeret sedikitnya 5 juta orang ke bawah garis kemiskinan.
Respons Kemanusiaan dan Harapan ke Depan
Menghadapi situasi darurat ini, PBB telah meluncurkan rencana tanggap kemanusiaan senilai US$7 miliar, namun sejauh ini baru 25 persen yang terpenuhi. Negara-negara donor diminta untuk segera meningkatkan komitmen, karena setiap minggu penundaan berarti lebih banyak nyawa yang terancam. Organisasi non-pemerintah lokal dan internasional bekerja keras mendistribusikan bantuan pangan, air bersih, dan obat-obatan, tetapi akses ke daerah terpencil masih menjadi tantangan besar.
Di level kebijakan, para pemimpin Afrika dan mitra pembangunan mulai menyerukan perlunya transformasi fundamental dalam menghadapi perubahan iklim. Program asuransi bencana berbasis indeks cuaca, yang sudah diuji di Senegal dan Malawi, dianggap sebagai salah satu solusi untuk melindungi petani dari guncangan iklim. Selain itu, investasi pada irigasi tahan kekeringan, diversifikasi tanaman, dan teknologi penyimpanan air menjadi semakin mendesak.
“Namun, semua itu membutuhkan komitmen politik dan pendanaan besar. Kami tidak bisa terus-menerus mengandalkan belas kasihan dunia,” tegas Moussa Faki, Ketua Komisi Uni Afrika, dalam sebuah konferensi di Kairo. “Afrika hanya menyumbang 4 persen emisi global, tetapi menjadi korban paling parah dari kekeringan akibat El Nino. Ini saatnya keadilan iklim bergerak dari wacana menjadi aksi.”
Dengan El Nino yang diperkirakan akan bertahan hingga awal tahun depan, warga Afrika bersiap menghadapi bulan-bulan sulit. Harapan bertumpu pada datangnya hujan musiman akhir tahun dan kesadaran global yang lebih besar terhadap kerentanan benua ini. Namun tanpa langkah mitigasi yang serius, siklus bencana ini bukan yang terakhir kali menghantam.
Comments (0)