Ekspansi Data Center Inggris untuk AI Ancam Ketersediaan Air Nasional

Inggris tengah berada di persimpangan berbahaya antara ambisi teknologi dan kelestarian lingkungan. Rencana besar pemerintah untuk mempercepat pembangunan pusat data (data center) demi menyokong lonja...

Jul 28, 2026 - 06:00
0 0
Ekspansi Data Center Inggris untuk AI Ancam Ketersediaan Air Nasional

Inggris tengah berada di persimpangan berbahaya antara ambisi teknologi dan kelestarian lingkungan. Rencana besar pemerintah untuk mempercepat pembangunan pusat data (data center) demi menyokong lonjakan kecerdasan buatan (AI) kini menuai peringatan serius: krisis air bersih nasional bisa tak terhindarkan. Seiring dengan bertambahnya server-server supercanggih yang melatih model AI generatif, konsumsi air untuk pendinginan melonjak drastis, sementara sumber daya air di negeri itu kian terbatas akibat perubahan iklim dan pertumbuhan populasi.

Dahaga Data di Era Kecerdasan Buatan

Pusat data memerlukan pendinginan konstan agar ribuan prosesor bekerja optimal. Metode evaporatif, yang banyak digunakan oleh fasilitas berskala besar, menyerap dan menguapkan air dalam jumlah fantastis. Satu pusat data berkapasitas menengah dapat menelan hingga lima belas juta liter air per tahun, setara dengan konsumsi air bersih sebuah kota kecil. Dengan tren AI yang membutuhkan kluster komputasi jauh lebih padat, angka itu berlipat ganda. Beberapa riset independen menunjukkan bahwa pelatihan satu model bahasa besar saja sudah bisa menghabiskan ratusan ribu liter air tawar, terutama jika pusat data berlokasi di daerah beriklim hangat.

Inggris, yang belakangan gencar menarik investasi raksasa teknologi global, justru menempatkan fasilitas barunya di kawasan yang sudah berstatus rawan air. Pemerintah berencana melonggarkan aturan tata ruang dan perizinan lingkungan demi memuluskan pembangunan lusinan pusat data baru dalam dua tahun ke depan. Langkah ini diproyeksikan akan menggandakan kapasitas komputasi terpasang nasional, tetapi tanpa kajian mendalam soal dampak lingkungan jangka panjang.

Krisis Diam-diam: Ketika Server Menyedot Cadangan Air

Para pegiat lingkungan dan pakar hidrologi menyampaikan kekhawatiran bahwa konsumsi air pusat-pusat data akan bersaing langsung dengan kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri. Wilayah tenggara Inggris, termasuk London dan sekitarnya, sudah berulang kali menghadapi peringatan kekeringan musiman. Perusahaan air minum di kawasan itu bahkan sempat memberlakukan larangan penggunaan selang taman dan pencucian mobil. Tambahan beban dari puluhan pusat data—yang sering kali beroperasi 24 jam tanpa henti—dikhawatirkan membuat reservoar dan sumber air bawah tanah menyusut lebih cepat dari kemampuan alam mengisinya kembali.

Sebuah studi pemodelan hidrologi dari Universitas Thames Valley mengilustrasikan skenario ekstrem: jika seluruh pusat data yang sedang direncanakan beroperasi penuh pada 2029, wilayah Greater London bisa kehilangan tambahan 22 miliar liter air per tahun. Angka itu melampaui total konsumsi rumah tangga di sejumlah kota satelit. “Kami menyaksikan benturan kepentingan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kementerian Teknologi mendorong digitalisasi, sementara Badan Lingkungan Hidup berjuang mati-matian menjaga keamanan air publik,” ujar Dr. Helena Cross, peneliti kebijakan air dan iklim dari lembaga tersebut.

Ketimpangan Geografis dan Regulasi yang Tertinggal

Fenomena ini membuka perdebatan tentang keadilan sumber daya. Pusat data biasanya dibangun di lahan murah yang berdekatan dengan koneksi jaringan listrik dan serat optik—lokasi yang tak jarang bersinggungan dengan daerah aliran sungai (DAS) vital. Sayangnya, mekanisme perizinan lingkungan di Inggris belum sepenuhnya membatasi abstraksi air untuk keperluan pendinginan evaporatif. Operator pusat data hanya diwajibkan melaporkan konsumsi energi, sementara volume air yang diambil kerap luput dari pengawasan ketat.

Legislasi yang ada saat ini lebih cocok untuk era pabrik dan manufaktur klasik, bukan untuk lanskap digital yang lahap sumber daya alam secara virtual. Akibatnya, sejumlah pemerintah daerah mulai melangkah sendiri. Dewan Kota Reading, misalnya, memberlakukan moratorium sementara terhadap izin baru pusat data setelah muncul protes warga yang resah pasokan air mereka terpengaruh. Namun, langkah lokal seperti ini dianggap rapuh tanpa dukungan regulasi nasional yang menyeluruh dan bersifat antisipatif.

Jalan Tengah: Teknologi Pendingin dan Desain Berkelanjutan

Meski begitu, bukan berarti ekspansi digital harus terhenti total. Industri teknologi sejatinya memiliki beberapa opsi untuk mengurangi ketergantungan pada air. Sistem pendingin sirkuit tertutup (closed loop) dapat mengurangi konsumsi air hingga 90 persen karena air didaur ulang terus-menerus di dalam pipa tanpa perlu penguapan. Sejumlah perusahaan rintisan di Eropa juga mulai menawarkan teknologi pendingin berbasis minyak dielektrik atau immersi (immersion cooling) yang sama sekali tidak memerlukan air dan bahkan bisa menekan konsumsi listrik.

Alternatif lain adalah memindahkan beban komputasi ke negara-negara beriklim dingin atau memilih lokasi dekat sumber air daur ulang perkotaan. Lembaga riset energi dan lingkungan merekomendasikan agar pemerintah memberikan insentif pajak hanya bagi pusat data yang membuktikan efisiensi air (Water Usage Effectiveness/WUE) di bawah ambang tertentu. “Era pusat data yang mengabaikan air sebagai komoditas tak terbatas harus berakhir. Kita perlu indeks keberlanjutan yang transparan dan berlaku sebagai syarat mutlak perizinan,” tegas Dr. Cross.

Masa Depan di Persimpangan: Cerdas atau Kehausan?

Inggris punya pilihan: terus melaju mengejar supremasi AI tanpa mempedulikan lingkungan, atau merancang ulang kebijakan agar kemajuan teknologi berjalan seiring dengan kelestarian sumber daya air. Generasi mendatang tidak akan menilai kesuksesan berdasarkan jumlah pusat data atau kecepatan pelatihan model, melainkan dari kemampuan negara mempertahankan akses air minum yang layak bagi semua warganya. Pusat data mungkin adalah jantung era digital, tetapi air tetaplah nadi kehidupan yang tak tergantikan. Tanpa keduanya, kecerdasan buatan pun hanya akan menjadi legenda futuristik yang tandus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User